Jumat, 20 Desember 2013

Tak Mau Berkata Tidak (Part 1: Pulang-Pergi)

Ketika gue mulai kuliah, gue baru sebenar-benarnya sadar bahwa Ayah dan Ibu gue sudah tidak muda lagi. Mengingat salah satu teman gue pernah memasang status di fb yang berbunyi,
Kita boleh menikmati hidup di masa muda, tapi perlu kita ingat bahwa orang tua kita semakin menua.
mungkin redaksinya udah ga pas, tapi intinya begitu lah. Hal itu mengakibatkan gue bertekad untuk tidak berkata 'tidak' terhadap apapun yang dikatakan orang tua gue. Toh selama ini belum pernah terbukti ada orang tua yang mau menjerumuskan anak sendiri kan?

Gue memiliki seorang adik yang hanya berselisih umur 2 tahun 3 bulan. Adik gue ini sekarang kuliah di UNJ jurusan Ilmu Komunikasi Keluarga, dan yang membuat gue cukup ga percaya pada awalnya adalah ternyata jurusan dia itu masuk ke dalam Fakultas Teknik. Adik gue yang mengekos di sektar kampusnya (ajigile kalo dia sampe pulang pergi --") membuat gue seringkali merasa menjadi anak tunggal di rumah.

Semenjak adik gue SMA, Ayah dan Ibu menjadi semakin sering mengambil tugas dinas. Jika pada awalnya itu ada sejenis perjanjian bahwa Ayah ga akan dinas kalau Ibu dinas dan sebaliknya, semenjak adik gue SMA itu ga ada lagi. Mungkin salah satu alasannya adalah gue dan adik gue semakin jarang ada di rumah, jadinya meskipun Ayah-Ibu di rumahpun akan tetap jarang bertemu gue dan adik gue.

Kini ada tiga kondisi umum yang ada di rumah yaitu Ibu sendirian di rumah, atau Ayah sendiri di rumah, atau rumah kosong sama sekali. Hal itu mengakibatkan gue mau ga mau akan pulang.

Satu hal yang gue rasakan adalah Ibu semakin hari semakin tinggi kadar unyunya. Pernah suatu ketika gue sedang praktium dan berniat untuk nginep di kosan pada malam harinya, tetiba Ibu meng-sms,
Kak, pesawat Ayah delay. Baru sampai rumah nanti jam 2 pagi. Kakak malem ini pulang ya, temenin Ibu :)
Lengkap dengan emoticon senyum.
Unyu banget. Seberapa banyak sih anak perempuan umur 20 tahun yang di-sms kayak gitu sama ibunya :3

Ampun lah, gue ga mungkin bilang 'enggak' kalo gini caranya. Seketika gue langsung izin ke asprak, bilangnya sih mau shalat. At the end, gue memang shalat, tapi di kosan (hehe, ga salah kan gue? :p) untuk sekalian ngambil jaket dan bisa langsung pulang setelah praktikum.

Selama semester 5 ini gue sangat sering pulang ke rumah, bahkan udah 3 minggu terakhir gue menyentuh kosan baru satu kali untuk ngambil almamater karena akan digunakan di Sidang Umum BEM. Karena apa? Ya karena alasan-alasan seperti itu tadi.

Gue kira pada awalnya gue bisa ga perlu pulang jika Ayah dan Ibu ada di rumah. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Suatu hari gue pernah menerima sms yang berbunyi,
Kak, Ibu dan Ayah mumpung di rumah nih. Kakak pulang ya sore ini, biar malemnya kita bisa jalan-jalan bertiga.
Ga mungkin juga lah gue bilang 'enggak' kalo kayak gitu caranya.

Tanpa gue sadari gue jadi hobi banget pulang-pergi selama semester ini. Gue sangat senang dengan kegiatan pulang-pergi gue yang ini dalam arti yang sebenarnya. Dan ketika ada yang bertanya apakah gue capek, sesungguhnya gue ga merasa capek sama sekali, karena pada nyatanya bertemu rumah dan keluarga memang ga akan pernah bikin capek. Iya kan?

Tidak ada komentar: