Senin, 21 Januari 2019

Beda Prinsip

Sampai saat ini gue selalu ga abis pikir kalau menemukan foto bridal shower yang calon pengantinnya didandanin sampai jelek.

Kalau makan-makan di tempat mahal masih oke lah (uangnya juga ga minta ke gue kan yhaaa) as long as makannya dihabiskan, tidak malah dibuang-buang, tidak malah dipeper-peperin ke calon pengantinnya.

Karena menurut yang gue pelajari, mubadzir (orang yang menghambur-hambur, in this case adalah make up dan/atau makanan) adalah saudaranya syaitan, dan syaitan itu sangat ingkar kepada tuhannya.

Atas nikmat-Nya yang sebanyak ini, masa masih mau jadi ciptaan yang ingkar?

Untungnya lingkaran pertemanan terdekat gue ga seperti itu. Kalau ada, insya Allah akan gue ingatkan.

Tapi kalau yang berkelakuan begitu bukan lingkaran terdekat gue, rasanya semacam lemah iman aja, cuma bisa mengingkari dalam hati.

Kadang memang trend itu ga berjalan lurus dengan hati nurani. Bersyukurlah gue masih risih melihat yang kayak gitu. Semoga dijaga oleh Allah agar tetap halus hatinya sampai nanti, tetap yakin bahwa yang benar itu benar, dan yang salah itu salah, karena ga ada yang lebih mahal daripada hidayah Allah, aamiin.

Rabu, 21 November 2018

What People Talk About When They Talk About Business

Ketika kuliah dulu gue sempat mendapat materi mengenai bisnis, marketing, dan sahabat-sahabatnya. Salah satu dosen berkata bahwa,
"When we talk talk about industry/business/company, then we talk about about profit and money."

Awalnya gue berpikir,
"Ebuset, kapitalis amat."

Tapi dosen tersebut menjelaskan lebih lanjut. Bahwa (semisal) sebuah industri mengajukan sertifikasi FSC (misal nih ya.. misal..), yaaaa berarti ujung-ujungnya industri tersebut dapat mempromosikan produknya sebagai produk yang sudah tersertifikasi sumber kayunya sehingga meng-klaim diri sebagai industri yang lebih 'perhatian' terhadap lingkungan, dan lain-lainnya. Kalau suatu brand mengklaim fair trade, ya berarti produk yang dijual tersebut dipromosikan sebagai produk yang tidak menzalimi produsen, tidak mengeksploitasi tenaga kerja, bahan baku dibeli dengan harga wajar, dan sejenisnya. Serta sertifikasi serta standar-standar lainnya, ujung-ujungnya sih memang ternyata membuat citra baik perusahaan, sehingga customer menjadi loyal.

Hingga pada akhirnya these days kok ya rasanya gue mulai perlu ilmu buat ber-make-up. Kalau ibarat kuliah, gue cuma butuh mata kuliah "Dandan 101, Dasar-dasar Make Up" doang (101 maksudnya adalah mata kuliah di perkuliahan tingkat dasar gitu). Make up ala kadarnya aja, asalkan pantes untuk dibawa marathon kondangan hampir tiap pekan.

Lalu gue mulai mencari-cari kelas make up murah-meriah. Ada beberapa list yang masuk ke dalam pertimbangan gue, salah satunya adalah brand kosmetik muslimah dengan tagline "Halal" dan "Inspiring Beauty", sebut saja brand Mawar.
Hint: Terjemahkan kata 'Mawar' ke dalam bahasa Arab, maka anda akan menemukan artinya bahwa gue bukan asal comot nama kembang.

Brand Mawar ini punya akun IG untuk beauty house-nya yang di Bogor, lalu dengan budimannya gue follow untuk mengetahui jadwal-jadwal dan detail kelas make up-nya seperti apa. Meskipun muka gue selalu jerawatan tiap abis pakai Mawar ini, yaaa setidaknya gue akan dapat ilmu make up-nya lah. Ilmu make up-an yang proper ga apa-apa lah ditukar dengan jerawatan seminggu.

Btw, ada cerita sampingan tentang gue dan brand Mawar ini.
Suatu hari gue mencari bedak favorit gue di sebuah drugstore di mall paling hitz se-Cibinong Raya. Eh etalase brand bedak favorit gue ini sebelahan dengan brand Mawar. Begitu gue mulai mendekat, mulai lah sang SPG Mawar mempromosikan produknya. Merasa ga butuh (lha wong gue ngincer bedak di etalase sebelahnya), gue tolak dong. Eh, si mbaknya pantang menyerah, men, masih terus menerus mempromosikan bedaknya. Lalu karena males, gue bilang lah apa adanya, "Saya selalu jerawatan kalau pakai brand Mawar buat di muka. Saya cuma cocok sama minyak wanginya doang."

Daaaaaaaaan..
Tebak apa yang dikatakan si mbak SPG-nya..
"Mbaknya cuci muka ga bersih, kali.."
Amsyong.
Ingin ku berkata kasar.
Makin-makin lah gue ogah beli brand itu.

Kembali ke "Dandan 101, Dasar-dasar Make Up"
Dengan tagline "Halal" yang diusung, wajar dong kalau gue berpikir brand ini sangat Islami. Mulai lah gue mantengin IG beauty house-nya. Hingga pada akhirnya, ada story mengenai kelas make up yang dilaksanakan pada hari itu. Ketika gue cek..
Jeng.. jeng.. jeng..
Ada foto orang-orang yang sedang berdandan.

Mau lebih dramatis?
Mana ada sih orang berdandan pakai jilbab lengkap?

Itu lah horor story versi gue.

Lalu gue berusaha mengamalkan surat Al-Ashr dong, menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Gue reply lah story tersebut, gue mengatakan bahwa ada aurat saudari kita yang terbuka di story itu dan harapannya admin dapat lebih bijak dalam mengepos sesuatu di sosmed. Message gue sih dibaca, tapi story itu tetap tidak dihapus oleh adminnya. Meskipun hilang dalam 24 jam, but it does matter kalau bagi gue mah.

Finally, what DO people talk when they talk about business is : Profit.
No doubt.
They don't really care whether aurat saudarinya terbuka atau tidak.
Lalu gue mendadak hilang minat dengan beauty class, biarlah dandanan gue tiap kondangan gini-gini aja. Gue lebih memilih menjaga apa yang harus gue jaga.

Simpulan:
Pada akhirnya, cantik adalah titipan. Tugas kita adalah menjaga titipan ini dengan cara yang baik dan sesuai dengan tuntunan yang lebih fundamental yaitu Al-Quran dan Al-Hadist.

Epilog:
Lalu gue meng-unfol akun IG beauty house tersebut pada akhir Agustus 2018 karena akun ini memajang begitu saja foto-foto muslimah sedang ber-make up sambil lepas jilbab di acara make up class lainnya (itu dipost di feed btw, bukan di story seperti kasus sebelumnya). Sampai saat ini gue belum mem-follow lagi dan mohon maaf jika ternyata keadaan saat ini sudah tidak seperti di akhir Agustus lalu. Sesungguhnya tulisan ini bukan berniat untuk pencemaran nama baik, melainkan hanya menulis keresahan semata, bahwa ternyata apa yang kita anggap penting belum tentu jadi penting buat orang lain.

Selasa, 02 Oktober 2018

When People Determine about How Should a Bride Look Alike

Kadang gue suka bingung dengan kata-kata orang ketika datang ke suatu acara nikahan dan melihat mempelai wanitanya,
"Ih, pangling. Cantik ya."

Pangling
pang.ling
Verba : tidak mengenali lagi

Cantik
can.tik
Ajektiva : elok, molek (tentang wajah, muka perempuan)

Dengan adanya kata-kata ini, gue jadi punya beberapa pemikiran lebih lanjut.
Kondisi 1 : Si manten tidak dikenali (pangling).
Kondisi 2 : Si manten cantik.
Simpulan : Kalau si manten menjadi apa adanya dia (dikenali), berarti dia ga cantik.

Am I right?

Gue pribadi kadang suka ga abis pikir dengan salon/MUA yang mendadani manten sehingga menjadi oh-men-buset-itu-jauh-amat-sama-orang-aslinya. Orang-orang rasanya punya standar cantik yang sama untuk pengantin wanita:
  • Putih (masa bodoh dengan muka yang putih tapi warnanya belang dengan leher),
  • Alis dengan sudut dan ketebalan tertentu (yang alisnya terlalu tebal jadi banyak yang dicukur, padahal bukannya ga boleh oleh agama?),
  • Pipi dengan ketirusan tertentu,
  • Warna iris yang bukan hitam (meeeen, kita orang Asia Tenggara, warna kulit sawo matang tapi warna mata abu-abu cerah kan agak maksa ya?).

Padahal kan kalau kata Cherrybelle mah,

"..You are beautiful,
Beautiful,
Beautiful,
Kamu cantik, cantik, apa adanya.."

Pertanyaannya, siapa sih perempuan yang ga mau dibilang cantik?
Semua pasti mau kan?

Pertanyaan berikutnya,
Mau ga sih kalau dibilang cantik tapi karena ga mirip kita?
Kalau gue kok lebih bahagia dibilang cantik aja, tanpa mirip siapa-siapa.

Terkait dandan-dandanan nikah, gue juga akhirnya jadi punya kriteria mau yang seperti apa. Hal terbesarnya adalah gue mau kok jadi cantik, asalkan cantik itu tetap terlihat seperti gue.

Pada akhirnya, setelah iseng-iseng buka akun IG banyak MUA dan banyak banget yang hasinya lebay, gue jadi menentukan sendiri beberapa kriteria mengenai "How I Want To Be on My Wedding Day", di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Jilbab menutupi dada
Tanpa tapi.

2. Warna bedak yang tidak terlalu putih
Gue sadar dengan sepenuh hati bawa warna kulit gue adalah sawo yang kelewat matang. Lagipula, koplak ga sih ketika tangan gue warnanya macam tangan-driver-ojol-yang-sering-bawa-motor-di-jalan-dan-lupa-pakai-sarung-tangan, tapi mukanya putih?

3. Bentuk alis yang natural
Ga kayak ulat bulu yang terlalu tebal di depan (karena bagi gue alis model gitu 'palsu' banget dan jadi aneh). Ga dicukur-cukur juga, alis gue udah ngepas jadi ga usah lah dicukur lagi. Alis gue memang agak terlalu tipis di bagian pinggir, but what's wrong with that?

4. Lipstick yang ga kayak orang abis makan gorengan
Dilap dulu ya, ceu, kalau abis makan gorengan.
Apa purpose-nya coba ya pakai lipstick macem orang yang abis makan gorengan gini?

5. Tidak menggunakan heels yang terlalu tinggi
Gue bahkan punya preferensi sendiri yaitu wedges dengan tinggi maksimal 5 cm. Makin teplek, makin baik.
Why?
Karena tinggi gue sudah 165 cm.

Apakah ga aneh kalau ada mempelai perempuan pakai sepatu teplek di hari pernikahannya?
Let's be realistic.
What's the purpose of wearing heels? Untuk terlihat tinggi kan?
Gue sudah cukup tinggi. So, what else?

Besides, I just want to be comfort in my big day.
Gue ga nyaman pakai heels yang terlalu tinggi. Gue hanya ingin menikmati hari pernikahan gue tanpa perlu terlalu banyak memusingkan kaki yang pegal karena sepatu yang tidak nyaman.

Dan hal paling pentingnya adalah..
6. Gue mau pakai kacamata
Jangankan disuruh pakai contact lens, pakai obat tetes mata aja gue hampir selalu berkedip sepersekian detik sebelum cairannya masuk mata. Lagipula, mata gue ada minus dan silindrisnya. Minusnya besar pula. Setahu gue, kedua hal itu bukanlah kombinasi yang baik untuk harga sepasang softlens. Daripada ga bisa melihat dengan nyaman di hari bahagia, lebih baik gue pakai kacamata aja kayaknya.

"Softlens-nya bukan buat minus keleees, tapi buat warna mata yang beda."
Yakali. Terus gue melihat sepanjang hari dengan pandangan kabur-membayang?
Gue sih ogah.
Terima kasih.
Selaput pelangi mata saya warnanya sudah coklat kok dari dulu.
At the end, I just wanna be myself, dan gue rasa kacamata adalah salah satu ciri yang gue banget.

Simpulan barokah:
Ayo cari MUA/salon mana yang mau memfasilitasi customer banyak mau macem gue.
:)

Sabtu, 28 April 2018

The Whole Package

"Dilepehin sama perempuan itu selalu lebih sakit daripada ditolak kerja."
..
"Kalau ditolak kerja, kita mikir bahwa pendidikan kita gak cukup baik untuk perusahaan itu. Atau kualifikasi kita gak cukup untuk perusahaan itu. Hanya satu aspek dari kita yang gak cukup bagus. Pendidikan. Lainnya, kita masih bisa bangga kepada diri kita."
..
"Ketika ditolak seseorang, itu pusing. Soalnya orang cari jodoh kan ngeliat the whole package. Agamanya, kelakuannya, values yang dipegang, pendidikannya, materilnya. Ketika ditolak, yang terasa adalah this whole package.. gak cukup."
.
Cakra, dalam Sabtu Bersama Bapak, karya Adhitya Mulya.

Beberapa hari lalu, gue sempat dibuat kesal dengan seorang teman kantor yang memang terkenal menyebalkan. Beliau sudah berumur dan belum menikah. Dan seringkali kalau beliau sedang menyebalkan itu gue kasihan..


..due to  her whole package (seems) not enough.


Wallahu'alam bisshawab.

Selasa, 06 Februari 2018

#MatahariAkar [Split Bill]

Es krim: Dingin di lidah tapi hangat di hati #CaptionTidakNyambungDenganJudul

Ada suatu budaya di Jepang yang cukup membuat gue terkedjoet saat pertama kali mengetahuinya yaitu budaya untuk split bill (pisah tagihan) ketika makan di tempat makan. Di Indonesia, hal ini sepertinya ga umum, bahkan gue belum pernah menemukannya. Sekalinya sok ide mau makan tapi bayarnya split bill (ketika sepulang dari Jepang) eh malah ga boleh sama si kasirnya. Sedih dah emang.

Tapi di Jepang, misal makan bertiga, ketika selesai makan itu kita bertiga cukup bersama-sama menuju ke arah kasir lalu ngomong,
"Betsu-betsu"
Artinya kurang lebih seperti "(Bayarnya) dipisah". 

Kasus split bill ini adalah hal yang sangat umum dilakukan. Gue pernah makan berama-ramai sekitar 8 orang bersama teman-teman Indonesia di Jepang, dan restorannya tidak keberatan ketika kami minta agar split bill. Jadi ketika sudah kelar makan ya satu-satu antre di depan kasir buat bayar makanan apa yang dipesan. Mungkin budaya split bill ini adalah salah satu dampak dari orang-orang Jepang yang jujur, jadinya ga ada yang ngibul makan makanan mahal tapi menyebutkan menu murah ketika bayar. Mungkin juga ini dampak dari budaya orang Jepang yang cenderung mandiri dan ga mau merepotkan orang lain, makanya ga enakan ketika dibayarin orang lain.

Maafkan gue yang mulai sotoy.

Satu hal yang gue terkaget-kaget dengan split bill ini adalah orang pacaran aja makannya juga split bill. We-O-We. Seru amat ya jadi cowok di Jepang, ga perlu bayarin makanan ceweknya. Hahaha..

Sepulang dari Jepang ini gue jadi punya kata-kata pamungkas untuk menolak dibayari oleh orang lain.
"Orang pacaran di Jepang aja makannya split bill kok. Bayar sendiri-sendiri."

Meskipun akhirnya ada satu orang yang menjawab,
"Ini kan bukan di Jepang."

Dan tak lama, ada senyum yang tak bisa disembunyikan.

Minggu, 31 Desember 2017

Sesuatu Mengenai Pekerjaan dan Tempat Di Mana Kamu Bekerja

"Jangan meludah di sumur yang airnya kamu minum."
Kusumah ASW, 2017.

Kisah 1
Pekan terakhir di 2017 ini gue habiskan dengan agenda audit eksternal kantor pada tanggal 26-28 Desember. Sejak akhir November gue sering banget lembur demi mengurus kelengkapan berkas audit. Audit ini diminta oleh salah satu customer sebagai pertimbangan untuk kelangsungan order tahun depan. Jika hasil auditnya bagus, maka besar kemungkinan order akan bertambah. And maybe, vice versa.

Sedihnnya, ternyata hasil audit kemarin tidak sesuai ekspektasi. Ada banyak temuan selama audit, sampai-sampai gue aja bingung tamu yang datang itu sebenarnya auditor atau penemu *ga lucu, Dil, sumpeh*. Secara kelengkapan berkas sih overall baik-baik aja, tetapi auditornya melakukan random sampling dan memanggil beberapa puluh karyawan untuk diwawancara . And here the story goes..

Perusahaan tempat gue bekerja itu duluuuuuu banget peraturannya shantay kayak di pantay. Karyawan bisa lembur kapan aja, which bekerja pada jam lembur itu dibayar lebih banyak daripada bekerja pada jam kerja biasa. Setelah berganti GM jadi yang sebelum sekarang, mulailah hal-hal macam itu diperbaiki. Perusahaan jadi lebih sehat secara bisnis, tapi ga sehat bagi pendapatan sebagian karyawan yang sebelumnya sangat mengandalkan kondisi bisa lembur kapan aja.

Singkat cerita, dari beberapa puluh karyawan yang kena random sampling oleh auditor itu (entah berapa banyak) ada yang malah jadi curhat kebablasan-tapi-salah-tempat-dan-malah-ngomong-ke-sana-ke-mari tentang betapa perusahaan sekarang begini dan begitu. Mereka membandingkan dengan kondisi di masa-masa lampau di mana mereka bisa dapat hak-hak dengan terlalu bebas dan kesimpulan besar auditor adalah peraturan perusahaan jaman now itu mempersulit karyawan untuk mendapatkan haknya. Sesungguhnya pada kondisi sekarangpun hak-hak yang katanya sulit didapat itu sebenarnya bisa didapat, cuma tentu saja dengan menyertakan beberapa kewajiban berupa syarat-syarat berkas yang harus dipenuhi, agar bisa diverifikasi dan divalidasi. Walhasil ya gitu deh. Bahkan sempat terlontar kata-kata yang setara dengan "dzalim" selama closing meeting audit.

Selama closing meeting audit kemarin, gue yang udah hampir setahun kerja, baru pertama kali melihat Ibu GM gue kayak gitu. Paduan antara kesel, sedih, bete, dan mau marah. Fyi, gue sangat respek dengan Ibu GM gue. Gue menganggap beliau sebagai paduan antara nyokap dan kakak perempuan. Paragraf ini hanya untuk menggambarkan bawa betapa hasil audit kemarin itu super huft banget lah.

Pada daily standing meeting keesokan harinya, Bu GM memaparkan secara singkat hasil audit sambil cerita juga bahwa beliau kesel, sedih, dan mau marah tapi ga bisa. Sampai-sampai beliau melontarkan kalimat kurang-lebih seperti ini,
"Kalau kalian udah di-training oleh perusahaan, terus merasa jago, merasa bisa, boleh kok kalau mau pindah ke I**o***e*, saya ga larang."

Men..
Denger GM sendiri yang ngomong kayak gitu tuh sedih rasanya. Mekipun gue tau bahwa kalimat itu bukan buat gue, tapi tetep sedih aja dengernya.

Karena gue anaknya gampang tersentuh hatinya (tapi default mukanya jutek, jadi kadang suka ga match gitu), seusai standing meeting itu gue menceritakan kisah selama standing meeting tersebut kepada bapak-(atau lebih tepatnya mas)-sedivisi-yang-duduk-persis-di-samping-gue. Lalu, beliau mengeluarkan suatu kalimat super keren untuk kasus kemarin ini. Kalimatnya sudah gue kutip di bagian teratas tulisan ini.


Kisah 2
Tidak berbeda jauh dengan Kisah 1. Kali ini yang banyak menjadi pelakunya adalah generasi millenials yang paling-paling hanya terpaut 5 angkatan (ke atas dan ke bawah) dari gue.

Sudah bukan sekali-dua-kali gue scrolling timeline dan menemukan keluhan-keluhan mengenai kantor tempat seseorang bekerja. Ya gajinya lah, ya jam kerjanya lah, ya bosnya semena-mena lah, ya teman kantornya cari muka atau nyinyir lah, dan berbagai kondisi lain.

Ada pula momen tidak mengeluh, tapi mengasosiasikan dirinya sendiri menjadi sesuatu yang "Kok itu terdengar seperti ga bersyukur amat sih, Ya Allah". Ya budak korporat lah, ya TKI/TKW dalam negeri lah, dan frase-frase sejenis yang mengindikasikan bahwa yang bersangkutan kok sebegitu ga sukanya dengan pekerjaannya sekarang.


Pembahasan
Maaf kalau gue kurang mumpuni untuk menasihati, tapi salah satu tugas manusia adalah untuk "Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran" kan? Untuk manusia-manusia macam itu, nasihat gue biasanya cuma dua:
1. Kalau udah ga tahan, sono keluar dan cari company lain.
2. Tapi kalau karena satu dan lain hal ga mau keluar, ya belajar lah untuk sabar dan bersyukur dengan kerjaan yang ada sekarang.

It sounds basi sih, tapi (hampir) pasti akan ada orang yang mau dengan senang hati menempati posisi kerja lu sekarang dengan gaji yang segitu, dengan jam kerja yang begitu, dengan bos kayak gitu. Ga percaya? Coba aja tanyain kepada para job hunter yang aktivitas sehari-harinya keluar-masuk jobfair.

Ada kita yang capek, kesel, dan sebel dengan kerjaan kita sekarang. Tapi percayalah bahwa ada orang yang capek, kesel, dan sebel karena udah ngelamar kerja ke sana ke mari tapi belum tembus-tembus juga.

Jangan meludah di sumur yang airnya kamu minum.
Jangan menjelek-jelekkan perusahaan yang jadi sumber nafkah kita. Apalagi kalau menjelek-jelekannya ke orang lain di luar perusahaan, atau di sosmed, atau malah ke auditor.

Dengan menulis ini bukan berarti gue ga pernah mengeluhkan sesuatu tentang kantor tempat gue bekerja. Gue mengeluh, tapi gue pilih-pilih orang buat cerita. Gue ga cerita ke semua orang. Gue juga ga cerita di sosmed (sori nih, gue selalu menganggap blog bukan sebagai sosmed, hehe).

Lalu kalau sudah begitu ya seperti ketika gue menasihati orang lain, gue juga menasihati diri sendiri. "Sono gih buka-buka web lowongan kerja kalau udah ga betah sama kerjaan sekarang. Kalau belum nemu kerjaan yang pas, yaudah diem, kerja aja yang bener, jangan ngeluh melulu."

Sebagai muslim, kadang kita (gue) suka lupa bahwa ada sesuatu yang (insya Allah) bernilai abadi di dunia ini. Ikhlasnya kita, ikhtiarnya kita, tawakkalnya kita, syukurnya kita, sabarnya kita, itu nilainya (insya Allah) abadi dan akan dibalas dengan hal baik pula. Sebaliknya juga gitu, kufurnya kita, mengeluhnya kita, males-malesannya kita sehingga makan gaji buta, itu juga nanti akan dimintai pertanggungjawaban, naudzubillah.
Iya kan ya?


Simpulan
(Nah, ini nih bagian tersulit bagi gue tiap nulis blog)

Biasanya simpulan tulisan gue sudah bisa didapatkan dari judul atau kalimat-kalimat di awal tulisan. Simpulan tulisan kali ini adalah kutipan dari teman kantor gue di atas. Sila scroll lagi ke atas untuk menemukannya.


Epilog
Anyway, tulisan terakhir gue di tahun 2017 ini ada kemajuan ya. Topiknya (alhamdulillah) 'bener'.
Hehehe.

Cheers!!
:)

Sabtu, 18 November 2017

Lebih Baik Sakit Hati

Mungkin Meggy Z ketika dahulu menggubah lagu "Lebih Baik Sakit Gigi" belum pernah merasakan tumbuh gigi bungsu sebelah kiri, atas dan bawah sekaligus. Lalu pipi bagian dalam beberapa kali tergigit tak sengaja selama proses tumbuhnya kedua gigi itu dan sekarang malah sariawan dua buah.

Kalau bagi gue,
"...
Daripada sakit gigi,
Lebih baik sakit hati ini,
Biar tak mengapa
..."

Setelah gue analisa, ada hal menarik di balik mengapa gue memilih untuk lebih baik sakit hati.

(Anyway, sebagaimana pernah gue paparkan sebelumnya, semenjak tinggal di Jepang gue jadi memiliki hobi untuk memikirkan hal-hal yang "Plis deh, Dil, lu mikirin hal begituan?". Beberapa hal ini biasanya remeh dan berujung pada hal bermutu. Akan tetapi, sangat banyak sisanya merupakan hal remeh yang menjadi tetap remeh, hahaha. Luckily, topik ini agak berbobot lah buat dibahas. Ga remeh-remeh amat.)

Jadi gini, satu hal besar yang gue pelajari selama setahun tinggal di perantauan adalah bahagia itu datangnya dari hati dan pikiran, vice versa. Dua hal paling memungkinkan yang bisa dikontrol oleh manusia adalah hati dan pikirannya. Seriusan deh. Sehingga, apa-apa yang ada di hati dan pikiran itu supposed to be bisa dikondisikan.

Contoh mudahnya, kita bisa memilih untuk #bahagiaitusederhana dengan siapa, kita bisa memilih untuk melapangkan hati kepada siapa, kita bisa memilih untuk memaafkan siapa, kita bisa memilih untuk tetap optimis atau enggak, and so on. Berlaku sebaliknya, kita bisa juga kesal kabina-bina dengan seseorang padahal kesalahannya sepele banget.

Akar masalah dari sakit hati itu biasanya ga banyak. Salah satu alasan besarnya adalah kecewa. Nah kenapa seseorang bisa kecewa? Secara sotoy, gue mendefiniskan kecewa sebagai gap antara ekspektasi dengan realita. Biasanya ekspektasinya lebih tinggi daripada realita, makanya kecewa.

Kalau kita sakit hati karena ada orang ngomongnya nyelekit, berarti awalnya kita berekspektasi bahwa si orang itu ngomongnya ga nyelekit. Kalau kita sakit hati karena diomongin di belakang, berarti awalnya kita berekspektasi bahwa kita ga diomongin di belakang. Kalau kita sakit hati karena dibaikin eh taunya dia ga naksir kita, berarti awalnya kita berekspektasi bahwa dia baik karena dia naksir sama kita.

Jadi sebenarnya, salah satu obat untuk sakit hati yaitu jangan ngarep.
Atau lebih spesifiknya, jangan ngarep sama makhluk. Kalau mau ngarep, sekalian aja lah kepada Sang Tempat Berharap.

Sehingga pada akhirnya, sakit hati itu bisa perlahan menghilang kalau kita belajar untuk tidak ngarep, belajar untuk mencoba menerima keadaan, belajar mencoba melapangkan hati, dan belajar mencoba bersyukur. Semua hal-hal itu bisa kita kondisikan. Semua hal-hal itu bisa selesai hanya dengan 'bermodalkan diri sendiri'.

For short, luka nonfisik semacam sakit hati ini adalah luka yang tak perlu ada. Luka nonfisik adalah luka yang bisa kita kondisikan. Luka nonfisik ini adalah luka yang tak perlu ada jika hati dan pikiran kita dapat terkondisikan dengan baik.

Nah, bagaimanakah kasus untuk luka fisik (dalam kasus gue adalah sakit gigi dan sariawan selama hampir seminggu)?
Biar mudahnya, bagi gue, luka fisik ini adalah luka yang memang perlu ada. Luka fisik ini adalah luka yang ga bisa kita kondisikan apakah mau sakit atau enggak, apakah mau berdarah atau enggak, apakah mau cepat sembuhnya atau enggak.

Karena luka fisik ini punya banyak variabel, maka akan ada variabel yang bisa kita kontrol dan ada yang enggak. Contoh gampangnya gini, adakah hubungan antara pemberian obat merah dengan kecepatan sembuh luka? Apakah semakin banyak kita memberikan obat merah maka luka juga semakin cepat sembuh? Kan enggak juga. Yaaaa, mungkin ada sih, tapi sepertinya ga berlaku secara matematis. Misal kita teteskan obat merah 4 tetes tiap hari, maka luka sembuh dalam 4 hari. Nah, jika kita teteskan 8 tetes per hari, apakah akan sembuh dalam 2 hari? Atau ketika kita siramkan sebotol maka langsung sembuh? Kan belum tentu. Maka dari itu gue bilang bahwa luka fisik ini adalah luka yang memang perlu ada dan hal menyebalkannya adalah kita ga bisa kontrol. Luka fisik ini adalah luka yang kita tidak punya power atas hal itu. (Atau sebenarnya kita punya power, yaitu sebatas memperkecil kemungkinan terjadinya luka itu).

Pada dasarnya, manusia itu senang ketika punya power. Bahkan, dari sebuah buku yang pernah gue baca, tombol untuk menutup pintu di lift itu sebenarnya ga ada gunanya. Tombol untuk membuka pintu lift lebih lama itu ada gunanya, of course. Manusia senang ketika menekan tombol itu dan merasa punya power untuk menahan agar pintu lift terbuka lebih lama. Tapi tombol untuk menutup pintu lift itu semata-mata didesain untuk kesenangan manusia. Manusia merasa senang ketika merasa punya power dan berhasil membuat pintu lift menutup saat menekan tombol itu, padahal si pintu lift itu hanya mengerjakan tugas alaminya untuk menutup, dengan atau tanpa tombol itu ditekan.
Yeah, you've being fooled, human. Lol.

Sehingga,
Gue sadar bahwa gue ga punya power untuk mengendalikan syaraf reseptor rasa sakit di gusi gue untuk ga bekerja dulu selama beberapa saat agar gue tidak sakit.
Tapi gue merasa punya power atas hati dan pikiran gue, maka dari itu gue memilih untuk lebih baik sakit hati.
:)