Minggu, 15 Januari 2017

STEP@TUAT; A How To (Part 1)

Sehubungan dengan post sebelumnya, pada post kali ini gue mau bercerita mengenai bagaimana proses persiapan gue untuk mendaftar program STEP. Gue mendaftar STEP dua tahun lalu, berangkat pada Oktober 2015, dan sudah kembali ke Bogor pada September 2016.

First of all, I want to tell you that having a whole year not in your hometown itu harus dikompensasi dengan hal yang tidak sedikit. Gue pribadi kehilangan banyak momen bersejarah dari teman-teman gue. Gue melewatkan setahun periode wisuda, beberapa belas nikahan, dan entah berapa lahiran. Gue ga bisa mendampingi pas ibu harus tengah malam ke rumah sakit (untungnya ga kenapa-kenapa, cuma sempet ngedrop doang), gue ga bisa hadir ketika ibu pelantikan naik jabatan, ga ikutan acara liburan keluarga ke Bukittinggi, and so on.

Dengan sebegitu banyak hal yang gue lewatkan di Bogor dan sekitarnya, yang bisa gue lakukan selama di Jepang adalah bersenang-bersenang. Hahaha. Jangan sampai gue menyesal karena ga bisa merasakan momen di Bogor dan sekitarnya, lalu ditambah di Jepang juga cuma diem-diem aja.

Oke, stop ngelantur dan curhatnya, let's start.

Pada tulisan kali ini (dan yang akan datang) gue mau menceritakan mengenai beberapa syarat kelengkapan berkas yang proses mendapatkannya agak lumayan. Definisi 'lumayan' di sini artinya tidak melulu sulit, bisa jadi tricky, malesin *misal, urusan ke DIT.AP IPB*, ngabisin duit tabungan, and so on.

Surat rekomendasi
Dari sekian banyak syarat pendaftaran, salah satu yang bikin deg-deg-ser adalah surat rekomendasi dari dosen. Diminta 2 pula.

Usul gue sih yang pertama adalah jelas dosen pembimbing. Ibaratnya selama di kampus, beliau lah orang tua kita. Kunci lulus atau enggaknya kita (kuasa Allah sih pasti ya) juga ada di tangan beliau. Dengan minta rekomendasi dari beliau, semisal nanti lolos juga enak ketika ngadep untuk laporan. That's what I did 2 years ago. "Pak, terkait surat rekomendasi exchange yang waktu itu, Alhamdulillah saya lolos..". Ga mungkin kan kita ngilang setahun ke negara orang dan Si Bapak ga tau. Ga sopan juga lagian kalau ga bilang.

Secara ga langsung, ketika beliau bikin surat rekomendasi untuk kita itu beliau merestui bahwa anak bimbingnya punya probabilitas ngilang setahun ke negara orang, haha.

Meminta rekomendasi ke beliau juga nanti bisa bikin enak ngobrol untuk ke depannya, variabel penelitian bisa dikurangi atau enggak (karena takut keburu berangkat), apakah setahun ini mau dijadiin cuti atau enggak, sks dari sana mau diakui di Indonesia atau enggak, mau penelitian di Jepang atau di Indonesia, dan lain sebagainya.

Usul untuk dosen kedua, cari dosen yang kita dekat dengan beliau. Entah karena kita jadi asisten mata kuliah beliau lah, entah karena kita aktif ketika beliau ngajar lah, entah beliau temen orang tua kita lah, entah beliau orang tuanya temen deket kita lah, entah apapun lah. Pastikan juga beliau "ngeuh" sama kita. Kalau kita ngerasa dekat tapi beliaunya kagak ngerasa sih itu namanya kebanyakan ngarep.

Kenapa nyari yang dekat? Karena kalau sama yang dekat, insya Allah rekomendasinya bagus. Lagian gunanya nyari surat rekomendasi kan untuk 'menjual diri'. Kalau minta rekomendasi ke dosen yang kita sering telat datang kuliahnya mah berabe.
"..mahasiswa ini kurang bertanggung jawab karena sering terlambat datang ke kuliah saya.."
END
Bhay

Alternatif lain, cari dosen yang sering stand by di kampus. In case ada perintilan yang kelewatan, gampang untuk nyarinya lagi. Dua tahun lalu gue memilih dosen kedua untuk rekomendasi dengan cara seperti ini. Entah sial atau hoki, ternyata ada hal yang masih harus ditambahkan setelah gue mengumpulkan berkas. Lucky me, Si Ibu mudah ditemui, Alhamdulillah.

Berkas rekomendasi dosen ini ada formatnya di form pendaftaran dan gue hanya meminta beliau-beliau untuk mengisi saja (dengan kata-kata yang sudah gue tulis terlebih dahulu, hehe). Ternyata eh ternyata, agar lebih resmi dan rahasia. Ditmawa meminta agar kertas selembar tersebut dimasukkan ke dalam amplop putih, di-seal, lalu dosen yang bersangkutan mendatangani seal-nya sebagai tanda bahwa bener lho surat ini dibikin beliau dan ga gue otak-atik.

Actually ga rahasia-rahasia amat sih, gue udah kepalang baca tulisan Bapak tentang gue (ketika mau ngerapihin berkas sesuai halaman) dan gue jadi terlihat keren di surat rekomendasi dari Bapak. I love you full lah, Pak.

Alternatif lain (lagi), cari dosen yang gelarnya profesor. Berhubung tujuan exchange ini adalah untuk pendidikan, berhubung profesor adalah gelar tertinggi dalam dunia akademisi, ya pikir deh ya hubungannya apa, hahaha.

Keterangan kemampuan bahasa Inggris
Ini mah ga ada cara lain, ya tes atuhlah.

Kalau kita ngerasa skill English kita ga cupu-cupu amat, sekalian aja tes beneran. Dua tahun lalu itu gue ikutan TOEFL PBT di UPT Bahasa IPB di Kampus Gunung Gede, harganya 400 ribu (untuk 2017 ini pekan lalu gue cek, harganya udah jadi 500 ribu). Tes beneran ini umumnya berlaku selama dua tahun, or at least ada semacam rahasia umum dan kesepakatan bersama bahwa itu bisa digunakan selama dua tahun. Lumayan bisa dipake untuk syarat SKL dan ngelamar kerja kalau udah lulus *itu sih gue*.

TOEFL ini menurut gue agak risky, tricky, dan ngabisin uang tabungan gue. Dua tahun lalu TOEFL di IPB diadakan tiap minggu, minggu ini di Dramaga, minggu depannya di Gunung Gede, gitu terus berulang. Sistem TOEFL di IPB itu pakai kuota, jadi kalau kuotanya udah penuh ya ikutan sesi setelahnya. Nah berhubung gue ngincer yang di Gunung Gede biar ga terlalu jauh dari rumah dan ternyata kuotanya udah penuh, alhasil gue baru tes pada Sabtu ketiga setelah pendaftaran dan hasilnya baru bisa diambil sekitar 8-12 hari kerja setelah tes. Tricky abis kan? Hahaha. Syarat ini sepertinya harus dikerjain duluan.

Kalau ikutan yang TOEFL prediction gitu di tempat-tempat les di Bogor, harganya skitar 150-200 ribu dan cuma berlaku 3-6 bulan. Trus ga resmi pula, power-nya ga sesakti hasil tes beneran.

Selain TOEFL, mau IELTS atau apa juga boleh. Intinya bukti yang menyatakan bahwa kita bisa bahasa Inggris karena selama perkuliahan (kecuali mata kuliah Bahasa Jepang) menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar.

Karena pendaftar dari IPB yang cukup banyak di tahun gue mendaftar (ada 7 orang), maka dilangsungkan sesi wawancara untuk semacam 'seleksi tambahan' dari IPB. Gue yakin bahwa hasil TOEFL gue yang ketika itu belum menyentuh angka 500 bakal dijadikan topik hangat ketika wawancara..
..dan bener aja.

Akhirnya gue ngeles ketika wawancara (pakai bahasa Inggris pula) bahwa poin utama dari komunikasi bukanlah tentang kesamaan bahasa, tetapi saling mengerti antara kedua pihak yang berkomunikasi.
Tsaaaaaaah
Gaya banget kan gue
*ditimpuk

Thanks to modul daskom yang pernah iseng dibaca.
:D

----------

Inilah dua dari beberapa hal yang bagi gue paling dagdigdug pas mengusahakannya. Hal lain yang ga-se-dagdigdug dua hal ini akan disambung secepatnya.

いじょうです
ありがとうございます
*bowing

(Dibaca: Ijou desu, arigatougozaimasu; Artinya: that's all, thank you)

Jumat, 13 Januari 2017

Aksi Mahasiswa

Preface
Gue terlalu geregetan untuk ga nulis apapun terkait aksi mahasiswa 12 Januari 2016 kemarin. Sesungguhnya ide menulis ini sudah ada sejak pertama kali dengar mau ada aksi, tapi apa daya baru berhasil diselesaikan sekarang.

Let's begin.
Kalau kata Bung Karno mah,
Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia
Ini artinya apa? Artinya adalah pemuda itu aset. Masa muda itu merupakan aset. Maka jangan heran kalau dunia mengharapkan para pemuda banyak melakukan hal besar.

Pertama-tama, bagi gue aksi itu sesuai dengan arti harfiahnya; bergerak, melakukan sesuatu, tidak berpangku tangan. Kemudian sebagai mahasiswa, gue menghormati dua tipe mahasiswa berdasarkan jenis aksi yang biasa mereka kerjakan.

Tipe 1
Mahasiswa tipe 1 ini adalah teman-teman yang demen bergerak di bidang akademik. Teman-teman kita ini percaya bahwa amanah utama mereka dikirim orang tuanya ke perantauan adalah untuk belajar. Ini yang bener. Bener banget malah. Alhasil mereka belajar dengan rajin, pada jago bahasa Inggris, rajin bikin paper, ikut conference atau lomba yang bukan tidak mungkin skalanya mencapai skala internasional *intergalaksi juga dijabanin mungkin kalau ada*. Teman-teman ini berharap bahwa ilmu yang mereka peroleh sampai intergalaksi itu di masa depan dapat bermanfaat untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.
Ayo bilang aamiin rame-rame.

Tipe 2
Mahasiswa tipe 2 ini biasanya adalah teman-teman yang ikutan organisasi. Biasanya gerakannya spesifik ke arah kemasyarakatan/kemanusiaan, sosial, dan politik. Tidak sedikit aksi nyata teman-teman tipe 2 ini yang hasilnya dapat terlihat dalam waktu relatif singkat misal kegiatan turun ke desa, pengabdian masyarakat, pendampingan UMKM, sampai aksi mahasiswa mengajar ke daerah-daerah sekitar kampusnya. Banyak dari teman-teman kita ini (khususnya yang kuliah di PTN) berpendapat bahwa mereka bisa berkuliah karena salah-satunya ada peran pajak untuk menyubsidi biaya sehingga dapat dijangkau. Which is pajak itu dibayarkan oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk warga yang berada dalam katagori kurang mampu. Maka ketika ada rakyat yang merasa tertindas (misal karena harga bahan-bahan pada naik [ya kurang-lebih penyebab aksi kali ini lah]) mereka merasa harus melakukan sesuatu.

Dua tipe mahasiswa di atas adalah dua tipe yang gue hormati.
They know what to do. They have their own way/vision to create a better Indonesia.

Gue sangat mengapresiasi jika kedua tipe ini ga saling menjatuhkan satu sama lain, toh niatnya sama-sama untuk Indonesia kan?

Tipe 3
Nah, ini adalah tipe yang gue kadang suka ga abis pikir. Ini adalah tipe yang kerjanya nyinyir dengan teman-temannya yang termasuk tipe 2, bilang aksi ngerusuh lah, ga ada gunanya lah, ga jelas asal-mula kajiannya kayak apa lah, kuliah aja masih minta uang ortu trus sok-sokan mau aksi lah, aksinya ga ngasih solusi lah, sebagai mahasiswa harusnya lebih cerdas lah, apa lah segala rupa dikata-katain.

Padahal orang tipe 3 ini kalau diajak hadir kajian pendalaman materi aksi, beeeeeuh, pasti adaaaaaa aja alasannya untuk nolak.

Tipe ini juga adalah tipe yang sering mencari sejuta alasan ketika 'ditodong' untuk menjadi mahasiswa tipe 1. Ya ngeles ga jago bahasa Inggris lah, ga jago nulis lah, IPK ngepas lah, apa lah ada aja alesannya.

Hellooooow
Kalau kebanyakan nyinyir, entar keburu tua, entar keburu 'ga berpotensi' apa-apa. Alasan untuk ga ngapa-ngapain mah memang pasti ketemu kalau dicari. Mending coba mulai melakukan sesuatu dari sekarang.

----------

Gue alhamdulillah selama jadi mahasiswa pernah berusaha untuk menjadi tipe 1 dan tipe 2. Gue pernah coba-coba ikut lomba tentang pertanian, meskipun nyaris ga juara. Gue juga pernah ikutan jadi tim koordinator aksi, meskipun cuma ngurusin carter angkot dan P3K. Overall, gue juga ada bayangan kok ke depannya mau melakukan apa untuk Indonesia. At least, gue mencoba melakukan sesuatu.

Akhir kata, kalau mengutip kata-kata Bang Faldo Maldini mah,
"Ya gapapa mahasiswa cuma bisa nuntut. Kalau mahasiswa bisa ngasih solusi mah dipertanyakan itu gunanya para staff ahli di kepresidenan."
NAH INI!!

Untuk teman-teman yang aksi (terlepas dari apapun jenis pergerakan yang dilakukan),
Selamat luruskan niat, komentator mah ya udah lah ya biarin jadi komentator aja. Kalau ada pertandingan bola juga kan pada akhirnya yang dilihat adalah pemainnya, bukan komentatornya. Kalau gagal, coba lagi. Kalau salah, perbaiki, mumpung masih jadi mahasiswa, mumpung masih 'boleh' salah.

Cheers!!

Kamis, 05 Januari 2017

STEP@TUAT; Kesempatan Exchange untuk Mahasiswa IPB

Tersebutlah sebuah departemen tetangga di fakultas. Departemen ini termasuk departemen perintis yang terakreditasi internasional di IPB, bahkan ketika SMA gue sempat mau masuk departemen ini, haha. Departemen ini termasuk dalam departemen yang mahasiswanya bisa ikutan program exchange AIMS (ASEAN International Mobility for Students). Selain dari departemen tetangga ini, gue hanya tau Faperta (seluruh departemen di Faperta) yang bisa ikutan program tersebut, mohon dikoreksi kalau salah but the point of my post is not about AIMS.

Ketika tingkat 2 dan gabung BEM fakultas, di akhir kepengurusan ada kakak kelas dari departemen tetangga tersebut yang ikutan AIMS. Trus ga lama mulai iseng cari tau dan kesel sendiri karena departemen gue ga bisa, haha.

Gue lupa bahwa setahun sebelumnya pernah dikasih tau oleh Si Teteh tentang program exchange lain, namanya STEP@TUAT, Short Term Exchange Program at Tokyo University of Agriculture and Technology.

TUAT dan IPB ini mereka bersaudara. Sister school istilah gaulnya mah. TUAT membuka kesempatan exchange bagi mahasiswa sister school yang tersebar di seluruh dunia melalui program STEP ini. Pada tahun gue terdapat 20 orang yang mengikuti program STEP dan berasal dari seluruh dunia. Mulai tahun 2017 ini kata webnya ditambah jadi 25 orang.

Bukan mahasiswa IPB?
Jangan khawatir..
Setahu saya *elah tumben pake 'saya'* ada kampus-kampus lain di Indonesia yang juga sister school dengan TUAT yaitu ITB, Unila, dan UGM.

Hal yang agak membuat gue sedih, tahun 2016-2017 ga ada perwakilan STEP dari IPB, kayaknya karena pada ga tau deh..

STEP@TUAT terbuka untuk program undergraduate, master student, dan juga doctoral student. Program berlangsung selama setahun, yaitu mulai Oktober hingga September tahun depannya. Kehidupan selama di sana di-cover oleh JASSO scholarship.

More info:
Kindly open this link and read carefully
(carilah ada berapa banyak foto gue di sana, hahaha)

Unduh berkas pendaftarannya

Jangan lupa tanya-tanya juga ke International Office di masing-masing kampus yaaa!!

Yang mahasiswa IPB, tau ga International Office IPB ada di mana? Haha
International Office IPB lebih dikenal dengan nama ICO, International dan Collaboration Office. Terletak di Gedung Andi Hakim Nasution. Kalau berdiri dari ATM Mandiri, nanti kelihatan.

Untuk mahasiswa IPB, selain main ke ICO, main juga ke Ditmawa ya untuk nanya-nanya. Sila datang ke Sub Direktorat Pengembangan Karakter dan Mobilitas karena ada beberapa berkas yang bisa disediakan oleh ICO/Ditmawa.

Terlepas dari apapun niat kalian untuk ikutan program pertukaran pelajar, entah mau jalan-jalan, entah nyari link buat lanjut sekolah, entah untuk mempercantik tampilan instagram, entah apapun itu, saya *ciye pake 'saya' lagi* sepenuh hati merekomendasikan karena akan banyak sekali pelajaran yang didapat ketika berada jauh dari zona aman.

Kalau kata Imam Syafi'i mah,
Merantaulah, maka akan kau temukan pengganti kerabat dan kawan.
I strongly agree.
Uuuuuu, kangen Tokyo kan jadinyaaaa :'

Sesungguhnya, banyak program sejenis dari kampus lain di Jepang tapi gue ga hapal namanya. Ada HUSTEP, URSTEP, dan entah apa lagi deh. For further info, kindly check ICO or Ditmawa or your own campus' International Office.

Kisah gue selama di Jepang dapat dilihat pada tautan #MatahariAkar di blog ini (atau klik di sini). Belum banyak sih karena keasikan main selama di Jepang sampai lupa nulis. Hahaha..
#AlesanAjaKamuDiiil

Tips and trick untuk mengisi berkas, insya Allah, akan gue sambung di post berikutnya.
Cheers!!

Sumber gambar (klik di sini)

Dua puluh tahun lagi ga mau dihantui kan? Makanya dicoba aja sekarang.
Hehehe

Footnote
For earlier tips and trick, kindly contact me on:
Line id : .fadila. (ada . sebelum dan sesudah nama)
Instagram : @dilahoy

Selasa, 20 Desember 2016

Eksklusifisme Anak Soleh

Alkisah ada seorang mantan komti gue pas TPB, sebut saja namanya X, dan gue berteman dengan si X ini di chat application Line (karena punya nomornya). Sudah setahun-dua-tahun belakangan ini, status di timeline si X dipenuhi banyak hal tentang kesibukan usahanya mencari rezeki halal dan aktivitas memanah. Wuidiiih, keren lah ya memanah, salah satu dari tiga jenis olah raga yang disunnahkan oleh Rasul, tuh. Olah raga lainnya yang disunnahkan adalah berenang dan berkuda.

Si X ini aktif di dalam lembaga dakwah Islam di kampus gue, for short banyak teman yang menyebut lembaga ini dengan menyingkat nama beken masjid kampus gue, Alh*rr. Awalnya gue ga pernah notice tentang status-status si X. Hingga beberapa waktu lalu sempat agak iseng membaca statusnya dan tetiba ngeuh bahwa si X ini sedang repot-repot mengembangkan klub memanah Alh*rr. Kalau kata di statusnya sih sepertinya namanya Alh*rr Archery Community. Di statusnya itu si X sempat cerita tentang mahalnya harga busur dan anak panah, jumlah peralatan yang terbatas (karena mahal) sehingga harus gantian, dan lain sebagainya. Pokoknya kalau baca statusnya, dia keliatan banget lah sedang berjuang mengembangkan komunitas memanah itu.

Setelah mikir beberapa detik, rasanya gue pengen teriak di depan mukanya (fyi, berhubung gue anak baris berbaris, jadi kalau gue bilang pengen teriak di depan mukanya that means GUE EMANG PENGEN TERIAK BENERAN DI DEPAN MUKANYA),
WOY, LU GA USAH SOK-SOK SUSAH BERJUANG BIKIN KOMUNITAS. ITU UKM MEMANAH DI IPB UDAH ADA DARI DULU!!

Terkait tentang judul post ini, that's what I want to talk about.

Dari foto-foto di status si X, keliatan banget kok bahwa member perempuan di komunitas itu adalah perempuan yang jilbab panjang dan pakai rok. Kalau menganalisa dari nama komunitasnya sih sepertinya member laki-lakinya bercelana di atas mata kaki dan jenggotan. Mereka adalah orang-orang berlabel soleh-solehah di lingkungannya.

Padahal gue tau, di kalangan soleh-solehah, salah satu pertanyaan yang masih sulit ditemukan jawabannya adalah bagaimana cara memberi warna nilai-nilai keislaman di sebanyak mungkin lini kehidupan. Gue tau juga bahwa di dalam kurikulum pengajian anak soleh-solehah itu ada instruksi untuk bergaul secara luas. 

Tapi kalau orang-orang soleh-solehahnya malah bikin komunitas eksklusif sendiri, ya dipikir aja gimana pertanyaan itu bisa terjawab.

Wallahu'alam bisshawab
Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu terlalu mengedepankan ghadul bashar (menjaga pandangan), dengan asumsi teman-teman di UKM Panahan kampus itu tidak seluruhnya berkerudung, sehingga akhirnya lebih memilih membuat klub memanah eksklusif yang isinya cuma kalangan tertentu.

Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu lupa bahwa pahala mendakwahi saudara-saudara muslim yang berada di zona 'kurang' hingga dapat berhijrah ke zona keimanan yang lebih baik itu pahalanya luar biasa.

Mungkin para soleh-solehah dan bikin komunitas panahan itu lupa bahwa berdakwah itu harusnya ke seluruh penjuru bumi, bukan di halaman masjid aja. Kalau para sahabat ga berhijrah untuk berdakwah, mungkin Islam belum akan sampai ke nusantara.

Mungkin para soleh-solehah itu terlalu menelan bulat-bulat pepatah "Berkawan dengan pandai besi akan mendapat panas, berkawan dengan tukang minyak wangi akan terkena wangi". Mungkin probabilitas "Berkawan dengan pandai besi bisa jadi nanti dikasih hadiah pedang yang bagus" ga dimasukkan dalam perhitungan. Padahal setiap orang pasti punya hal baik, kan?

Mungkin gue yang iri karena ga diajak bergabung di komunitas memanah anak soleh-solehah? Haha, insya Allah ga iri. Teman gue banyak kok. Lagipula, sepertinya gue punya prinsip berbeda mengenai definisi 'azas kebermanfaatan' sebagai muslimah yang punya kewajiban untuk berdakwah.

Mungkin gue kurang solehah?
Nah, ini yang paling mungkin. Gue kurang solehah sehingga ga paham kenapa mereka harus bikin komunitas eksklusif untuk berlatih panahan padahal UKM Panahan di kampus udah ada dari dulu. Lagipula, ah, apa atuh gue mah, pake rok aja baru semester 7.

Mungkin gue terlalu suudzon?
Nah, bisa jadi. Manusia memang banyak kurangnya. Mohon maaf jika ada yang tersinggung, semata-mata gue menulis ini setelah berpikir dan menganalisa kok, bukan asal nulis.
Wallahu'alam bisshawab.

Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat bagi diri gue sendiri, syukur-syukur jika bermanfaat bagi orang lain. Semoga jika di masa yang akan dateng gue punya kesempatan untuk berkelompok eksklusif bersama orang-orang soleh, gue akan lebih selektif mengenai komunitas eksklufis mana yang akan gue ikuti.

Dear, para soleh-solehah, mau gue bocorkan satu hal?
Teman-teman kampus yang jadi objek dakwah  kalian itu terlalu enggan bergabung dengan kalian karena merasa kalian itu eksklusif.

Sekian.

Kamis, 08 Desember 2016

Potensi

Beberapa pekan lalu gue sempat naik motor susul-susulan dengan Yamaha R15. FYI, gue mengendarai motor Honda Vario. Jangan bayangkan susul-susulan ini kayak di MotoGP atau sejenisnya. Salah besar. Haha..

Pada awalnya gue berniat ke kampus. Setelah melewati Jalan Baru dan Yasmin, tibalah gue di perempatan Semplak. Beberapa detik setelah gue melaju ketika lampu sudah hijau, gue (beserta motor, of course) disusul oleh sebuah motor R15. Bagi orang Bogor atau yang pernah menjadi civitas akademika IPB, pasti tau lah ya keadaan jalanan menuju kampus itu kayak apa.

Motor R15 yang menyalip gue itu tak lama berenti untuk memberi giliran pengendara dari arah lain untuk berbelok di ujung SBJ dan gue berhasil mendahuluinya di terminal Trans Pakuan. Di dekat SD Insan Kamil, gue kembali disusul oleh R15 dan silih berganti saling-susul sepanjang Jalan Raya Dramaga.

Aksi susul-susulan antara Honda Vario dan Yamaha R15 ini finally dimenangkan oleh Honda Vario. Gue masuk ke dalam verification gate lebih dahulu daripada sang R15.

Pesan Moral
Sebenarnya masing-masing dari kita semua punya potensi. Pertanyaannya adalah tinggal bagaimana cara kita meletakkan potensi diri kita tersebut. Contohnya ya motor R15 itu. Dengan potensinya yang luar biasa, motor R15 ga akan beda jauh performanya dengan Vario jika melaju di medan yang salah, misal Dramaga. Beda kasus jika R15 itu dipakai untuk menyusuri Jalan Raya Bogor, Pajajaran, atau diajak untuk melaju ke puncak pass, beuh itu mah ga usah ditanya.

Begitu juga kita. Ketika performa kita tidak terlalu baik dalam melakukan sesuatu, bisa jadi karena kita berada di medan yang salah. Gue yang ga bisa menggambar akan salah banget kalau disuruh menggambar, lain urusannya kalau gue dikasih buku bagus buat dibaca, atau dikasih makanan enak untuk dimakan.

Kalau kata Einstein mah,
Sumber gambar [klik]

Kalau kata Cherrybelle mah,

Don't cry, don't be shy, kamu cantik apa adanya.
Sadari, syukuri, dirimu sempurna~
..
Dirimu indah, pancarkan sinarmuuuuu~

#naon

Yuhuuuu~
Jangan sedih, cuy. Kalau ngerasa masih cupu, mungkin medan pertarungannya aja yang belum ketemu *pukpuk
Cheers!!

Kamis, 17 November 2016

Menikah dan Kemuliaan Wanita

Beberapa hari lalu tab gue berdering setelah gue shalat Subuh tanda ada sebuah chat WhatsApp yang masuk. Betapa mengejutkannya ketika ternyata chat itu dari teman dekat gue yang meminta bantuan gue untuk menjadi bridesmaid-nya. She'll getting married.

Hal yang membuat gue tertakjub-takjub adalah ketika gue menanyakan siapa calonnya *itu juga dipancing dulu, haha*. Masya Allah. Keren lah pokoknya. Insya Allah calonnya memiliki pemahaman agama yang baik, latar belakang akademik yang ih wow, dan kapabilitas yang mumpuni di bidang kepemimpinan.

..dan gue tetiba sempat galau..
Ya Allah, masih ada ga ya, satu aja yang kayak gitu, buat hamba-Mu yang begajulan ini?

Tapi untungnya gue bukan tipikal orang yang mudah galau berkepanjangan. Kalau kebetulan sedang ngobrol-ngobrol random dan gue bertingkah galau itu sebenarnya agak hiperbola aja. Gue ga terlalu ambil pusing untuk hal yang kayak gitu. Ketika orang yang gue kecengin bertahun-tahun ternyata kepergok oleh teman gue sedang jalan berdua dengan cewek lain, yang gue lakukan adalah..
..menghapus namanya dari prakata di skripsi gue.

Hahaha
Sesimpel itu
Ga ada sama sekali acara nangis di bawah shower atau berpikir buat loncat di jalur subway Tokyo Metro. Bahkan oleh adik tingkat sebimbingan aja, mantan kecengan gue itu malah dikasih nama baru, 'Si Dia yang Namanya Dihapus dari Prakata'

Oke, kembali ke topik. Setelah sempat galau sebentar, gue jadi berpikir banyak hal. FYI, sejak di Jepang, gue jadi sering mikir dengan cara yang agak benar. Gue jadi sering merenungkan banyak hal sampai akhirnya gue punya pemahaman baru yang (semoga) ga melenceng. Termasuk urusan menikah dan berdoa mengenai spesifikasi jodoh harapan ini.

Gue mengamati banyak perempuan yang menargetkan memiliki pasangan dengan spesifikasi segambreng. Ya ga salah sih, gue juga sebenarnya gitu. Tapi berdasarkan dari ilmu yang gue dapatkan ketika belajar matematika (gue lupa cabang ilmunya namanya apa), kalau semua spesifikasi itu penghubungnya adalah 'dan', ampun lah itu susah cuy menemukannya.

The point is, kemuliaan wanita tidak tergantung dari siapa pendampingnya. Ketika kita (sebagai wanita) memiliki pasangan hidup yang super kece, bukan berarti kita bisa leha-leha dan berbangga hati. Salah-salah, kepeleset jadi riya. The other point is, ketika ternyata pasangan hidup kita ga se-wow yang kita harapkan, bukan berarti juga kita bersedih dan menganggap Allah ga adil.

Laki-laki baik untuk perempuan baik?
Hey, girls. Who knows dia jodoh lu di dunia-akhirat atau bukan? Ketika kita ngerasa jodoh kita "..kok gini banget sih ya Allah?.." bisa jadi itu ladang pahala buat kita ketika berusaha memperbaiki dia ke jalan yang lebih baik, bisa jadi di akhirat nanti kita dipertemukan dengan yang lebih baik.

Hal besar yang berhasil gue renungkan adalah siapapun suaminya, memperbaiki diri itu kewajiban semua orang. Di mata Allah, keutamaan seorang hamba itu dilihat dari ketaatannya kan? Nah ya gitu. Aduh, agak susah euy membahasamanusiakannya. Di Al-Quran sendiri sudah tercantum kisah beberapa wanita yang kemuliaan ataupun ketidakmuliaannya ga tergantung dari suaminya.

Kisah 1
Merasa sepenuh hati berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya? Merasa punya jodoh yang "..kok gini banget sih ya Allah.."?. Tenang dulu. Siapa yang berhak ngerasa lebih "..kok dia gini banget sih ya Allah.." dibandingkan 'Asiyah istri Fir'aun?

Fir'aun, coy.
Fir'aun #sakali
Orang yang menganggap dirinya Tuhan. Orang yang bahkan namanya disebut berkali-kali di Al-Quran ketika dibutuhkan aktor untuk merepresentasikan orang yang dzalimnya minta ampun dan orang yang melewati batas.

Tapi 'Asiyah ga ikut-ikuta dzalim kayak suaminya. Bahkan 'Asiyah disiksa karena ga mengakui Fir'aun sebagai tuhan. 'Asiyah ini lalu diceritakan di dalam Al-Quran dan dijadikan perumpamaan bagi orang-orang yang beriman .

Kisah 2
Merasa punya suami shalih lalu yakin masuk surga? Ga sesederhana itu juga. Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth salah-duanya. Yang satu ikutan tenggelam ketika banjir bandang, yang satunya meninggal karena kota yang dihancurkan dalam semalam. Dua-duanya karena ga beriman. Bahkan di dalam Al-Quran keduanya dijadikan perumpamaan bagi orang-orang kafir.

Kisah 3
Merasa belum punya suami trus jadi galau, "..Ya Allah, setengah agamaku belum sempurna.."? Ga gitu juga keleus. Di Al-Quran juga ada contohnya. Maryam ga punya suami lhoooo, tapi beliau menjaga diri sebaik mungkin dan ditiupkan ruh ke dalam rahimnya. Spesial, bahkan namanya diabadikan jadi sebuah nama surat.

This is the end of this post. Sometimes Usually I'm getting confused on making a good conclusion. 

Segala kebenaran yang ada di post ini datangnya dari Allah. Kalau ada yang salah-salah, itu datangnya dari ketidaksempurnaan gue sebagai manusia. Semata-mata gue menulis ini untuk jadi pengingat, khususnya pengingat bagi diri sendiri.

Akhir kata,
Selamat menjaga dan terus-menerus memperbaiki diri!!
Uyeeeeeey
:)

Reference:
QS 66: 10-12

Sabtu, 05 November 2016

Kemana Saja

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kemana saja kah gue selama lebih dari dua bulan ini?
Itu juga mungkin ya, mungkin ada yang bertanya,.

Banyak hal yang gue lakukan dalam dua bulan terakhir. Gue pulang dari Jepang tanggal 15 September. Sejak Agustus hingga sesaat sebelum gue pulang, there's soooooo much thing to do. Ngurus pindahan ke City Office Fuchu, menutup kontrak dengan bank, ngurus administrasi program exchange terkait kepulangan, serta pamitan dengan sebanyak mungkin orang yang bisa dipamitin (pake acara nginep di apato Ina segala pada malam sebelum upacara penutupan program exchange).

Tak lupa, gue sempat naik Fuji lagi di pertengahan Agustus. Main ke Tokyo Disney Sea bersama Mbak Indri di awal Agustus, juga main ke Tokyo Disney Land bersama Nurul di akhir Agustus. Sempat ikutan summer camp sepekan sebelum naik Fuji jilid 2 dan dapat honor *finally honornya abis buat naik Fuji dan main ke Disney Land*. Sempat juga main ke Hokkaido bersama Uni Nova sekitar seminggu sebelum pulang.

Begitu gue pulang ke Indonesia di hari Kamis, weekend-nya langsung jadi panitia nikahan temen SMA. Lalu Rabu depannya langsung jadi pendamping wisuda
Hahaha
Sibuk cyiiiin..

Selama di Bogor ini sesungguhnya gue tetap menulis kok. Instead of nulis blog, gue nulis skripsi. Alhamdulillah Kamis 3 November 2016 kemarin sudah sidang, makanya sekarang bisa mulai bebersih sarang laba-laba di blog.

Fadila, S.TP

Akhirnya nama gue agak memanjang sedikit
Credit: Septian Ventura
*Noh gue tulis nama lu, Seeeeep*

Banyak hal yang gue alami setelah pulang ke Bogor. Salah satunya adalah rumah yang pindah sehingga gue benar-benar serasa kayak anak baru, ga tau di mana tempat gelas, ga tau di mana lap, ga tau di mana garam, ga tau di mana saklar dan stop kontak, segala ga tau lah. Hal lainnya adalah makanan di Indonesia rasanya jadi pada keasinan kalau dibandingkan dengan makanan Jepang. Makan Ind*mie gorenga aja sekarang bumbunya ga semua dipake.

Selain itu banyak juga hal 'meresahkan' yang berseliweran di kepala dan menunggu untuk ditulis, mulai dari ojek online lah, program Green-green-an di kampus gue tapi fasilitasnya masih minim lah, ibu-ibu kerudungan jilbab panjang yang naik motor dan jilbabnya nutupin lampu lah. Banyak sih actually..
Ayo ayo nulis Diiiiil

Daftar kegiatan selama beberapa waktu ke depan berkisar antara revisian-meriksa laporan (jadi asprak lagi euy)-nulis blog-ngelamar kerja-dan berulang meski tanpa siklus. Ada juga rencana ngurus e-KTP *e-KTP gue belom jadi coy selama bertahun-tahun ini*, udah nyoba datang sekali ke Disdukcapil Kota Bogor, tapinya yaaaah you know lah birokrasi Indonesia kayak apa. Tahun lalu sebelum berangkat itu sesungguhnya gue sempat rekam identitas lagi untuk kedua kalinya, hal paling menyedihkan in this whole year adalah sampai beberapa waktu lalu ketika gue mau menanyakan keberadaan e-KTP gue itu ternyata blanko kartunya belom ada.

((GA ADA BLANKO E-KTP DI BOGOR SELAMA SETAHUN))
Kang Bima Arya, punten atuhlah ini aku harus apaaaaaa..

Buset dah, niat apa kagak sih negara ini buat ngedata warganya. Tahun lalu begitu gue mendarat di Narita, pas keluar bandara itu gue udah punya KTP Jepang. Tuh kan banding-bandingin lagi sama Jepang.

Ngomong-ngomong tentang Jepang, culture shock is real, gan. Gue sudah merasakan.

Anyhow, here I miss using English in my daily, with little bit Japanese sometimes. Entah gimana awalnya tapi akhir-akhir ini grup BPH BEM KM gue mengikuti program Pak Ridwan Kamil, Kamis Inggris.. and I spend all day waiting for Thursday. Gue juga merindukan tatakrama dan ketertiban Jepang yang ih waw banget. Belum juga dua bulan, but I already missed Japan so much.

Akhir kata,
Indonesia masih butuh banyak orang-orang kece untuk mengisi kemerdekaan dan mewujudkan Pembukaan UUD 1945.
HIDUP MAHASISWA!!