Selasa, 15 Agustus 2017

Dekiru

Dekiru ini kata dari bahasa Jepang yang artinya adalah "able to..".Intermezzo sedikit, nama temannya Nobita dan Doraemon, Dekisugi, juga "Deki"-nya berasal dari "dekiru" dan akhiran "sugi" itu untuk kurang lebih artinya "too", atau kalau kata Bang Rhoma mah, ter-la-lu~. Jadi sebenarnya Dekisugi itu kurang-lebih artinya adalah "terlalu bisa apa-apa". Iya kan? Doi jago pelajaran, seni, olah raga, dan lain-lain. Hahah..

Oke
Sekian intermezzo-nya
Let's start with serious part

Ketika masih kecil, ada saatnya gue merasa bahwa ada kemampuan-kemampuan tertentu yang dapat kita kuasai secara otomatis ketika kita sudah dewasa. Ketika seluruh tetangga gue yang lebih besar bisa main sepeda keliling kompleks, gue kira kita semua akan bisa bersepeda ketika mencapai umur tertentu. Ketika gue lihat anak-anak yang lebih besar bisa membaca, gue kira kita semua akan bisa membaca suatu hari nanti ketika mencapai umur tertentu. Ketika melihat seluruh om gue dapat mengendarai mobil dan motor, gue kira semua laki-laki akan bisa mengendarai mobil dan motor pada usia tertentu. Contoh lainnya adalah termasuk ketika teman-teman laki-laki gue dikhitan. Satu-satunya contoh yang agak relevan dengan teori awal gue adalah perihal tanggalnya gigi susu, just it.

Semakin besar, gue jadi sadar bahwa sesungguhnya tidak sesederhana itu. Ada yang namanya proses. Kita ga akan tiba-tiba bisa tengkurap, berguling, jalan, merangkak tanpa ada kemauan dan dorongan untuk belajar. Kita ga akan tiba-tiba bisa baca, menulis, berhitung di umur 4, 5, atau 6 tahun kalau sebelumnya ga pernah belajar untuk itu. Kita ga akan bisa tiba-tiba naik sepeda kalau kita ga pernah belajar untuk itu. Ga akan bisa naik motor. And so on..

Di situ gue jadi sadar, kita belajar banyak banget ya waktu masih kecil :)
Trus jadi mikir, kok kita ga belajar sebanyak itu ya sekarang?
Seharusnya umur bukan alasan untuk tidak belajar, 'kan?

Makanya ada momen-momen tertentu ketika kita merasa bahwa kok hari-hari kita berjalan dengan cepat ya?
Kok kayaknya baru kemarin keterima kuliah, masuk asrama, jadi peserta MPKMB, jadi panitia MPKMB, Techno-F, Hagatri, PDRP dapat C, PL seru 2 bulan, jadi asprak, PP sampai tipes, presma kampr*t mundur dari jabatan, seru-seruan bareng Pimpinan BEM KM, penelitian di sungai, exchange setahun ke Jepang, nulis skrispi, sekarang udah lulus?

Sesungguhnya dari salah satu buku yang pernah gue baca tentang suplemen otak, otak itu punya persepsi waktu sendiri sesuai dengan banyaknya hal baru yang dia pelajari. Semakin banyak hal baru yang kita pelajari maka waktu terasa lebih lama, semakin sedikit hal baru yang kita pelajari maka waktu terasa semakin cepat. Itu juga salah satu alasan relativitas waktu kenapa hang out sama teman kok rasanya cepat tapi belajar bab sulit matematika kok rasanya ga kelar-kelar. Itu juga alasan mengapa perjalanan pergi ke suatu tempat baru terasa lebih lama daripada perjalanan pulang dari tempat tersebut.

Lalu, gue jadi ingin punya hidup yang lebih lama. Bukan harus secara harfiah hidup sampai seratus tahun or something related.
Tapi dengan belajar hal-hal baru, biar "dekiru"-nya lebih banyak, biar ga hidup cuma dengan rutinitas saja, biar otaknya tidak mati sebelum waktunya.

Yuk?

Jumat, 30 Juni 2017

Tidurnya Orang Berpuasa

Mungkin kita sudah tidak asing dengan penggalan hadist yang berbunyi,
"Tidurnya orang puasa adalah ibadah.."
Terlepas dari sanad-nya yang ternyata lemah, sejujurnya saya sering geregetan dengan hadist itu. Atau lebih tepatnya dengan orang-orang yang menerjemahkan hadist itu sesuka hatinya.

Ga dipungkiri, banyak orang Indonesia (karena muslim di Jepang yang gue amati tahun lalu rasanya ga se-malas-malas muslim di Indonesia deh) yang selama Ramadhan memilih untuk malas-malasan dan tidur seharian, dengan dalih bahwa tidurnya orang berpuasa itu berpahala.

But for me, could you please find another point of view?
Kalau kegiatan yang 'sesepele' tidur aja berpahala, apalagi kegiatan yang lebih-tidak-sepele? Misal menuntut ilmu, mencari nafkah, berlelah-lelah menyiapkan materi sanlat untuk masjid kompleks, bebersih rumah karena Si Mbak mudik, and so on. Wallahu'alam, mungkin pahalanya lebih besar karena effort yang dikeluarkannya lebih besar.

Ramadhan 2 Hijriyah, kaum muslimin Perang Badar, men.
Pantes aja zaman Rasul dulu itu jadi generasi terbaik kaum muslimin.

Saya sih Insya Allah ga tidur seharian gitu selama Ramadhan, tapi ya kadang ga seproduktif yang diharapkan. Semata-mata nulis ini untuk me-release keresahan aja, sekaligus mengingatkan diri sendiri. Yuk ah, nabung bekal semangat buat Ramadhan tahun depan, berusaha jadi generasi terbaik juga.

Kamis, 27 April 2017

Just An Introvert Who Being Introvert

Kalau ada yang bertanya (itu juga kalau ada yang bertanya ya) ke mana sajakah gue selama beberapa bulan ini, jawabannya adalah gue sempat mendua dari blog. Gue mendua ke Instagram.

Salah satu alasan gue membuat IG adalah membenarkan kata-kata Teh Tuti tentang mengapa beliau udah lama ga ngeblog. Alasannya adalah waktu itu Teh Tuti merasa bahwa kalau mau menulis sesuatu itu harus banyak, terdiri dari beberapa paragraf, dan duduk 'plek' di depan laptop. Ya seperti orang ngeblog pada umumnya lah. Until finally she found IG and realized that picture 'speaks', juga Teh Tuti menyadari bahwa menulis itu bukan tentang seberapa banyak tulisannya tapi tentang 'menulisnya'.

Ditambah juga dengan banyaknya desakan dari berbagai pihak agar gue segera membuat IG, akhirnya gue membuat IG setelah mendapatkan SKL. Saat itu gue fikir, toh ga ada salahnya juga punya IG. Dan benar aja, scroll IG orang itu rasanya lebih 'visual' dibanding blogwalking *yaiyalah diiil*.

Bagi yang penasaran dengan IG gue, cek aja @dilahoy (username ditemukan setelah sekitar setengah jam mencoba berbagai nama yang diinginkan tapi tak kunjung ada yang available). Haha..
*di-follow yaaaaak, pakbapak, buibuuu*.
#ajimumpung

Beberapa teman yang tau bagaimana kehidupan gue di blog ini bilang bahwa post IG gue pencitraan karena isinya 'bener'. Ya ga salah sih, tapi ga sepenuhnya benar. Gue merasakan punya teman di sosmed yang timeline-nya isinya curhatan ga penting, keluhan, umpatan, berita-berita hoax, share hal-hal sensitif kayak isu agama, dan gue tau ada saatnya hal-hal itu menyebalkan. Gue hanya ga mau menjadi bagian dari orang-orang menyebalkan itu bagi teman-teman gue di sosmed.

I mean, sosmed semacam FB atau IG itu bisa dibaca semua orang yang terhubung dengan kita. Tapi blog kan enggak. You could choose whether to read it or not, kalau ga mau dibaca ya ga usah diklik link-nya. Sehingga akhirnya gue cukup yakin bahwa orang-orang (khususnya teman-teman gue) yang bisa tiba di sini adalah mereka-mereka yang memang pengen tau gue sedang ngapain, pengen tau gue sedang merasakan apa, pengen tau apa yang sedang berseliweran di pikiran gue.

Selain itu, gue adalah salah satu orang yang menganut paham bahwa sebaik-baiknya kamera adalah mata dan sebaik-baiknya perekam adalah hati. Satu lagi, sebaik-baiknya terima kasih adalah doa. Dampaknya adalah gue sangat sering ga inget untuk foto momen-momen tertentu jadinya kadang bingung juga mau cerita apa di IG kalau ga ada fotonya, hehe.

Bagi gue, blog (apalagi blog yang ga dikunci macam blog ini) adalah sejenis wadah untuk bercerita bebas tentang apa saja kepada dunia. Walaupun ujung-ujungnya ya hanya kalangan terbatas (mostly teman-teman gue yang itu-itu lagi [but don't worry, I'm happy to have you all]) yang baca. Hal ini jadi semacam wadah yang sangat ideal untuk bercerita bagi seorang introvert yang kadang bisa jadi ambivert kayak gue.

Actually, I'm not typical who like to mengagung-agungkan semacam kepribadian berdasarkan hal tertentu. Tapi sesungguhnya buat orang introvert (lebih tepatnya INFJ, yang sering disangka extrovert) macam gue, berlama-lama di keramaian itu membuat lu merasa terkuras energinya, sekalipun itu di keramaian sosmed semacam IG. Rasanya itu, pikiran dan hati gue jadi bisa capeeeeeeeek banget tiap abis scroll timeline IG.

Pada akhirnya, alasan besar mengapa gue kembali mengeblog setelah vakum beberapa bulan ini adalah dorongan jiwa introvert gue yang ingin memiliki kanal penyaluran emosi ala jiwa introvert.

Yuk, nulis lagi.
:)

Minggu, 15 Januari 2017

STEP@TUAT; A How To (Part 1)

Sehubungan dengan post sebelumnya, pada post kali ini gue mau bercerita mengenai bagaimana proses persiapan gue untuk mendaftar program STEP. Gue mendaftar STEP dua tahun lalu, berangkat pada Oktober 2015, dan sudah kembali ke Bogor pada September 2016.

First of all, I want to tell you that having a whole year not in your hometown itu harus dikompensasi dengan hal yang tidak sedikit. Gue pribadi kehilangan banyak momen bersejarah dari teman-teman gue. Gue melewatkan setahun periode wisuda, beberapa belas nikahan, dan entah berapa lahiran. Gue ga bisa mendampingi pas ibu harus tengah malam ke rumah sakit (untungnya ga kenapa-kenapa, cuma sempet ngedrop doang), gue ga bisa hadir ketika ibu pelantikan naik jabatan, ga ikutan acara liburan keluarga ke Bukittinggi, and so on.

Dengan sebegitu banyak hal yang gue lewatkan di Bogor dan sekitarnya, yang bisa gue lakukan selama di Jepang adalah bersenang-bersenang. Hahaha. Jangan sampai gue menyesal karena ga bisa merasakan momen di Bogor dan sekitarnya, lalu ditambah di Jepang juga cuma diem-diem aja.

Oke, stop ngelantur dan curhatnya, let's start.

Pada tulisan kali ini (dan yang akan datang) gue mau menceritakan mengenai beberapa syarat kelengkapan berkas yang proses mendapatkannya agak lumayan. Definisi 'lumayan' di sini artinya tidak melulu sulit, bisa jadi tricky, malesin *misal, urusan ke DIT.AP IPB*, ngabisin duit tabungan, and so on.

Surat rekomendasi
Dari sekian banyak syarat pendaftaran, salah satu yang bikin deg-deg-ser adalah surat rekomendasi dari dosen. Diminta 2 pula.

Usul gue sih yang pertama adalah jelas dosen pembimbing. Ibaratnya selama di kampus, beliau lah orang tua kita. Kunci lulus atau enggaknya kita (kuasa Allah sih pasti ya) juga ada di tangan beliau. Dengan minta rekomendasi dari beliau, semisal nanti lolos juga enak ketika ngadep untuk laporan. That's what I did 2 years ago. "Pak, terkait surat rekomendasi exchange yang waktu itu, Alhamdulillah saya lolos..". Ga mungkin kan kita ngilang setahun ke negara orang dan Si Bapak ga tau. Ga sopan juga lagian kalau ga bilang.

Secara ga langsung, ketika beliau bikin surat rekomendasi untuk kita itu beliau merestui bahwa anak bimbingnya punya probabilitas ngilang setahun ke negara orang, haha.

Meminta rekomendasi ke beliau juga nanti bisa bikin enak ngobrol untuk ke depannya, variabel penelitian bisa dikurangi atau enggak (karena takut keburu berangkat), apakah setahun ini mau dijadiin cuti atau enggak, sks dari sana mau diakui di Indonesia atau enggak, mau penelitian di Jepang atau di Indonesia, dan lain sebagainya.

Usul untuk dosen kedua, cari dosen yang kita dekat dengan beliau. Entah karena kita jadi asisten mata kuliah beliau lah, entah karena kita aktif ketika beliau ngajar lah, entah beliau temen orang tua kita lah, entah beliau orang tuanya temen deket kita lah, entah apapun lah. Pastikan juga beliau "ngeuh" sama kita. Kalau kita ngerasa dekat tapi beliaunya kagak ngerasa sih itu namanya kebanyakan ngarep.

Kenapa nyari yang dekat? Karena kalau sama yang dekat, insya Allah rekomendasinya bagus. Lagian gunanya nyari surat rekomendasi kan untuk 'menjual diri'. Kalau minta rekomendasi ke dosen yang kita sering telat datang kuliahnya mah berabe.
"..mahasiswa ini kurang bertanggung jawab karena sering terlambat datang ke kuliah saya.."
END
Bhay

Alternatif lain, cari dosen yang sering stand by di kampus. In case ada perintilan yang kelewatan, gampang untuk nyarinya lagi. Dua tahun lalu gue memilih dosen kedua untuk rekomendasi dengan cara seperti ini. Entah sial atau hoki, ternyata ada hal yang masih harus ditambahkan setelah gue mengumpulkan berkas. Lucky me, Si Ibu mudah ditemui, Alhamdulillah.

Berkas rekomendasi dosen ini ada formatnya di form pendaftaran dan gue hanya meminta beliau-beliau untuk mengisi saja (dengan kata-kata yang sudah gue tulis terlebih dahulu, hehe). Ternyata eh ternyata, agar lebih resmi dan rahasia. Ditmawa meminta agar kertas selembar tersebut dimasukkan ke dalam amplop putih, di-seal, lalu dosen yang bersangkutan mendatangani seal-nya sebagai tanda bahwa bener lho surat ini dibikin beliau dan ga gue otak-atik.

Actually ga rahasia-rahasia amat sih, gue udah kepalang baca tulisan Bapak tentang gue (ketika mau ngerapihin berkas sesuai halaman) dan gue jadi terlihat keren di surat rekomendasi dari Bapak. I love you full lah, Pak.

Alternatif lain (lagi), cari dosen yang gelarnya profesor. Berhubung tujuan exchange ini adalah untuk pendidikan, berhubung profesor adalah gelar tertinggi dalam dunia akademisi, ya pikir deh ya hubungannya apa, hahaha.

Keterangan kemampuan bahasa Inggris
Ini mah ga ada cara lain, ya tes atuhlah.

Kalau kita ngerasa skill English kita ga cupu-cupu amat, sekalian aja tes beneran. Dua tahun lalu itu gue ikutan TOEFL PBT di UPT Bahasa IPB di Kampus Gunung Gede, harganya 400 ribu (untuk 2017 ini pekan lalu gue cek, harganya udah jadi 500 ribu). Tes beneran ini umumnya berlaku selama dua tahun, or at least ada semacam rahasia umum dan kesepakatan bersama bahwa itu bisa digunakan selama dua tahun. Lumayan bisa dipake untuk syarat SKL dan ngelamar kerja kalau udah lulus *itu sih gue*.

TOEFL ini menurut gue agak risky, tricky, dan ngabisin uang tabungan gue. Dua tahun lalu TOEFL di IPB diadakan tiap minggu, minggu ini di Dramaga, minggu depannya di Gunung Gede, gitu terus berulang. Sistem TOEFL di IPB itu pakai kuota, jadi kalau kuotanya udah penuh ya ikutan sesi setelahnya. Nah berhubung gue ngincer yang di Gunung Gede biar ga terlalu jauh dari rumah dan ternyata kuotanya udah penuh, alhasil gue baru tes pada Sabtu ketiga setelah pendaftaran dan hasilnya baru bisa diambil sekitar 8-12 hari kerja setelah tes. Tricky abis kan? Hahaha. Syarat ini sepertinya harus dikerjain duluan.

Kalau ikutan yang TOEFL prediction gitu di tempat-tempat les di Bogor, harganya skitar 150-200 ribu dan cuma berlaku 3-6 bulan. Trus ga resmi pula, power-nya ga sesakti hasil tes beneran.

Selain TOEFL, mau IELTS atau apa juga boleh. Intinya bukti yang menyatakan bahwa kita bisa bahasa Inggris karena selama perkuliahan (kecuali mata kuliah Bahasa Jepang) menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar.

Karena pendaftar dari IPB yang cukup banyak di tahun gue mendaftar (ada 7 orang), maka dilangsungkan sesi wawancara untuk semacam 'seleksi tambahan' dari IPB. Gue yakin bahwa hasil TOEFL gue yang ketika itu belum menyentuh angka 500 bakal dijadikan topik hangat ketika wawancara..
..dan bener aja.

Akhirnya gue ngeles ketika wawancara (pakai bahasa Inggris pula) bahwa poin utama dari komunikasi bukanlah tentang kesamaan bahasa, tetapi saling mengerti antara kedua pihak yang berkomunikasi.
Tsaaaaaaah
Gaya banget kan gue
*ditimpuk

Thanks to modul daskom yang pernah iseng dibaca.
:D

----------

Inilah dua dari beberapa hal yang bagi gue paling dagdigdug pas mengusahakannya. Hal lain yang ga-se-dagdigdug dua hal ini akan disambung secepatnya.

いじょうです
ありがとうございます
*bowing

(Dibaca: Ijou desu, arigatougozaimasu; Artinya: that's all, thank you)

Jumat, 13 Januari 2017

Aksi Mahasiswa

Preface
Gue terlalu geregetan untuk ga nulis apapun terkait aksi mahasiswa 12 Januari 2016 kemarin. Sesungguhnya ide menulis ini sudah ada sejak pertama kali dengar mau ada aksi, tapi apa daya baru berhasil diselesaikan sekarang.

Let's begin.
Kalau kata Bung Karno mah,
Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia
Ini artinya apa? Artinya adalah pemuda itu aset. Masa muda itu merupakan aset. Maka jangan heran kalau dunia mengharapkan para pemuda banyak melakukan hal besar.

Pertama-tama, bagi gue aksi itu sesuai dengan arti harfiahnya; bergerak, melakukan sesuatu, tidak berpangku tangan. Kemudian sebagai mahasiswa, gue menghormati dua tipe mahasiswa berdasarkan jenis aksi yang biasa mereka kerjakan.

Tipe 1
Mahasiswa tipe 1 ini adalah teman-teman yang demen bergerak di bidang akademik. Teman-teman kita ini percaya bahwa amanah utama mereka dikirim orang tuanya ke perantauan adalah untuk belajar. Ini yang bener. Bener banget malah. Alhasil mereka belajar dengan rajin, pada jago bahasa Inggris, rajin bikin paper, ikut conference atau lomba yang bukan tidak mungkin skalanya mencapai skala internasional *intergalaksi juga dijabanin mungkin kalau ada*. Teman-teman ini berharap bahwa ilmu yang mereka peroleh sampai intergalaksi itu di masa depan dapat bermanfaat untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.
Ayo bilang aamiin rame-rame.

Tipe 2
Mahasiswa tipe 2 ini biasanya adalah teman-teman yang ikutan organisasi. Biasanya gerakannya spesifik ke arah kemasyarakatan/kemanusiaan, sosial, dan politik. Tidak sedikit aksi nyata teman-teman tipe 2 ini yang hasilnya dapat terlihat dalam waktu relatif singkat misal kegiatan turun ke desa, pengabdian masyarakat, pendampingan UMKM, sampai aksi mahasiswa mengajar ke daerah-daerah sekitar kampusnya. Banyak dari teman-teman kita ini (khususnya yang kuliah di PTN) berpendapat bahwa mereka bisa berkuliah karena salah-satunya ada peran pajak untuk menyubsidi biaya sehingga dapat dijangkau. Which is pajak itu dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk warga yang berada dalam katagori kurang mampu. Maka ketika ada rakyat yang merasa tertindas (misal karena harga bahan-bahan pada naik [ya kurang-lebih penyebab aksi kali ini lah]) mereka merasa harus melakukan sesuatu.

Dua tipe mahasiswa di atas adalah dua tipe yang gue hormati.
They know what to do. They have their own way/vision to create a better Indonesia.

Gue sangat mengapresiasi jika kedua tipe ini ga saling menjatuhkan satu sama lain, toh niatnya sama-sama untuk Indonesia kan?

Tipe 3
Nah, ini adalah tipe yang gue kadang suka ga abis pikir. Ini adalah tipe yang kerjanya nyinyir dengan teman-temannya yang termasuk tipe 2, bilang aksi ngerusuh lah, ga ada gunanya lah, ga jelas asal-mula kajiannya kayak apa lah, kuliah aja masih minta uang ortu trus sok-sokan mau aksi lah, aksinya ga ngasih solusi lah, sebagai mahasiswa harusnya lebih cerdas lah, apa lah segala rupa dikata-katain.

Padahal orang tipe 3 ini kalau diajak hadir kajian pendalaman materi aksi, beeeeeuh, pasti adaaaaaa aja alasannya untuk nolak.

Tipe ini juga adalah tipe yang sering mencari sejuta alasan ketika 'ditodong' untuk menjadi mahasiswa tipe 1. Ya ngeles ga jago bahasa Inggris lah, ga jago nulis lah, IPK ngepas lah, apa lah ada aja alesannya.

Hellooooow
Kalau kebanyakan nyinyir, entar keburu tua, entar keburu 'ga berpotensi' apa-apa. Alasan untuk ga ngapa-ngapain mah memang pasti ketemu kalau dicari. Mending coba mulai melakukan sesuatu dari sekarang.

----------

Gue alhamdulillah selama jadi mahasiswa pernah berusaha untuk menjadi tipe 1 dan tipe 2. Gue pernah coba-coba ikut lomba tentang pertanian, meskipun nyaris ga juara. Gue juga pernah ikutan jadi tim koordinator aksi, meskipun cuma ngurusin carter angkot dan P3K. Overall, gue juga ada bayangan kok ke depannya mau melakukan apa untuk Indonesia. At least, gue mencoba melakukan sesuatu.

Akhir kata, kalau mengutip kata-kata Bang Faldo Maldini mah,
"Ya gapapa mahasiswa cuma bisa nuntut. Kalau mahasiswa bisa ngasih solusi mah dipertanyakan itu gunanya para staff ahli di kepresidenan."
NAH INI!!

Untuk teman-teman yang aksi (terlepas dari apapun jenis pergerakan yang dilakukan),
Selamat luruskan niat, komentator mah ya udah lah ya biarin jadi komentator aja. Kalau ada pertandingan bola juga kan pada akhirnya yang dilihat adalah pemainnya, bukan komentatornya. Kalau gagal, coba lagi. Kalau salah, perbaiki, mumpung masih jadi mahasiswa, mumpung masih 'boleh' salah.

Cheers!!

Kamis, 05 Januari 2017

STEP@TUAT; Kesempatan Exchange untuk Mahasiswa IPB

Tersebutlah sebuah departemen tetangga di fakultas. Departemen ini termasuk departemen perintis yang terakreditasi internasional di IPB, bahkan ketika SMA gue sempat mau masuk departemen ini, haha. Departemen ini termasuk dalam departemen yang mahasiswanya bisa ikutan program exchange AIMS (ASEAN International Mobility for Students). Selain dari departemen tetangga ini, gue hanya tau Faperta (seluruh departemen di Faperta) yang bisa ikutan program tersebut, mohon dikoreksi kalau salah but the point of my post is not about AIMS.

Ketika tingkat 2 dan gabung BEM fakultas, di akhir kepengurusan ada kakak kelas dari departemen tetangga tersebut yang ikutan AIMS. Trus ga lama mulai iseng cari tau dan kesel sendiri karena departemen gue ga bisa, haha.

Gue lupa bahwa setahun sebelumnya pernah dikasih tau oleh Si Teteh tentang program exchange lain, namanya STEP@TUAT, Short Term Exchange Program at Tokyo University of Agriculture and Technology.

TUAT dan IPB ini mereka bersaudara. Sister school istilah gaulnya mah. TUAT membuka kesempatan exchange bagi mahasiswa sister school yang tersebar di seluruh dunia melalui program STEP ini. Pada tahun gue terdapat 20 orang yang mengikuti program STEP dan berasal dari seluruh dunia. Mulai tahun 2017 ini kata webnya ditambah jadi 25 orang.

Bukan mahasiswa IPB?
Jangan khawatir..
Setahu saya *elah tumben pake 'saya'* ada kampus-kampus lain di Indonesia yang juga sister school dengan TUAT yaitu ITB, Unila, dan UGM.

Hal yang agak membuat gue sedih, tahun 2016-2017 ga ada perwakilan STEP dari IPB, kayaknya karena pada ga tau deh..

STEP@TUAT terbuka untuk program undergraduate, master student, dan juga doctoral student. Program berlangsung selama setahun, yaitu mulai Oktober hingga September tahun depannya. Kehidupan selama di sana di-cover oleh JASSO scholarship.

More info:
Kindly open this link and read carefully
(carilah ada berapa banyak foto gue di sana, hahaha)

Unduh berkas pendaftarannya

Jangan lupa tanya-tanya juga ke International Office di masing-masing kampus yaaa!!

Yang mahasiswa IPB, tau ga International Office IPB ada di mana? Haha
International Office IPB lebih dikenal dengan nama ICO, International dan Collaboration Office. Terletak di Gedung Andi Hakim Nasution. Kalau berdiri dari ATM Mandiri, nanti kelihatan.

Untuk mahasiswa IPB, selain main ke ICO, main juga ke Ditmawa ya untuk nanya-nanya. Sila datang ke Sub Direktorat Pengembangan Karakter dan Mobilitas karena ada beberapa berkas yang bisa disediakan oleh ICO/Ditmawa.

Terlepas dari apapun niat kalian untuk ikutan program pertukaran pelajar, entah mau jalan-jalan, entah nyari link buat lanjut sekolah, entah untuk mempercantik tampilan instagram, entah apapun itu, saya *ciye pake 'saya' lagi* sepenuh hati merekomendasikan karena akan banyak sekali pelajaran yang didapat ketika berada jauh dari zona aman.

Kalau kata Imam Syafi'i mah,
Merantaulah, maka akan kau temukan pengganti kerabat dan kawan.
I strongly agree.
Uuuuuu, kangen Tokyo kan jadinyaaaa :'

Sesungguhnya, banyak program sejenis dari kampus lain di Jepang tapi gue ga hapal namanya. Ada HUSTEP, URSTEP, dan entah apa lagi deh. For further info, kindly check ICO or Ditmawa or your own campus' International Office.

Kisah gue selama di Jepang dapat dilihat pada tautan #MatahariAkar di blog ini (atau klik di sini). Belum banyak sih karena keasikan main selama di Jepang sampai lupa nulis. Hahaha..
#AlesanAjaKamuDiiil

Tips and trick untuk mengisi berkas, insya Allah, akan gue sambung di post berikutnya.
Cheers!!

Sumber gambar (klik di sini)

Dua puluh tahun lagi ga mau dihantui kan? Makanya dicoba aja sekarang.
Hehehe

Footnote
For earlier tips and trick, kindly contact me on:
Line id : .fadila. (ada . sebelum dan sesudah nama)
Instagram : @dilahoy

Selasa, 20 Desember 2016

Eksklusifisme Anak Soleh

Alkisah ada seorang mantan komti gue pas TPB, sebut saja namanya X, dan gue berteman dengan si X ini di chat application Line (karena punya nomornya). Sudah setahun-dua-tahun belakangan ini, status di timeline si X dipenuhi banyak hal tentang kesibukan usahanya mencari rezeki halal dan aktivitas memanah. Wuidiiih, keren lah ya memanah, salah satu dari tiga jenis olah raga yang disunnahkan oleh Rasul, tuh. Olah raga lainnya yang disunnahkan adalah berenang dan berkuda.

Si X ini aktif di dalam lembaga dakwah Islam di kampus gue, for short banyak teman yang menyebut lembaga ini dengan menyingkat nama beken masjid kampus gue, Alh*rr. Awalnya gue ga pernah notice tentang status-status si X. Hingga beberapa waktu lalu sempat agak iseng membaca statusnya dan tetiba ngeuh bahwa si X ini sedang repot-repot mengembangkan klub memanah Alh*rr. Kalau kata di statusnya sih sepertinya namanya Alh*rr Archery Community. Di statusnya itu si X sempat cerita tentang mahalnya harga busur dan anak panah, jumlah peralatan yang terbatas (karena mahal) sehingga harus gantian, dan lain sebagainya. Pokoknya kalau baca statusnya, dia keliatan banget lah sedang berjuang mengembangkan komunitas memanah itu.

Setelah mikir beberapa detik, rasanya gue pengen teriak di depan mukanya (fyi, berhubung gue anak baris berbaris, jadi kalau gue bilang pengen teriak di depan mukanya that means GUE EMANG PENGEN TERIAK BENERAN DI DEPAN MUKANYA),
WOY, LU GA USAH SOK-SOK SUSAH BERJUANG BIKIN KOMUNITAS. ITU UKM MEMANAH DI IPB UDAH ADA DARI DULU!!

Terkait tentang judul post ini, that's what I want to talk about.

Dari foto-foto di status si X, keliatan banget kok bahwa member perempuan di komunitas itu adalah perempuan yang jilbab panjang dan pakai rok. Kalau menganalisa dari nama komunitasnya sih sepertinya member laki-lakinya bercelana di atas mata kaki dan jenggotan. Mereka adalah orang-orang berlabel soleh-solehah di lingkungannya.

Padahal gue tau, di kalangan soleh-solehah, salah satu pertanyaan yang masih sulit ditemukan jawabannya adalah bagaimana cara memberi warna nilai-nilai keislaman di sebanyak mungkin lini kehidupan. Gue tau juga bahwa di dalam kurikulum pengajian anak soleh-solehah itu ada instruksi untuk bergaul secara luas. 

Tapi kalau orang-orang soleh-solehahnya malah bikin komunitas eksklusif sendiri, ya dipikir aja gimana pertanyaan itu bisa terjawab.

Wallahu'alam bisshawab
Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu terlalu mengedepankan ghadul bashar (menjaga pandangan), dengan asumsi teman-teman di UKM Panahan kampus itu tidak seluruhnya berkerudung, sehingga akhirnya lebih memilih membuat klub memanah eksklusif yang isinya cuma kalangan tertentu.

Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu lupa bahwa pahala mendakwahi saudara-saudara muslim yang berada di zona 'kurang' hingga dapat berhijrah ke zona keimanan yang lebih baik itu pahalanya luar biasa.

Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu lupa bahwa berdakwah itu harusnya ke seluruh penjuru bumi, bukan di halaman masjid aja. Kalau para sahabat ga berhijrah untuk berdakwah, mungkin Islam belum akan sampai ke nusantara.

Mungkin para soleh-solehah itu terlalu menelan bulat-bulat pepatah "Berkawan dengan pandai besi akan mendapat panas, berkawan dengan tukang minyak wangi akan terkena wangi". Mungkin probabilitas "Berkawan dengan pandai besi bisa jadi nanti dikasih hadiah pedang yang bagus" ga dimasukkan dalam perhitungan. Padahal setiap orang pasti punya hal baik, kan?

Mungkin gue yang iri karena ga diajak bergabung di komunitas memanah anak soleh-solehah? Haha, insya Allah ga iri. Teman gue banyak kok. Lagipula, sepertinya gue punya prinsip berbeda mengenai definisi 'azas kebermanfaatan' sebagai muslimah yang punya kewajiban untuk berdakwah.

Mungkin gue kurang solehah?
Nah, ini yang paling mungkin. Gue kurang solehah sehingga ga paham kenapa mereka harus bikin komunitas eksklusif untuk berlatih panahan padahal UKM Panahan di kampus udah ada dari dulu. Lagipula, ah, apa atuh gue mah, pake rok aja baru semester 7.

Mungkin gue terlalu suudzon?
Nah, bisa jadi. Manusia memang banyak kurangnya. Mohon maaf jika ada yang tersinggung, semata-mata gue menulis ini setelah berpikir dan menganalisa kok, bukan asal nulis.
Wallahu'alam bisshawab.

Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat bagi diri gue sendiri, syukur-syukur jika bermanfaat bagi orang lain. Semoga jika di masa yang akan dateng gue punya kesempatan untuk berkelompok eksklusif bersama orang-orang soleh, gue akan lebih selektif mengenai komunitas eksklufis mana yang akan gue ikuti.

Dear, para soleh-solehah, mau gue bocorkan satu hal?
Teman-teman kampus yang jadi objek dakwah  kalian itu terlalu enggan bergabung dengan kalian karena merasa kalian itu eksklusif.

Sekian.