Selasa, 17 Januari 2012

Aplikatif

Hari kedua di PMI, gw di-sms sama Nanda, Sang RT lorong 3B yang sekarang udah jadi lurah Rusun. Isi sms tersebut intinya menawarkan gw untuk jadi panitia olimpiade asrama bulan Februari. Gw yang udah punya sebuah agenda dahsyat di Februari merasa wajar ketika malah balik bertanya mengenai tanggal pelaksanaannya.

Ternyata olimpiade asrama tersebut dilaksanakan tanggal 18, 19, 28, dan 29. Oh maaaan, salah satu di antara tanggal 18 dan 19 akan ada LKBB dan masih belom ketahuan kapan persisnya Pandawa tampil.

Ternyata juga, per gedungnya itu cuma ada 4 orang perwakilan untuk jadi panitia.

Gw tanya ke Nanda, apakah memungkinkan jika gw ga ikut di salah satu antara tanggal 18 atau 19, dan ternyata ga boleh. Jika gw menjadi panitia maka gw harus stand by selama lomba berlangsung.

Sejujurnya gw mau ikutan dua-duanya..

Gw mikirin sampai hampir setengah jam di atas kasur dengan keadaan tangan yang nyut-nyutan dan pegal karena abis disuntik. Gw mikirin gimana caranya biar gw bisa jadi panitia sekaligus nonton LKBB.

Setelah hampir setengah jam berpikir, gw malah menemukan satu pertanyaan yang menegaskan bahwa gw sebenernya BODOH banget mikirin dua hal itu..

Untuk apa gw pernah dapet materi itu sekitar dua setengah tahun yang lalu? Untuk apa materi itu jika gw tetep berusaha menjalankan semuanya dengan porsi yang sama gilanya? Cuma untuk menuh-menuhin buku regen?

Pertanyaan yang gw temukan adalah..
Di mana PRIORITAS gw?

Detik pertama saat gw mendengar quote Monox yang..
"Kalo gw disuruh pilih antara Smansa dan kampus, ya gw pilih Smansa laaaah"
Itu gw sejujurnya pengen banget, someday, mengucapkan dengan ekspresi yang sama tengilnya.

Mungkin ini saatnya..
Saatnya menjadi aplikatif, sebenar-benarnya aplikatif..
*edisi bijak pasca recovery dari sakit*

Setelah nyut-nyutan di tangan gw ilang, gw langsung ambil hape dan sms Nanda yang intinya ngabarin bahwa gw ga bisa jadi panitia olimpiade olah raga itu karena ada suatu hal besar yang harus gw lakukan. Dari nada sms balesannya sih Nanda kayaknya rada ga ikhlas gitu gw ga bisa ikutan. Tapi yaaaa mau gimana lagi? Dia ga punya hak untuk memaksa gw :p

Bagi sebagian orang, mungkin ke depannya, apa-apa yang akan gw tolak untuk dilakukan bisa jadi termasuk ke dalam katagori aneh. Tapi sepertinya usaha gw untuk selalu terlihat profesional dan normal di mata orang-orang adalah salah satu penyebab kecil gw bisa sampe tepar dan dirawat gitu. Penyebab utamanya tetep izin Allah lewat perantara nyamuk Aedes aegepty.

Kembali pada quote everlasting yang sepertinya semua anak Smansa pernah dengar..
"Apakah ada yang belum shalat Subuh?"
Eh salah, maksud gw..
"Sampaikan salam kami kepada orang tua kalian!"
Itu juga salah, maksud gw..
"Jangan batasi diri, tapi tau batasan diri"

Berdasarkan pengalaman mengobservasi diri sendiri, kayaknya cara gw membatasi diri bukanlah dengan cara menjadi apatis dan gabut setelah mendapat amanah, tapi harus sekalian menolak amanah itu dari awal. Se-apatis-apatisnya dan se-gabut-gabutnya, gw biasanya ga bisa bahkan untuk memilih menjadi apatis.

Satu hal lagi yang mungkin bisa dijadikan pembenaran. Materi UPK Pandawa, amanah boleh ditolak kan? Dari pada ujung-ujungnya malah jadi ga maksimal.

Tidak ada komentar: