Minggu, 14 April 2013

Seni Menahan

Setelah gue belajar mata kuliah Pengembangan Sumberdaya Manusia di semester 4 ini, ada materi kuliah mengenai serangkaian tahap aktivitas sumber daya manusia yang di antaranya adalah menahan pegawai. Memiliki seorang ibu yang berprofesi sebagai dosen yang juga bekerja pada bidang Badan Pengembangan SDM Kelautan-Perikanan dan ayah yang pernah menjadi penyuluh membuat gue baru menyadari bahwa sejatinya materi mengenai menahan ini sudah diterapkan di rumah gue sejak jauh-jauh hari.

Gue yang --pernah dijebak sehingga-- hobi membaca difasilitasi sedemikian rupa dengan adanya langganan majalah mingguan sehingga betah di rumah. Setelah majalah mingguan dirasa terlalu tipis (sehingga tamat dalam sehari) maka keluarga gue mulai berlangganan koran demi memuaskan gue yang sangat cepat kehabisan bahan bacaan *padahal katanya dulu orang tua gue baca koran di tempat kerja masing-masing*. Sedangkan adik gue yang hobinya nonton sangat difasilitasi dengan orang tua gue yang ga mikir terlalu banyak untuk membelikan film-film dengan alur dan moral value yang bermutu. Kedua hal itu membuat gue dan adik gue menjadi anak rumahan, rumahan banget malah.

Ketika masa SMP, di mana sedang mewabahnya warnet, maka orang tua gue memasang internet di rumah dengan tujuan agar anak-anaknya ga perlu ke warnat untuk ngenet, cukup di rumah. Selain gue dan adik gue yang seneng karena ga perlu keluar uang untuk ke warnet, orang tua gue juga tenang karena bisa memantau apa-apa saja yang dilakukan oleh gue dan adik gue di internet.

Masa SMA, seiring dengan bertumpuknya tugas, korespondensi acara Smansa Day *iya, gue juga bingung kenapa sering jadi sekretaris*, regen, oprec, dan lain sebagainya, printer di rumah yang sudah tua akhirnya diperbaharui sehingga gue ga perlu jauh-jauh jika ingin mengeprint, cukup di rumah.

Seni menahan yang dilakukan di keluarga gue terus dikembangkan menjadi semakin mutakhir. Pada tahun lalu, ketika awal semster 2 didapatilah bahwa gue jadi jarang pulang karena terlalu asik dengan BEM TPB. Intensitas pulang gue ketika semester 1 bisa sampai 4-5 malam di rumah dalam seminggu (karena gabut banget ga ada kuliah Fisika dan Bahasa Inggris), sedangkan semester 2 paling sekitar 2-3 malam dalam seminggu, ditambah malam Minggu sering tidak di rumah karena acara BEM biasanya hari Minggu (jadinya harus stand by sejak pagi sehingga malesin dan ngeribetin Ayah kalo harus berangkat dari rumah). Seni menahan yang dilakukan orang tua gue untuk kasus kali ini terbilang cukup ekstrem, yaitu membelikan gue motor. Alhasil, jadilah gue hobi banget pulang-pergi karena punya motor.

Seiring waktu, kini adik gue udah memilih jurusan yang diminatinya untuk SNMPTN Undangan. Secara garis besar, jurusan yang diminati adik gue adalah jurusan IPS yang berkisar mulai dari Psikologi, Ekonomi, Manajemen, hingga Hubungan Internasional. Dengan kesadaran diri pula, adik gue tidak memilih UI untuk dijadikan tujuan, "Susah, Kak. Aku ga yakin bisa masuk kalo UI lewat Undangan mah. Lewat ujian tulis juga ga yakin-yakin amat..". Alhasil dua kampus pilihan adik gue adalah Unpad dan UGM.

Ayah dan Ibu gue bukan orang yang akan menyarankan ini-itu terkait pemilihan universitas karena takut anaknya memilih hanya karena tidak enak menolak saran orang tua. Tapi dari lubuk hati terdalam, sebenarnya gue tau bahwa Ibu sangat ingin adik gue masuk IPB karena satu dan lain hal.

Yap, seni menahan itu kini dilakukan lagi. Kemarin sore gue dan adik gue menerima sms yang berbunyi..
"Dil, Fa, di mana? Dila nginep di perumdos lagi ga malam ini? Sekarang di rumah sudah dipasang wifi lho. Seisi rumah dapat sinyalnya, tapi di kamar Dila rada lemah."

Tahukah apa pertanyaan adik gue ke gue kemarin malam?
"Kak, di IPB selain fakultasnya Kakak dan Ibu, ada fakultas apa lagi? Waktu itu Kakak pernah saranin ke aku apa aja sih? Ada FEM, SKPM, Arsitektur Lanskap? Trus apa lagi ya, Kak, yang kira-kira pas sama aku?"

Yah, Bu, seni menahan yang kali ini luar biasa sukses :)
Hehe :D

2 komentar:

izza mengatakan...

mbak sangat kagum dg seni menahan ala orangtua adek.
indah&elegan.
haha.
tapi,itu kira2 bakal berlangsung sampai kapan ya?
penasaran...^^

Dila.Dila mengatakan...

hihihi, kurang tau deh mbak, sekarang soalnya udah ada beberapa hal yang membuat dila dan adiknya dila ga bisa sepenuhnya tertahan di rumah..