Senin, 22 Agustus 2016

#MatahariAkar [Tokyo Skytree]

Pada akhir Juli lalu, ada adik kelas gue di TIN yang ikutan semacam shortcourse di Tohoku University di Sendai. Berhubung Sendai itu agak terpencil jauh, jadilah adik kelas gue ini flight dari Indonesia ke Tokyo, lalu akan naik bus ke Sendai.

Oiya, adik kelas gue ini namanya Aldrian, gue sering memanggilnya Rian. Lengkapnya adalah Aldrian Kuswadi, TIN 49. Rian ini sepengamatan gue di kampus lumayan dekat dengan Septian *siapa lagi ini Septian --"*. Sempitnya dunia adalah ketika Si Ehem-nya Septian ini (namanya Natsumi) ternyata adalah mahasiswi Jepang (kampusnya di Tokyo, rumahnya di Tokyo-coret) yang pernah AIMS di IPB, bahkan cinlok mereka terjadi semester lalu ketika Natsumi AIMS di IPB.

Gue pribadi nyaris selalu mengiyakan ajakan ketemuan dari teman di Indonesia yang kebetulan sedang berkunjung ke Tokyo. Rasanya seperti dijenguk. Seneng ajaaa~, Alhasil pada 23  Juli lalu, kami bertiga (gue, Rian, dan Natsumi) berjalan-jalan di sekitaran Tokyo.

Semenjak kenal, sesungguhnya gue ga banyak ngobrol dengan Rian. Salah satu obrolan terbanyak kami adalah sekitar 2 tahun lalu, ketika angkatan 49 jadi panitia Hagatri. Kebetulan Rian ini jadi Kadiv Medis Hagatri sedangkan di tahun sebelumnya gue adalah rakyat jelita di Medis Hagatri, jadilah kami sempat ngobrol banyak meskipun isi obrolannya ga jauh-jauh dari revanol, promaag, oxycan, biskuit, teh manis hangat, tandu, pita, pelatihan medis KSR, dan angket riwayat penyakit.

Kebetulan yang membuat makin seru, agenda jalan kali ini adalah naik ke Tokyo Skytree, horeeeeee..

Menurut Wikipedia, Tokyo Skytree ini adalah menara tertinggi di dunia serta menjadi bangunan tertinggi kedua setelah Burj Khalifa di Dubai. Fungsi lain dari Tokyo Skytree selain objek wisata adalah menara pemancar beberapa channel radio dan channel TV. Gue sudah sejak lama ingin naik ke Tokyo Skytree, tapi ga nemu-nemu teman untuk diajak barengan.

Ketika autumn lalu gue pernah berfoto dari Sensou-ji Asakusa, berlatarkan Tokyo Skytree.

Taken by Indria Wahyu Mulsanti

Di penghujung winter, masih lengkap dengan coat tebal, gue juga pernah berfoto lagi berlatar Tokyo Skytree setelah sepanjang siang ngebolang bersama Tiwi dan Aul.

Taken by Khoirina Retno Pratiwi

Rute ke Skytree ini mudah. Dari Sensou-ji, masuk ke subway Asakusa Line dan naik kereta sampai Stasiun Oshiage. Bahkan sejak begitu sampai tap gate Asakusa Line aja langsung ada arahan harus ke platform mana untuk menuju Skytree. Dari platform tersebut, semua kereta yang lewat akan berhenti di Oshiage, ada poster peberitahuan juga bahwa semua kereta yang lewat akan berhenti di Oshiage, jadi ga perlu bingung. Begitu turun dari kereta juga ga perlu bingung karena bertebaran penunjuk arah menuju Skytree. Makin ga perlu bingung karena instruksi menuju Skytree tersedia dalam Nihongo dan English.

Untuk naik ke atas Skytree, kita 'hanya' perlu antre tiket bersama-sama dengan rombongan kita yang akan naik, lalu naiklah ke atas dengan lift. Mengapa gue mengatakan 'hanya'? Karena antre beli tiketnya aja udah dua jam coy, hahaha. Mungkin kalau weekdays antre-nya akan lebih singkat, wallahu'alam bisshawab.

Mengapa harus bareng-bareng antre-nya? Ga bisa nitip ke seorang, trus sisanya nungguin sambil duduk-duduk? Karena setelah selesai dari konter tiket, kita akan langsung bergerak menuju lift, jadi sekali jalan gitu. 

Jangan khawatir, di konter tiket kita bisa beli tiket sendiri-sendiri kok, bilang aja ke si Mbaknya 'betsu betsu' (artinya sendiri-sendiri) jadi ga perlu repot utang-piutang dan talang-talangan dana.

Oiya, ada dua tingkatan di Tokyo Skytree, yang pertama adalah 350 meter. dari bawah ke tingkatan 350 meter ini harga tiket lift-nya 2060 yen. Tingkatan berikutnya adalah naik lift lagi ke 450 meter dari 350 meter, harga tiketnya 1030 yen. Waktu itu gue hanya naik sampai 350 meter aja.

Mahal?
Heummmmm.. no comment deh gue
Kalau mau mencoba mengonversi harga tiketnya ke rupiah, sok mangga~
1 yen sekarang ini setara dengan 120an rupiah
Tapi gue udah sejak lama ga pernah mengonversi harga di Jepang (khususnya Tokyo) menjadi rupiah, biar ga sakit hati..

Teknologi liftnya canggih coy *yaiyalah*. Ketika naik lift ke level 350 meter, kalau kuping ga berdenging, gue ga akan sadar bahwa gue sedang dalam perjalanan cepat ke arah atas. Ketika turunnya juga sama. Getaran liftnya ga kerasa sama sekali. Interior lift-nya juga didekorasi dengan cantik, jadi bisa liat-liat desainnya, hahaha *tipikal anak ga ada kerjaan*.

Ketika itu hari sedikit berawan. Tapi dari atas Skytree, gue tetap bisa melihat seluruh Tokyo kok. Cantik banget, Masya Allah.

Maafkan skill dan kamera yang kurang mumpuni ^.^v

Selfie yang backlight~

Anyhow, jargon divisi Medis Hagatri 2012 adalah,
"Get well soon, dek!!"
Lengkap dengan senyum dan tangan di depan dada sebagai visualisasi dari emot peluk ({}). Dengan ga tau malu, gue dan Rian berpose seperti itu pada ketinggian 350 meter di atas permukaan tanah.

Get well soon, dek!!

Di level 350 meter itu terdapat dua lantai. Di lantai bawah ada spot bernama 'glass floor' *atau floor glass yak? Heummmmm*. Itu adalah beberapa buah lantai kaca *nya heu euh atuh* berukuran sekitar 50 x 50 cm di mana kita bisa melihat ke arah bawah, literally bawah.

Ya Allah, semoga ga ada yang ngintip dari bawah, soalnya hamba-Mu ini pakai rok

Di Skytree, seperti objek wisata di Jepang pada umumnya, juga ada toko souvenir. Selain toko souvenir khas Skytree, juga masih banyak kios lain di dasar Skytree termasuk Pokemon Center dan sebuah kios yang menjual pernak-pernik unyu macam Hello Kitty.

Epilog
Ini ada sedikit oleh-oleh foto *da apa atuh gue mah bukan anak IG*.

Selfie yang ga backlight, dari bawah!!

Foto yang bikin seorang praktikan ngejapri karena envy, haha

Iklan Peps*d*nt

After Credit
Tokyo Skytree:
Checked!!

Senin, 15 Agustus 2016

#MatahariAkar [Taifun]

Berikut ini dilampirkan screenshoot percakapan antara dua orang Bogor yang sedang terdampar sekitar 5800 km dari Bogor.

Taifun, coy~

Orang (yang pernah tinggal di) Bogor sepertinya akan paham.
Hehehe


いじょう です
(read: Ijou desu; means: that's all)

Selasa, 09 Agustus 2016

Percaya

Kisah perizinan ke Ibu-Ayah terkait Fujinobori jilid 1 lalu sebenarnya lumayan panjang. Jauh sebelum Kak Fima ngajak, sudah ada teman PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang) yang mengajak Fujinobori. Mei lalu ketika Ibu datang, gue melancarkan misi rahasia untuk izin naik. Mulai nyebut-nyebut tentang Fuji cuma bisa didaki ketika summer lah, naiknya ga serepot naik di Indonesia lah, dan lain sebagainya. Respon saat itu adalah positif.

Ketika diajak Kak Fima sepekan sebelum naik, gue kembali izin ke orang rumah mengenai Fujinobori ini. Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan, ada satu pertanyaan pamungkas yang membuat gue jadi banyak berpikir setelahnya,
"Kakak percaya dengan kakak kelasnya?"
Setelah gue jawab 'Percaya', lalu turunlah izin.

Selanjutnya gue jadi mikir banyak tentang hal 'percaya' ini. Urusan naik gunung yang 'cuma' dua hari aja gue harus percaya dulu dengan orangnya, baru diizinkan. Apalagi urusan separuh agama yang kontraknya langsung dengan Allah, disaksikan malaikat, dan berlaku sepanjang zaman? Bahkan setelah nanti penanggalan udah ga ada sekalipun, kontraknya masih berlaku.

Semoga nanti ketika gue mengajukan suatu nama, jika selanjutnya ada pertanyaan,
"Kakak percaya dengan Si Ehem?"
Setelah gue jawab 'Percaya', lalu turunlah izin.


Keterangan:
Di keluarga besar dari Ibu, para om dan tante gue sering menggoda generasi gue dan sepupu gue dengan menyebut 'Si Ehem' untuk membicarakan mengenai kecengan/pacar/teman-tapi-mesra/dan sejenisnya. 'Si Ehem' sendiri diambil dari bunyi berdehem yang sering dipakau untuk ngeledek-ledekin hal yang berbau sejenis itu.

Rabu, 03 Agustus 2016

#MatahariAkar [3776 MDPL Part 1]

3776 MDPL itu apa?
3776 MDPL adalah tingginya Gunung Fuji (for short, let's call Gunung Fuji as Fujisan). Fujisan adalah gunung tertinggi di Jepang.

Kenapa part 1?
Karena sedang membuat rencana untuk mendaki Fujisan lagi di pertengahan bulan Agustus. Mohon doa semoga turun izin dari orang tua, aamiin *bisaan emang, sekalian minta didoain*. For short, let's call 'mendaki Fuji' as 'Fujinobori'; Nobori, noboru (登る) artinya mendaki.

Ceritanya, pada 15-16 Juli 2016 lalu gue Fujinobori bersama Kak Fima dan seorang teman kantornya. Beberapa hari setelahnya mereka berdua akan pulang ke negara masing-masing, sehingga yang paling memungkinkan adalah tanggal 15-16 Juli itu.

Kak Fima ceritanya sangat ingin Fujinobori. Ya cetakan WL lah ya, nurun ke gue. Kak Fima baru ke Jepang September lalu sedangkan Fujisan dibuka untuk dinaiki hanya di bulan Juli dan Agustus. Mungkin Fujisan hanya dibuka dua bulan per tahun dengan alasan keamanan pendaki. Suhu summer di gunung ketika malam hari aja ga beda jauh dengan winter Tokyo di malam hari. Kalau Fujinobori di musim dingin, idih, ngebayangin dinginnya aja gue ogah. Akhir pekan pertama di bulan Juli masih Ramadhan, adapun weekend keduanya gue udah ada agenda nonton kembang api, maka dari itulah akhirnya baru naik di tanggal 15 dan 16 Juli.

Sebelum naik, banyak instruksi yang diberikan Kak Fima ke gue via chat messanger, ya instruksi biar olah raga lah, nyari barang ini-itu lah untuk pendakian, diskusi waktu dan tempat ketemuan lah, dan banyak lainnya. Sebelum naik, kami sempet ketemuan lagi untuk nyari headlamp untuk kami dan sepatu outdoor untuk Kak Fima. Ujung-ujungnya gue malah naksir carrier ukuran imut, hanya 28 liter. Warna biru, cantik, suka banget sama birunya. Pas-pasan tas ransel biru gue baru putus talinya ketika Ramadhan. Huffft, perempuan mah emang suka gitu. Niat ga belanja, ujung-ujungnya belanja paling heboh. Haha..

Perlengkapan naik; Pooh dan beruang tidak termasuk

Kalau dengar-dengar cerita dan baca blog orang tentang Fujinobori, katanya ga sesulit naik gunung di Indonesia, maka dari itulah carrier imut itu gue beli. Tujuan pertama adalah untuk Fujinobori. Tujuan keduanya untuk bawa barang pas pulang ke Indonesia, tujuan ketiganya adalah untuk piknik dan jalan-jalan yang cuma sehari-dua-hari saja.

Winter coat gue sudah dibawa pulang oleh Ibu ketika Mei lalu sempat main ke Tokyo, alhasil gue meminjam winter coat Mbak Indri untuk naik ini. Jas hujan juga minjem seorang senpai lain. Headlamp dibeliin. Sepatu running udah beli beberapa bulan lalu. Carrier baru beli 4 hari sebelum naik.
Kelakuan banget kan..
-______-

Gula merah yang ga abis-abis karena cuma sekali-kalinya bikin bubur kacang hijau, dibuang sayang, mau dipakai masak tapi skill masaknya cupu, akhirnya gue bawa naik gunung untuk asupan energi sederhana yang mudah dicerna. Bawa juga madu hasil shopping di toko 100円. Pengalaman naik Gede tahun lalu bawa air 3 liter, sehingga Fujinobori ini gue juga bawa air 3 liter.

Tanggal 15 Juli lalu, gue langsung ngacir setelah pulang kuliah jam 14,30 JST. Sambil ngebut naik sepeda dari Koganei ke Fuchu, gue beli onigiri 8 biji (buat makan malam dan besok paginya), dan langsung mandi setelah sampai kamar. Setelahnya langsung ngacir lagi ke stasiun untuk naik kereta ke tempat ketemuan dengan Kak Fima, Stasiun Gotemba. Jauh bro, sekitar 85 km, 2 jam lebih naik kereta. Akhirnya gue berhasil sampai Gotemba jam 17.55 dan jadwal keberangkatan bis ke Fujisan adalah jam 18.10. Kalau kata gmaps, dari kamar ke Gotemba rutenya seperti ini..

Mayan uga~

Di Fujisan ada 10 pos, dengan pos 1 di bawah dan pos 10 adalah di puncak. Kendaraan dapat naik hingga pos 5. Setelah pos 5, silakan berjalan kaki sampai atas. Bis yang kami naiki itu adalah bis menuju pos 5. Kalau naiknya paket wisata Fujisan, maka bis akan menjelajah dari pos 1 hingga pos 5.

Menurut cerita mbak-mbak pemandu paket wisata (inipun gue diceritain senpai yang pernah ikutan paket wisata), pos 1 hingga 10 posisinya ditentukan dari kebutuhan lentera selama pendakian. Ketika lentera pertama habis, maka di situlah posisi pos 1. Lalu ganti lentera, ketika lentera kedua habis maka di situlah pos 2, dan begitu seterusnya.

Kami bertiga mulai naik lewat dari jam 7an malam dengan headlamp menyala. Selangkah demi selangkah. Beberapa kali gue dan DJ (temannya Kak Fima) mendapati Kak Fima tertinggal jauh di belakang. Padahal saat itu belum juga sampai pos 6. Setelah beberapa kali fase menunggu-ketemu-ketinggalan lagi-nunggu lagi-dst, akhirnya kami dapati cahaya lampu di kejauhan, tak lama kemudian muncul Kak Fima.

Pada ketertinggalan yang kesekian kali itu, dengan muka pucat Kak Fima bilang bahwa dia ga kuat. Sudah lama ga latihan fisik dengan keras, efek terlalu lama duduk di balik meja kerja. Nungguin dirinya hanya akan bikin langkah kami jadi luar biasa terhambat. The most surprising thing is Kak Fima bilang bahwa kami ga perlu nungguin dia. Kak Fima ga akan sampai puncak, mungkin akan berhenti di pos terdekat, pos 6. Kalau kuat akan lanjut ke pos 7 besok paginya. Nanti setelah pagi kami akan kontak-kontakan kembali untuk ketemuan pulang.

Di situ gue diem.
Ga percaya aja..
Seorang kakak kelas yang gue tau banget deh 10 tahun lalu beliau keadaan fisiknya kayak apa, bisa jalan kaki 4 jam nyaris tanpa berenti, sekarang bahkan belum sampai 2 jam berjalan dengan trek agak terjal sudah ga kuat.

Setelahnya ada prosesi yang agak panjang dan cukup drama. Kak Fima personally menitipkan gue ke DJ dan minta maaf ke gue karena ga bisa ikutan sampai atas.
"She's supposed to be my responsibility. Could you please take her care for me?"

Gue susah buat percaya dengan orang lain. Tapi di WL gue menemukan beberapa alumni yang bisa gue percaya sepenuhnya dan Kak Fima termasuk di dalamnya. Bahkan saking percayanya sehingga gue berani diajak naik gunung paling tinggi di negara orang sekalipun. Adapun di Pandawa, gue hanya menemukan seorang Purna yang bisa gue percaya sepenuhnya.

Setelah pernyataan bahwa Kak Fima ga bisa ikut ke puncak Fuji, ga berarti rasa percaya gue hilang. Bahkan sama sekali ga berkurang. Berhentinya Kak Fima di tengah jalan membuat gue kembali belajar mengenai quote legendaris Smansa,
Jangan batasi diri, tapi tau batasan diri
Bentuk nyatanya ternyata benar-benar sangat banyak jenisnya.

Kami (gue dan DJ) akhirnya tiba di puncak setelah matahari terbit. Kurang lebih 12 jam waktu yang kami butuhkan untuk naik. Seharusnya ga selama itu, tapi kami sempat tidur di beberapa pos karena capek. Persis sebelum naik, kami punya aktivitas masing-masing dan memang belum ada yang sempat boci.

Kalau baca di blog orang-orang, rata-rata hanya membutuhkan 6-8 jam aja untuk naik dari pos 5 sampai puncak. Salah satu hal yang menghambat langkah gue (DJ selalu di depan gue dan kayaknya dia ga capek-capek deh) sepertinya adalah air 3 liter.
((TIGA KILO MEEEEN))

Berhubung ini summer, subuh itu mulai jam 3an dan matahari terbit sekitar jam 5.

Lovely dawn

Matahari terbit ketika kami ada di pos 8. Kata tulisan di sekitar situ sih 3300 MDPL. Hal yang menakjubkan di pos 8 adalah ada wifi.
((3300 MDPL DAN ADA WIFI))
Negara macam apa iniiiii -____-

Matahari terbit di gunung tertinggi di negara matahari terbit

Ketika matahari terbit, untuk pertama kalinya setelah sembilan-setengah-bulan hidup di Jepang, gue melihat orang jepang menyembah matahari terbit. Setelah matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan sampai puncak. Ceritanya, gue lupa foto-foto selama di puncak karena ngantuk, jadi foto-fotonya agak ga jelas apa..

Di dekat kawah di puncak gunung

Monumen yang sepertinya bilang bahwa sudah berada di atas Fujisan

Sempat-sempatnya berpose sebelum turun

Kalau kata teman gue sih ini busa cucian mesin cuci~

Peta puncak Fujisan

Bendera negara penjajah di puncak gunung tertinggi di negaranya

Di tiap pos pemberhentian ada toilet tapi sumfeh ga recommended banget. Ada klosetnya, tapi ga ada air di klosetnya, adanya jerami doang jauh di bawah. Bahkan ketika melongokkan kepala ke atas kloset aja jeraminya keliatan. Jadi semua hasil buangan manusia itu akan jatuh ke atas jerami dan periodically jeraminya akan dibakar.

Katanyamah eco friendly. Tetep aja geleuh --"
Gue yang jarang geleuh aja sampai bisa geleuh --"

Satu hal lagi, toilet di sini bayar, men. Pertama kalinya nemu toilet bayar di Jepang ya di gunung ini. Toilet di seluruh pos bayar 200 yen, kecuali di puncak, 300 yen.

Setelah duduk cantik dan tidur (lagi) di puncak, kami memutuskan untuk turun gunung. Ada rute yang dibuat khusus untuk turun. Medan yang berpasir-kerikil-baru membuat sesi turun gunung menjadi agak sedikit lebih mudah, meskipun sakit di ujung-ujung jari kaki karena digunakan untuk mengerem. Gunung yang sekian lama didaki itu dituruni hanya kurang dari 3 jam.

Rute turunnya hanya serosotan doang di pasir, haha. Seru deh. Tapi tetep aja kalau apes bisa menginjak batu dan kerikil dan jatuh guling-guling. Gue berkali-kali kesandung, telapak tangan udah sempet berdarah, dan mayan juga sih sakitnya setelah nyaris guling-guling.

Akhirnya di pos 5 kembali ketemu dengan Kak Fima, lalu kami bergerak menuju halte bis untuk naik bis yang akan membawa kami menuju Stasiun Gotemba. Dari Stasiun Gotemba, selanjutnya gue pulang menuju rumah.

Muka gosong di stasiun Gotemba, menuju Tokyo >.<

Menurut pemaparan teman yang pernah naik Mahameru, sepertinya medan Fuji ga beda jauh dengan Mahameru. Berpasir, berkerikil, curam. Di bagian nyaris puncak, medannya berbatu-batu besar. Ada saat-saat di mana gue harus memanjat untuk bisa naik, ga kuat kalau hanya mengandalkan kaki saja, tangan juga harus ikutan. Ada juga saat di mana angin bertiup luar biasa kencang sehingga rasanya takut terbang kebawa angin. Jangankan takut terbawa angin, rasanya bergeser sejauh tiga puluh senti  dari tempat kaki berpijak aja udah takut, itu berarti sudah keluar dari rute dan medan curam berpasir bisa bikin kita menggelinding ke bawah dengan mudahnya.

Ada suatu masa di tengah malam itu gue dan DJ tersesat. Seriusan rasanya mau nangis. Di kejauhan melihat lampu dari headlamp yang berbaris rapi, itu rute yang benar. Lalu kami berusaha melewati hamparan pasir dengan kemiringan curam untuk sampai ke tempat yang benar. Saat itu, jalan tegap aja ga bisa, harus setengah merangkak saking curamnya. Setiap melangkah, merosot ke bawah 10-20 cm karena pasir semua dan curam. Jarak 100 meter aja gue tempuh lebih dari 5 menit.
Alhamdulillah terlewati..

Kecuramannya segini, cuy ~


----------


Penutup
Tanggal 13-14 Agustus 2016 mendatang, PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia di Jepang) akan mengadakan Fujinobori dan gue direkrut jadi panitia. Sebenarnya ajakan Fujinobori PMIJ ini udah ada sejak lama. Bahkan ketika Ibu datang di bulan Mei itu gue sudah sempat melempar isu mengenai naik Fuji. Ketika itu responnya positif. Jadi sebenarnya persiapan naik gue ini adalah untuk naik bersama PMIJ, hehe. Makanya ini sedang dalam proses izin lagi, semoga boleh lagi.
Aamiin..

Kesempatan kedua, men. Kesempatan kedua tidak akan menjadi lebih baik kalau kita menjalankan kesempatan tersebut dengan cara yang sama dengan kesempatan pertama. Maka dari itu gue belajar banyak dari kesempatan pertama Fujinobori. Jangan lupa bawa sunblock, karena muka sudah kebakar di penanjakan yang pertama.

Naik di pertengahan Agustus nanti gue ga akan bawa air 3 liter, mungkin hanya akan 1,5 atau 2 liter aja. Ga akan bawa baju ganti sepasang dan baju naik sepasang, gue bawa baju untuk naik aja karena nanti ganti pas pulang akan pakai baju pas berangkat aja (asalkan bajunya cuma dipakai dari kamar ke tempat janjian lalu ke pos 5, jadi masih belum kotor). Berat men.

Semoga kesempatan kedua Fujibonori ini bisa lebih baik, lebih ringan, lebih praktis, lebih gesit, apalagi ditambah tanggung jawab tambahan bawa rombongan naik sekitar 10 orang.
Aamiin.


----------


After Credit
Kalau ada yang nanya mengapa gue mau-maunya naik gunung yang sama untuk kali kedua dalam jangka waktu cuma selisih 4 pekan, gue punya jawabannya.

Naik gunung mengajarkan gue untuk well prepared dalam melakukan sesuatu. Gue juga belajar untuk memilah-milah, mana yang penting serta perlu dibawa, dan mana yang enggak, terbukti dari banyaknya benda di Fujinobori pertama yang akhirnya akan gue tinggalkan ketika naik untuk kedua kalinya.

Naik gunung juga mengajarkan gue untuk menghadapi masalah. Fujisan kalau dilihat dari jauh rasanya tinggi. Pake banget. Tapi ternyata kalau dijalani, selangkah demi selangkah, asalkan ga berhenti, akan ada saatnya berhasil didaki. Masalah dalam hidup juga seperti itu kan? Di awal kelihatan besar dan rumit, tapi setelah diuraikan satu-satu, dikerjakan sedikit-sedikit, akhirnya selesai juga.

Melakukan sesuatu lebih dari sekali (apalagi dalam jangka waktu yang cukup dekat) membuat gue mengukur diri, sebenarnya gue belajar apa sih dari kegiatan yang pertama? Apakah gue melakukan kesalahan yang sama? Kebodohan yang sama? Keteledoran yang sama? Apakah gue melakukannya dengan lebih cerdas? Lebih efisien? Lebih baik? Lebih bertanggung jawab? Lebih ga manja? Lebih ga ngerepotin?

Manusia yang beruntung adalah yang lebih baik daripada masa lalunya kan?
Naiknya gue sampai dua kali ini adalah untuk melihat,
Apakah gue sudah jadi orang yang beruntung?
Semoga sudah
:)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Selasa, 26 Juli 2016

Level: Jauh di Bawah Beginner

Akhir-akhir ini, khususnya sekitar 6 bulan terakhir, entah mengapa kok rasanya gue banyak dapat pelajaran tentang urusan separuh agama. Mulai dari cerita teman sekelas selama dua tahun di SMA yang dibawa suaminya ke Jepang setelah nikah lah, blogwalking (padahal ke tumblr dan wordpress juga, bukan blog doang, hehe) lah, sampai kisah kakak kelas pas SMP juga ada.

Bagi gue yang levelnya masih jauh di bawah beginner, rasa-rasanya saat ini baru bisa menuliskan doang. Ilmu diikat dengan menulis kan? Semoga suatu saat nanti bisa kembali dibuka dan bermanfaat khususnya untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain.

Sejauh ini ada beberapa hal yang gue pelajari:

1. Gelas
"Kata ibu saya, perempuan itu kayak gelas. Kalau kami (laki-laki) ga rajin-rajin ngisi, nanti akan ada orang lain yang ngisi."
Fima Firdaus Firman, 2016

Teori gelas ibunya Kak Fima ga beda jauh dengan teori intensitas gue bahwa intensitas dapat menggalahkan sangat banyak hal.

Terus ini hubungannya apa?
Hubungannya adalah hati-hati dengan intensitas. Kalau status udah taken, jangan main api bikin sumber intensitas dengan orang lain lagi. Kalau belum siap dengan langkah jangka panjang, jangan main api juga menciptakan intensitas ke orang lain. Apalagi perempuan gampang berharap, jadi hati-hati aja dengan urusan intensitas.

2. Rezeki akan datang dari Allah
"Memang rezeki itu dari Allah, Dil. Ketika laki-laki memang niatnya baik mau ngelamar mah Allah bakal mencukupi rezekinya. Beberapa saat sebelum gue nikah, entah gimana ada lowongan beasiswa yang nominalnya lebih besar, Kak Anjar daftar dan keterima. Ya berarti selisih antara beasiswa baru dan beasiswa lamanya kan bisa dibilang sebagai rezeki gue.
Trus juga penghuni apato (yang ditempatin sekarang) sebelum ini mau pindah, trus minta diinfoin ke mahasiswa Indonesia karena ibu kosnya percaya sama orang Indonesia. Apatonya murah, buat couple (bukan apato single), walaupun tempatnya agak jauh. Kak Anjar daftar dan dapet. Emang rezekinya mah akan ada aja, Dil."
Afina Nur Fauziyyah, 2016

"Saya juga salah, sih. Waktu itu niatnya nabung dulu, nikahnya nanti. Trus ya gitu deh.. Akhirnya setelah deket dengan istri saya yang ini, saya niat cuma mau pacaran setahun. Kalau cocok, lanjut. Kalau ga cocok, ya udah. Eh ternyata cocok, ya udah saya niat mau nikah sama dia. Udah sempet bilang ke calon mertua, minta maaf, bisa jadi nikahnya ga di gedung karena tabungan saya belum cukup. Tapi rezeki mah dari Allah. Ga lama abis saya niat mau nikah, saya dipindahin kerjanya ke China. Dengan nominal gaji yang baru, itu alhamdulillah bisa ditabung banyak buat nikah."
Fima Firdaus Firman, 2016

Terus apa hubungannya?
Hubungannya adalah, ketika kita memang memiliki niat baik untuk menyempurnakan setengah agama, untuk menjalankan sunnah rasul, untuk berusaha tidak mendekati zina, untuk membangun keluarga rabbani, maka maju teroooooos. Pantang mundur. Insya Allah, pertolongan Allah akan datang dengan cara yang tidak disangka-sangka. Terkadang ada banyak skenario langit yang susah digapai dengan nalar penduduk bumi.

3. Bukan karena merasa siap
Somehow, kalau mau nunggu siap, sepertinya pada dasarnya manusia akan sangat sulit sekali merasa siap. Ketika kuliah, bilangnya mau nikah abis kerja. Ketika sudah kerja, bilangnya mau nikah kalau sudah mapan. Definisi mapan itu luas coy~

Ketika masih ngekos atau ngontrak, bilangnya mau nikah kalau udah punya rumah sendiri, minimal sedang ngusahain cicilan rumah lah. Kalau udah punya cicilan rumah, bilangnya mau nikah kalau udah punya cicilan mobil. Gitu aja terus sampai calonnya ditikung oleh orang lain.

Ada saatnya gue berpikir bahwa kita ditempatkan dalam suatu keadaan oleh Allah bukan karena kita merasa siap berada di dalam keadaan itu. Bukan juga karena Allah tau kita sudah siap untuk berada di fase hidup tertentu. Tapi bisa jadi karena Allah ingin kita ada di fase tersebut dan menjalaninya, Allah ingin kita jadi siap dengan fase tersebut.

Contoh kasus nyata adalah diri gue sendiri. Gue haqqul yaqin sebelum berangkat ke Jepang ga bisa masak. Allah juga tau bahwa gue sebelum berangkat ke Jepang ga bisa masak.

Lalu kenapa gue bisa-bisanya lolos exchange ke negara yang mayoritas penduduknya non muslim dan makanan ga halal betebaran di mana-mana?
Bisa jadi, karena Allah ingin gue naik kelas, Allah ingin gue jadi bisa masak. Selanjutnya, yang bisa gue lakukan adalah belajar masak soalnya pilihannya cuma dua, masak lalu bisa makan, atau selalu beli makanan di luar dan dalam sebulan uang beasiswanya abis untuk makan doang.

Simpulan
Bersegera itu beda dengan terburu.
Bersiap itu tanda bahwa kita belum siap.
Kalau belum siap trus gimana? Ya harus belajar.
Jangan melewatkan kesempatan, kalau ada orang baik dengan niat baik ya kenapa enggak? deuh, kayak yang udah ada aja deh dil.
Jangan lupa libatkan Allah,

Bismillaahirrahmaanirrahiim
:)

Rabu, 13 Juli 2016

[Repost] Kak Fima

[Tulisan ini sudah pernah gue post di FB. Tapi berhubung gue mau mengarsipkan tulisan di blog, jadilah dipost ulang di blog dengan sedikit koreksi, tambahan, dan pengurangan.]

Sudah hampir 11 tahun saya kenal Kak Fima Firdaus Firman. Sayangnya, tidak semua kenangan dengan beliau itu rasanya manis (kalau ga mau dibilang 'mayoritas ga manis'). Bersama Rizka Maulidiasari, Ratu Wilhelmina O, Novi Nurfitriyani, Diajeng Fajar Kirana, Larasati Eka Septari, Rissa Marchelina, Latiefah Nurul Fitriani, Mukti Santoso, Sendika Panji Anom, Muhammad Satya Wirasajati, Ilham Abdul Halim, dan Herdian Satrio Nugraha, kami pernah ngerjain hal aneh-aneh. Ya push up lah, lari sampai ada yang (nyaris) pingsan lah, sit up, squat jump, jalan jongkok, back up, dan lain sebagainya ketika dahulu ikutan Winaya Lokatmala (Pramuka SMP 4 Bogor).

Lari pagi keliling Bogor Tengah, pernah. Push up diselang-seling dengan makan nasi (sekian hitungan push up-sekian hitunga makan nasi-gitu terus) juga pernah. Dilempar botol aqua pernah, mulai dari yang kosong, isi air, isi pasir (lupa ini botol pasir apa di Pandawa yak?) juga pernah. But what doesn't kill you make you stronger, and I'm quite sure that I'm stronger than me-10-years-ago.

Salah satu yang saya ingat, games favorit Kak Fima sejak saya SMP adalah main urut-urutan. Adaaaaaaaa aja yang bisa diurutin di dalam regu Pramuka, mulai dari ukuran sepatu lah, jarak rumah ke sekolah lah, tinggi badan, berat badan, tanggal lahir, apa lah segala bisa diurutin.

Hingga 4 tahun setelah lulus SMP, saya ikutan Hagatri (anak TIN pasti tau lah ini apaan). H0 Hagatri waktu itu ada pengenalan alumi secara sekilas lalu pemilihan ketua angkatan. Ketika itu ada kak Fima dan saya kaget,
'Ebuset, Kak Fima ternyata anak TIN'
Saya ketika SMP cuma tau bahwa beliau kuliah di IPB. Just it.

Ga disangka, ternyata ketika Kak Fima melihat saya di barisan Hagatri, beliau juga membatin,
'Wah, ada anak ini nih..'
Pas lah ya~
Haha

Hal yang membuat saya makin membatin..
'Nah loooooooh'
..adalah ketika saya tau bahwa beliau yang akan memegang sesi pemilihan ketua angkatan. Selanjutnya, seluruh TINFORMERS 48 mungkin masih ingat bahwa saat itu kami diminta mengurutkan tanggal lahir dari termuda sampai tertua, membentuk spiral, yang termuda ada di tengah lingkaran.

Begitu Kak Fima selesai menyebutkan instruksi dan memulai hitung mundur, yang ada di pikiran saya cuma satu,
'Yaampun, 4 taun kagak ketemu, games-nya masih urut-urutan aja'
Hehehe

Setelah kenal 11 tahun dan biasanya diisi dengan kenangan yang agak kurang manis, akhirnya hari Minggu lalu kami kembali ketemuan di Tokyo dan saya ditraktir ramen halal di Shinjuku!! HOREE!! Alhamdulillah :)
Udah pernah 4 kali makan tapi baru sekali ini foto di tempat ramen
*ibu di foto itu adalah ibu yang punya resto ramen*

Sepanjang hari juga kami ngobrol banyak. Rentang obrolan selama hampir 11 tahun rasanya belum semua terbahas sepanjang siang :D

Berbicara tentang WL, jadi ingat sesuatu,
Terima kasih banyak ya Kak Fima, Kak Deden Kuswanda, Kak Faisal Muharram, Kak Hendra, Kak Rizki Amalia, Kak Anugrah Ramadhan Syah, angkatan Kak Noverta-Niken Kinanti-Nur Novilina, angkatan Kak Pamella Fricylia, dan segenap ambalan serta alumni Pramuka SMP 4 Bogor (hampura yang ga kesebut), apalagi yang pernah secara langsung 'menangani' saya dan angkatan saya.

Terima kasih sudah membuat adik-kecilnya-yang-baru-lulus-SD belajar banyak, menyerap banyak, terpoles banyak, berproses banyak ke arah yang lebih baik, dan banyak-banyak hal baik lainnya sehingga sanggup menghadapi dunia yang ternyata setidak-nyaman-ini. Ga banyak yang bisa saya dan kami lakukan selain mungkin mendoakan agar ilmu-ilmu (yang dahulu itu) bermanfaat dan pahalanya mengalir sampai hari akhir.
Aamiin :)

Berbicara tentang WL juga, jadi ingat sesuatu..
..bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, meskipun itu pengalaman orang lain. Jadi, jangan pernah bosan belajar dari siapapun dan kapanpun. Jangan ulangi cara yang sama kalau ga mau menghadapi kegagalan atau kesalahan yang sama. Karena sesejatinya itu yang saya pelajari sejak 11 tahun lalu,

Winaya Lokatmala,
Belajar dari hal kotor,
Belajar dari kesalahan.

Selamat belajar :)

Rabu, 29 Juni 2016

Dua Tiga

Alhamdulillahirabbil 'alamin karena atas rahmatNya maka seorang Dila masih diberikan umur hingga 23 tahun (9 bulan) di bumi ini.

Kue ulang tahun yang dibeli sendiri oleh yang ulang tahun

INGAT!!
Dua potong kue tidak harus selalu berarti untuk dimakan bersama pasangan.

Jadi ceritanya ada hal yang berhasil gue pelajari di momen ulang tahun kali ini. Tiga tahun lalu, ketika gue ulang tahun kedua-puluh, ada salah seorang teman baik gue yang memberikan sebuah buku sebagai hadiah ulang tahun. Bukunya bagus, luar biasa bagus, kumpulan cerpen Sapardi Djoko Damono, tapi bukan bukunya yang mau gue bahas.
#yaelah.

Di halaman awal buku tersebut, teman gue itu menulis sebuah ucapan ulang tahun. Gue tidak hapal redaksi persisnya seperti apa (karena bukunya ditinggal di rumah juga) tapi gue ingat secara garis besarnya,
..Semoga semakin bijaksana tentang kapan harus bicara dan kapan harus diam..
Sejujurnya gue langsung diem pas baca ucapan itu.

Dari dulu gue tau bahwa lidah tak bertulang dan omongan gue itu bukan cuma sekali-dua-kali aja nyakitin orang lain. Berkali-kali. Bahkan ga lama abis ulang tahun kali itu aja gue dipundungin oleh salah seorang teman baik gue selama hampir setahun gara-gara lupa pake saringan di depan mulut.

Dari dulu gue pengen jadi agak sedikit lebih bener untuk perihal berbicara ini tapi ga nemu aja momen yang pas. Dasar Dila, mau jadi lebih bener aja nunggu momen dulu. Berhubung umur dua puluh itu agak sedikit punya momentum (umur jadi kepala dua), akhirnya gue memutuskan untuk mulai pay attention dengan perihal berbicara.

Sampai saat ini gue pribadi merasa udah agak lebih baik untuk urusan berbicara. Dalam banyak kasus udah sempat mikir dulu sebelum nyerocos dan gue sangat mensyukuri hal itu. Gue juga belajar mengenai timing untuk ngomong dan lagi-lagi mensyukuri hal itu. Meskipun kadang masih sering menyebalkan, setidaknya ini sedang berusaha, semoga bisa lebih baik ke depannya. Aamiin.

Berbicara mengenai perihal berbicara ini, gue semakin yakin bahwa gue MEMANG HARUS pay attention dengan urusan ini. Ada beberapa kasus yang membuat gue yakin bahwa kemampuan sederhana ini punya dampak yang luar biasa besar. Tentunya  kutipan "Mulutmu harimaumu" diciptakan karena ada yang sudah berpengalaman dengan hal itu. Tentunya juga hadist "..berkatalah yang baik atau diam.." bukan dituturkan oleh sembarang orang.

Kisah 1
Setelah di Jepang ini, ada suatu momen di mana gue mengetahui kabar pascakampus dari beberapa orang teman di Tinformers (you know, rasanya senang banget lho masih berkesempatan tau berita teman-teman seangkatan kampus ketika sedang merantau sendirian di luar negeri) lalu dengan antusias gue mengabari seorang teman baik gue lainnya, sebut saja namanya A.

Hal yang menakjubkan adalah si A ini menanggapi seluruh chat WhatsApp gue dengan antusias. Setelah beberapa saat, gue tersadar bahwa pastilah si A sebenarnya udah tau apa yang sejak tadi gue ketik panjang-lebar di WhatsApp, secara doi kan memang ada di sekitar kampus (setidaknya Jabodetabek itu berlokasi di sekitar kampus jika dibandingkan dengan Tokyo).

Setelah gue konfirmasi, ternyata memang benar, dia sudah tau seluruh cerita yang gue ceritakan. Tapi dia tetap menanggapi gue dengan antusias. Jika gue yang ada di posisi si A 3 tahun yang lalu, hampir pasti gue akan bilang bahwa gue udah tau berita tersebut dan bukan ga mungkin itu menyakiti seseorang yang ada di posisi gue saat ini.

Kisah 2
Di kampus gue ini, ada salah seorang senpai Indonesia yang ada sedikit masalah dengan kandungannya lalu dirawat inap dalam jangka waktu yang cukup lama di rumah sakit, sebut saja namanya si Kakak. Si Kakak ini sudah menikah, dan sebut saja suaminya sebagai si Mas. Si Kakak dan si Mas ini adalah tipikal pasangan luar biasa baik hati yang sebisa mungkin berusaha untuk ga perlu ngerepotin orang sehingga berita si Kakak masuk rumah sakit ini hanya sebagian saja teman Indonesia yang tahu (termasuk gue), khususnya teman-teman yang sering berinteraksi dengan pasangan ini saja, itupun informasinya tersebar melalui japri dari si Kakak, bukan dipost di grup. Gue cukup yakin, bukan maksudnya untuk menutup-nutupi, tapi yaaaah, ga semua hal harus diceritakan ke semua orang kan?

Di kampus pula, ada seorang senpai lain yang sedang kuliah S3, sebut saja namanya si Mbak. Dari sisi umur (meskipun gue belum pernah bertanya secara langsung) hampir dapat dipastikan lebih tua daripada gue sekitar 10 tahunan. Si Mbak ini tahu bahwa si Kakak dirawat di rumah sakit.

Suatu hari, si Mas sempat agak aktif di grup (ya kan namanya juga chat grup, hehe) dan si Mbak ini menanggapi lalu frontally bertanya apakah si Kakak udah sembuh atau belum. Di situ gue diem. Ga setuju dengan apa yang dilakukan si Mbak. Ada hal-hal yang memang segaja ga dikasih tau lalu beliau ngasih tau seenaknya dan gue cukup yakin bahwa si Mbak bilang gitu di grup belum dengan persetujuan si Kakak ataupun si Mas.

Karena tak tahan, guepun menjapri si Mbak dan jawabannya adalah si Mbak keukeuh bahwa yang dilakukannya tadi adalah benar.

Kisah 3
Masih tentang si Mbak. Secara singkat, gue diundang berbuka puasa oleh salah seorang senpai Indonesia (tapi beda kampus, namun daerah rumahnya berdekatan). Si Mbak dan beberapa senpai lainpun ada yang diundang. Undangan berbuka ini via japri langsung oleh sang tuan rumah dan hanya ke orang-orang tertentu aja. Mungkin sang tuan rumah ga bermaksud membeda-bedakan, cuma kan ga salah ya kalau merasa punya kedekatan personal dengan beberapa orang tertentu?

Si Mbak ini lalu mengajak seorang senpai lain yang dituakan oleh teman-teman Indonesia untuk berangkat bareng dan apesnya adalah senpai yang diajak tersebut itu tidak diundang oleh sang tuan rumah.

Nahloh kan jadi serba salah. Gue mah udah diem aja dengan muka bete pas si Mbak cerita. Hingga saat ini, kadar respek gue ke si Mbak sudah ga pernah sama lagi dengan sebelumnya.


------------


Dahulu mungkin gue lebih parah daripada si Mbak, sekarangpun gue belum tentu lebih baik daripada si Mbak. Tapi semenjak 3 tahun lalu ada satu hal yang secara intensif sedang gue perbaiki untuk urusan berbicara ini dan gue jadi tahu bahwa orang seperti si Mbak itu luar biasa menyebalkan. Gue jadi tahu bahwa gue sebelum 3 tahun yang lalu itu juga luar biasa menyebalkan.

Mohon maaf kepada semua yang pernah jadi korban gue, maaf dari hati yang terdalam karena pelakunya baru sadar akhir-akhir ini. Semoga ke depannya tidak perlu bermunculan korban lain, aamiin.

Sejujurnya, gue belajar sangat banyak mengenai berinteraksi dan of course cara mengontrol mulut dari si A dan teman yang mengadiahi gue buku itu. Semoga ke depannya masih selalu dikelilingi orang-orang luar biasa yang bisa memberikan banyak pembelajaran. Semoga selalu diberikan kemampuan untuk mencari pembelajaran sebanyak-banyaknya dari seluruh orang yang pernah dipertemukan dan pembelajaran dari seluruh momen yang pernah dilalui.
Aamiin.
:)

Umur ternyata tidak dapat menjamin kebijaksanaan seseorang. Kalau orangnya memang ga mau belajar ya ga akan berubah. Mengacu pada ucapan selamat ulang tahun dari teman gue 3 tahun yang lalu, ternyata menjadi bijaksana bisa jadi sesimpel itu,
"..tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.."

Akhir kata,
Selamat 23 tahun, Dil :)
Selamat naik kelas :)