Kamis, 11 Oktober 2012

Hujan

Akhir-akhir ini Bogor mulai menunjukkan identitasnya sebagai Kota Hujan. Hujan berlangsung nyaris tiap hari. Bagi gue yang dari lahir udah di Bogor, defini hujan versi gue yaitu hujan gede banget banget banget disertai angin kencang yang sebelumnya diawali dengan angin sore yang bisa bikin galau. Kalau cuma gerimis kecil dan ga pake angin mah itu bukan hujan.

Ya Allah, makasih ya atas hujannya :)

Setiap hujan, selalu pengen pulang. Ngobrol berempat ngalor-ngidul. Makan mie kuah Ibu yang mahaenak, atau nasi goreng Ayah. Baca buku ga berenti di kamar karena ga memungkinkan untuk nonton atau ngenet.

Kalau hujan, jadi sering inget Gang Sekret. Sekret-sekret yang pada bocor saat hujan. Drainase ga bagus yang bikin selokan kecil di depan sekret selalu banjir tiap hujan dan bahkan pernah menghanyutkan sebelah sepatu Bram.

Kalau hujan sore hari, jadi inget astro. Besar kemungkinan malam hari akan cerah. Suasananya akan dingin-dingin galau, dan cocok banget dipakai untuk nonton bintang sambil berjaket di halaman rumah.

Kalau hujan siang atau sore pada hari Senin atau Kamis, jadi inget Pandawa. Anak Pandawa yang langsung cabut dari kelas masing-masing untuk keluar, ke Lapangan Depan, demi menurunkan bendara Merah Putih. Seringkali dimarahi satpam SMP karena menurunkan bendera SMP begitu saja, atuh lah kan ujaaaaaaan, benderanya harus diturunin.

Kalau hujan yang mau-mau-enggak-enggak selama hampir seharian, jadi inget NF. Hujan kayak gitu yang bikin kelas U5 ga pulang-pulang.

Hujan lainnya, ada hujan yang mengingatkan gue dengan masa SD. Berlarian dengan jas hujan atau tanpa payung sepanjang lingkar Kebun Raya, dari arah Gang Selot hingga BTM. Dijemput les oleh Ayah naik motor dan pulangnya lewat kebun karet di belakang kompleks.


Dulu, ada euforia dari dalam diri untuk menyambut hujan yang hampir selalu dinanti. Dan hujan menyadarkan bahwa kini ada saatnya menahan diri bahkan untuk sesuatu yang diharapkan.

Tidak ada komentar: