Kamis, 23 Agustus 2012

Renungan Penting di H-3 MPF

Sejujurnya, renungan ini merupakan renungan paling waras dari beberapa renungan waras yang pernah iseng-iseng gue pikirkan selepas Ramadhan tahun ini. Untuk menjaga kadar kewarasan (yang belum tentu bertahan lama), izinkan gue menulis post kali ini dengan kata ganti 'saya'.

Here we go..

Dengan sebuah niat suci nan mulia yang nyaris lebih suci dari tugas mulia Kera Sakti mengawal Tong Sam Chong untuk mencari kitab suci, yaitu menjalani MPF dengan sepenuh hati (karena percuma dijejali kata "positive thinking" selama SMA jika tidak bisa mengaplikasikannya), saya bertekad menyelesaikan seluruh penugasan individu sebelum hari ini berakhir *dan ternyata tidak berhasil*. Salah satu tugas yang belum saya kerjakan adalah membuat esai dengan tema teknologi pertanian untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Untuk meyakinkan diri bahwa harus serius, seringkali saya harus mulai mencemplungkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya siap benar-benar basah (ya, cara kerja otak saya memang seaneh itu). Akhirnya kemarin malam selepas shalat isya, sebelum online, saya mencari di tumpukan buku hasil pindahan dari asrama TPB dan dengan susah payah akhirnya menemukan buku yang saya cari. Sebuah buku hijau bergambar sawah, buku sakti yang seluruh anak IPB pasti punya, buku Pengantar Ilmu Pertanian. *saya sudah menghapus backsound 'We are the Champion' untuk menjaga keseriusan tulisan ini*

Dengan semangat 45, saya mulai membaca buku PIP tersebut di sela-sela online, terpotong tidur, disambung kembali pagi ini, dan khatam dengan gemilang sebelum shalat dhuha untuk keempat kalinya dalam setahun ini. Oke, saya tahu, mungkin banyak teman-teman saya yang bahkan buku PIP-nya telah lenyap ditelan keganasan kamar asrama mereka dahulu, atau bahkan mungkin ada alumni IPB yang telah diwisuda tanpa pernah sekalipun menamatkan buku PIP-nya.

Daaaaaaaaaaan..
Setelah membaca tulisan yang menyiratkan dengan kesuburan maha subur Pulau Jawa, saya setengah berfikir untuk serius mewujudkan seluruh lahan Pulau Jawa sebagai lahan pertanian. Pindahkan seluruh keribetan urusan pemerintahan di tanah lain di luar Pulau Jawa.

Setelah berfikir ualng dengan dengan otak yang sudah tidak kalap, sepertinya ide itu cukup gila bagi saya (bahkan mungkin sangat gila banget sekali bagi orang lain). Tapi tiba-tiba setelah teringat beberapa quote..
"Jangan batasi diri, tapi tahu batasan diri"
#bagi yang tahu quote ini dari mana silakan tersenyum (jika ingin), bagi yang tidak tahu silakan mencari tahu
"Mimpilah setinggi mungkin, ketika ternyata jatuh toh masih di antara bintang-bintang"
.Kadep Pendidikan 0,9.
"Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu".
.Sang Pemimpi.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri"
.QS Ar-Ra'd : 11.

Oke..
In the name of Allah, the Most Gracious, Most Merciful..

3 komentar:

outbound Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Bersabarlah dalam bertindak agar membuahkan hasil yang manis.,.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.