Selasa, 05 November 2013

Berdoalah dengan Spesifik

Saya (tumben-tumbenan bikin post dengan kata ganti 'saya') hanya ingin menegaskan sekali lagi, berdoalah dengan spesifik. Semakin spesifik doa, maka besar kemungkinan ketika dikabulkan akan semakin mirip.

Pada suatu hari saat kelas XII, saya pernah mengikuti lomba Pesta Sains Nasional yang diadakan oleh FMIPA IPB dan diselenggarakan di Graha Widya Wisuda. Itu adalah kali pertama saya memasuki gedung Graha Widya Wisuda tersebut.

Sejak kali pertama kali menginjak GWW, saya sudah bertekad pokoknya ga mau tau saya harus pernah berada di atas panggung GWW.

Cetek. Secetek itu. Hanya berada di atas panggung GWW.

Akhirnya harapan saya terkabul untuk berada di atas panggung GWW yakni dalam rangka Farewell Party Asrama TPB angkatan 48. Bukan sebagai bintang tamu ataupun orang yang tampil, melainkan karena Ibu Lurah Rusunawa (yang kebetulah adalah teman selorong saya) nangis ketika memberikan kesan-kesan menjadi lurah selama setahun. Saya menaiki panggung GWW demi memberikan tisu kepada Bu Lurah.

Setelah sadar bahwa jika bermimpi dan berdoa itu harus spesifik, akhirnya saya memperbarui mimpi tentang panggung GWW itu dan terkabul beberapa bulan setelahnya, yaitu ketika koreografi MPKMB 49.
Yaaah, meskipun tetep aja cetek --"

Selanjutnya adalah mengenai kamar asrama. Sebagai orang Bogor, saya sudah banyak mendengar kakak-kakak kelas yang bercerita tentang kamar asrama. Mulai dari A1-A2-A3 yang pencahayaannya katanya kurang lah, A4 ada 5 lantai lah, jemuran A4 adanya di lantai 6 lah, A5 terpencil di deket FPIK-Fapet lah, krisis air lah, dispenser+seterika per lorong lah, dan sebagainya.

Sesungguhnya setelah tau bahwa saya masuk IPB, which is harus masuk asrama selama TPB, saya berdoa sungguh-sungguh mengenai kriteria spesifik kamar asrama yang saya inginkan. Saya berdoa agar saya masuk A4 (Rusunawa) karena pencahayaannya terang dan ga pernah kena krisis air (karena sumber airnya beda WTP dengan A1-A2-A3-C1-C2-C3), di lantai 3 atau 4 karena akses untuk menuju ke jemuran lantai atas dan lobi lantai bawah sama-sama jauhnya, serta kamar yang dekat dengan tempat galon karena saya sering tiba-tiba mau minuman hangat malam-malam.

Dan hasilnya adalah selama setahun saya memang berasrama di Rusunawa, lantai 3, kamar 318. Kamar 318 itu persis di sebelah Ruang Bersama yang di sana ada dispenser serta seterikaannya. Pas banget, persis dengan doa saya.

Kisah lain, ada teman sekelas saya yang ketika semester 1 itu IP-nya 4. Suatu hari dia bercerita ke saya bahwa dia pernah berdoa agar tidak mendapatkan satupun nilai C karena ingin lulus dengan cumlaude. Alhasil? Nilainya pada sebuah mata kuliah horor semester 3 adalah E.

Kalimat dia selanjutnya sungguh membuat saya terdiam dan malah menulis tulisan ini..
"Allah itu Maha Tahu, Dil. Meskipun sebenernya Allah udah tau apa yang kita pengen, tapi kita memang harus meluangkan waktu lebih banyak untuk minta secara spesifik. Gue mintanya cuma biar ga dapet C, nah bener kan gue ga dapet C. Gue ga secara spesifik minta biar bisa lulus cumlaude, di situ salahnya gue. Sebenernya Allah Maha Kaya, gue aja yang terlalu sombong dulu nganggep ga bakal dapet D atau E, mungkin kalo waktu itu gue mintanya lebih spesifik, bisa jadi gue ga ngulang."

Ya, benar..
Jika ada yang belum terkabul, mungkin doa-doa saya selama ini bisa jadi kurang spesifik.

Tidak ada komentar: