Selasa, 28 September 2010

Mencari Pembicara, Gitu Aja Kok Repot

Pada suatu hari Sabtu yang cerah, tanggal 17 April 2010, gw beserta dua orang temen gw pergi ke HAAJ untuk mengajukan permohonan menjadi pembicara Korma.

Kenapa gw bisa inget persis tanggalnya? Karena pada hari Minggu-nya, tanggal 18 April, Vocsa diminta tampil di closing SSP. Trus pada hari Senin-nya, 19 April, itu hari pertama Tadzkirah.

Biar bisa memahami dengan lebih mudah, gw akan memberikan deskripsi singkat mengenai teman perjalanan gw yang namanya akan gw samarkan menjadi A1 dan A2.

A1
DKM. KIR. Perisai Ksatria. Biologi. Semi perfeksionis.

A2
DKM. KIR. Perisai Ksatria. Kimia. Nyantai. Blogger.

Jadi tuh gini, berawal dari keberangkatan, kita berniat untuk shalat ashar dulu d Smansa sebelum ke stasiun. Entah shalat ashar-nya terlalu lama, entah keretanya yang kecepetan, atau mungkin dua-duanya, atau malah mungkin karena kita pamitnya kelamaan, yang jelas, begitu kita nyampe stasiun Bogor tuh keretanya udah berangkat. Kereta berikutnya tuh adanya jam 5 kurang. Jadinya kita menghabiskan waktu dengan menunggu di stasiun.

Saat keretanya datang, kita bertiga langsung bergegas naik ke kereta. Trus, setelah ada obrolan singkat mengenai 'Siapa yang tau HAAJ?' kesimpulan yang didapat yaitu, gw adalah orang yang terakhir kali ke HAAJ dalam waktu dekat.
Mau tau ceritanya, klik di sini.

Saat di kereta, dengan sikap rada panikan gara-gara semi perfeksionis, A1 nanya ke gw..
A1 : Dil, nanti kita turunnya di mana?
Gw : Di Cikini..
A1 : Cikini tuh stasiun ke berapa ?
Gw : Gw ga pernah ngitungin, tapi masih jauh, abis Manggarai..


Ga berapa lama kemudian, tibalah mas-mas yang ngecekin karcis. Lalu, A1 berkata pada gw dan A2.
A1 : Eh, apa gw tanya aja ya ke mas-masnya?
Gw : Ga usah. Palingan jawabannya juga abis Manggarai.
A1 : Iya, tapi itu stasiun keberapa?
A2 : Percaya sama gw, jawabannya bakalan sama, abis Manggarai..


Tapi A1 ga semudah itu percaya sama gw dan A2, jadi ia tetap berusaha bertanya pada mas-mas yang ngecek karcis tanpa menyadari bahwa jika dia bertanya "Mas, Cikini tuh stasiun ke berapa?" maka akan memperoleh jawaban "Abis Manggarai, Dek"

Akhirnya, A1 nanya ke mas-mas yang ngecek karcis.
A1 : Mas, kalo Cikini tuh stasiun ke berapa ya ?
Mas-mas Karcis : Wah, kurang tau tuh, Dek. Tapi abis Manggarai..
Lalu gw melihat ke arah A2 sambil setengan menunduk karena nahan ketawa, eh ternyata A2 juga sedang melihat ke arah gw, dan akhirnya gw dan A2 ketawa puas.

Karena belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, tak lama setelah itu, A1 kembali bertanya kepada mas-mas lain yang ngecek karcis. Dan tebak apa? Jawabannya persis sama kayak yang tadi. Gw dan A2 cuma bisa berkata "Sakaliiiiiiiiiiiiii" tanpa mengeluarkan suara dan dilanjutkan dengan ketawa ga berenti-berenti.

Setelah ketawa ga berenti, akhirnya kereta yang kita naikin sampai juga di stasiun Cikini. Gw berada di dekat A1 saat berjalan keluar stasiun, dan A2 rada terpisah dengan kita. Tanpa A2 sadari, ada sesosok makhluk yang berjalan di belakangnya saat keluar stasiun, dan makhluk itu adalah :
BENCONG
Oh my God..
Sumpah, tu becong enggak banget. Mukanya dempul abis, tapi jomplang sama kakinya yang buluan. Kayaknya dia suntik silikon. Trus juga pake hot pants dan tank top kalo ga salah warna pink. Euuuuh..

Dengan penuh perjuangan dan perasaan takut dicolek bencong, akhirnya kita berhasil naik metromini dan turun di TIM. Karena ke-son-an A1, kita sempet muter-muterin TIM buat nyari masjid karena adzan magrib udah berkumandang sejak kita di stasiun Cikini, eh ujung-ujungnya kita shalat di Planetarium.

Berhubung saat itu hari Sabtu, kita memakai batik Smansa yang ada tulisan gede di punggungnya, SMAN 1 Bogor. Batik tersebut menarik perhatian banyak orang di Cikini hari itu, termasuk menarik perhatian satpam yang ada di gedung Planetarium.
Satpam : SMAN 1 Bogor.. gimana pulangnya?
Gw : *dalem hati* Gimana aja boleeeeeeeeeeh
A2 : *perpaduan antara muka tengil dan jail* Ya naik kereta laaaah..


Seusai shalat, kita bertiga mencari seseorang dari HAAJ yang dikenal oleh A1. Setelah ketemu, lalu kita berempat (gw, A1, A2, dan kakak dari HAAJ) duduk dengan posisi gw di paling kiri, disusul A2 di sebelah kanan gw, lalu ada A1 di sebelah kanannya A2, dan ada kakak HAAJ duduk di seberang A1.

Saat A1 sedang mengutarakan tujuan kita bertiga datang ke HAAJ, tiba-tiba ada anak perempuan, kayaknya masih SMA, dia minta izin buat ngomong bentar sama orang yang sedang diajak ngobrol sama A1. Setelah diperbolehkan, inilah kata-kata yang meluncur dengan cepat dari mulutnya :
Kak, aku ngitung jamnya jadinya ngitung tanggalnya dulu, trus aku cari asensiorekta mataharinya berapa. Trus pake segitiga bola aku nyari panjang bayangannya trus nanti bisa ketemu deklinasinya berapa. Gitu aja ya?
Tanpa dikomando, dimulai dar A1 yang duduk paling kanan, disusul oleh A2, mereka berdua menengok ke kiri, ke arah gw, lalu bertanya :
Dil, lu ngerti apa yang diomongin ga?
Lalu gw jawab dengan cengiran dan anggukan kecil.
Dengan muka masih shock, mereka meluruskan kepala mereka kembali.

Setelah selesai mengutarakan niat kedatangan dan permohonan jadi pembicara, akhirnya kita bertiga pulang.
Selesai..
Boong, belom.

Di stasiun Cikini, kita bertiga berniat foto-foto sambil nungguin kereta. Kita berfoto menggunakan hape A1 yang pake self timer.

Hasilnya :
Dari 7 kali foto atau 8 kali ya? cuma ada satu yang bener.
Ckckckc..
Cobaan itu memang bisa berbentuk apapun..

Ga lama abis kita foto-foto, keretanya datang *hore*. Di gerbong yang kita tempatin tuh lumayan kosong, ga sampai 10 orang yang berdiri, dan kita bertiga termasuk orang yang berdiri.

Untuk membunuh waktu, kita bertiga memainkan permainan yang lagi hit di Smansa saat itu, yaitu Stupidity Question, bahasa Indonesia-nya yaitu games pembodohan.

Beuuuuuh..
Itu mantaps abisss..
Kita bikin heboh gerbong yang sunyi karena mayoritas penumpangnya udah pada kecapekan karena udah malem. Saking hebohnya, kita sampai diliatin seorang bapak yang lagi ngegendong anaknya.

Akhirnya, kita berpisah di stasiun dan pulang ke rumah masing-masing.

Tidak ada komentar: