Rabu, 29 Januari 2014

Fieldtrip Tinformers (Part 1 : Persiapan)

Pada makrab TIN pasca-UTS semester 4 lalu, Ari menyampkan beberapa patah kata yang intinya Tinformers harus mulai fokus mengurus Hagatri. Tak lupa Ari mengingatkan bahwa ada satu proker angkatan lagi yang masih harus dikerjakan selain Hagatri, yaitu fieldtrip.
Ari : Yak, dipersilakan bagi yang akan mengajukan nama untuk menjadi ketua panitia fieldtrip..
Dan ternyata Kopajo and friends sudah mempersipkan sebuh nama, dengan didahului aba-aba Tio (kalo ga salah), mereka meneriakan sebuan nama,
Yudhiiiiiiis!!
Yudhis aja sampe bengong gitu pas namanya disebut. Dikarenakan Yudhis memang termasuk golongan yang 'lurus', sepertinya ga ada salahnya kalo Yudhis jadi ketua panitia.

Mutlaklah sudah Yudhis jadi ketua fieldtrip.

Yudhis langsung gerak cepat, belum sampai 5 menit setelah dia terpilih udah kayak makanan jatoh aja belum 5 menit dia meminta gue untuk jadi sekretarisnya. Oh meeeen, muka dia waktu itu mengenaskan banget, ga tega gue nolaknya juga.

Okesip, lu sedang sial Dil. Belakangan gue tau kenapa Yudhis meminta gue karena gue saat itu duduknya cukup dekat dengan Yudhis.

Lalu Yudhis menanyakan kira-kira siapa yang cocok jadi bendahara, gue mengusulkan nama Ria. Ternyata Yudhis berpikiran sama, okelah, fixed Ria jadi bendahara, untung aja orangnya mau.

Orang-orang lainnya yang bergabung di kepanitian ada Irsan di acara, Tomo di logstran, Alfiyan jadi PJ travel, ada Novi di danus, Nechan-Camel duo humas kece, Harba as usual di bagian desain-dokumentasi, serta Hanif-Bagas-Hanum-Rahma sebagai bendahara di tiap golongan praktikum.

Fieldtrip ini menjadi kepanitiaan yang berkesan banget untuk gue. Gue yang seumur-umur kepanitiaan ga pernah mau jadi humas dan danus, di kepanitiaan  ini semuanya wajib jadi humas dan danus. Bener-bener break the limit.

Ngehubungin perusahaan pake teks contekan yang panjangnya sepanjang-panjang apa tau. Nomor kontak yang ga terdaftar. Salah sambung. Di-reject ketika mau follow up. Beuh itu rasanya cukup untuk bisa mengubah mood jadi panik seharian.

Ribetnya nyari travel. Nego lamaaaaaaaaaaaa banget. Dan akhirnya berjodohlah fieldtrip Tinformers ini dengan travel Lainuba.
*horeeeeeeeeeeeee

Karena sudah terbentuk pada April 2013, pada kenyataannya kertas bertuliskan 'Fieldtrip Tinformers, 2014' sudah bertengger sejak lama di dinding kamar gue dan seringkali diduakan  dengan berbagai hal lain. Diduakan dengan kertas 'RAF, 1-2 Juni', dengan kertas bertuliskan 'Reds Cup, September-Oktober', dengan 'AF, 1-6 Oktober', dengan FoY, dengan Komik BEM F, dengan TechnoF, dengan Falcon dan dengan-dengan yang lain.

Apalagi ketika musim Hagatri dan disambung AF. Itu adalah masa-masanya fokus panitia bener-bener minim di fieldtrip. Ga sempet kepikiran fieldtrip sama sekali. Naasnya itu adalah musim-musim perusahaan memberikan konfirmasi. Kalau ada panitia yang keluar kelas dengan degdegan untuk angkat telepon dan masuk kelas lagi dengan muka pias, rasanya gue suka ga mau mendengar percakapan apa yang berlangsung di telepon.

Ada lebih dari 5 perusahaan yang gagal karena follow up-nya kurang cepet. Ada saat di mana Yudhis meminta gue menggantikannya jadi 'ketua' sementara dan menjadi pembuat keputusan dengan segala pertimbangannya tanpa teman-teman panitia tau karena Yudhis sedang luar biasa repot oleh jobdesk tim kreatif Hagatri dan kabir publikasi AF.

Di masa-masa itu datanglah seorang malaikat. Mas Soni (owner Lainuba) mengutus salah satu staffnya untuk bener-bener ngebantuin fieldtrip Tinformers mulai dari nyari industri alternatif, bikin rute perjalanan yang efisien, nyari CP industri, ngehubungin dan nge-follow up industri, pokoknya semuamuanya, sampai-sampai tugas panitia cuma bikin surat-minta tanda tangan Bu Nastiti-scan surat-kirim hasil scan via email atau fax dari departemen. Malaikat tanpa sayap itu bernama Mbak Puri.

Betapa nama 'Mbak Puri' ini luar biasa sering muncul di rapat-rapat panitia. Betapa tanpa Mbak Puri ini entah fieldtrip akan jadi kayak apa. Betapa dari jauh hari sebelum gue bertatap muka dengannya, Mbak Puri sudah memiliki tempat sendiri di hati gue.
She's awesome :D

Ada saat di mana pergerakan Mbak Puri jauh lebih cepat daripada gue sehingga gue malu sendiri, gue yang panitia kok malah orang lain yang geraknya lebih cepat. Di saat itu gue membuat keputusan untuk memilih ga mengerjakan semuanya sendiri, gue lepas tangan dari Hagatri. Legenda gue cuma pernah ikut rakor Hagatri sekali doang itu udah jadi bahan bully di P1 dan di Mantri Hagatri. Kadiv Hagatri gue memelas banget waktu gue bilang harus ngurusin fieldtrip dan susah fokus untuk Hagatri,
Ojan : Lu ga sayang sama Tinformers? Nanti gimana nasib gue di rakor kalo lu ga ngurusin Mantri?
Gue : Maaf Jan, gue sayang sama Tinformers, ini sama-sama untuk Tinformers juga kok..
Ojan : Dil, gue ga akan rela melepas lu..
Gue : Lu masih punya sekretaris resmi, Jan. Tapi Salas dan Yudhis ya sekretaris resminya gue. Gue hanya rakyat biasa di Mantri, Jan.
Ojan : Enggak, Dil, lu bukan rakyat biasa. Jauh di lubuk hati gue yang terdalam, selama ini lu di Mantri udah bersikap sebagai Wakasekbenjerdiv..
Gue : Itu apaan, Jan?
Ojan : Itu singkatan dari wakil-sekretaris-bendahara-manajer-divisi, Dil..
Okesip.
Yak, percakapan antara gue dan Ojan memang semenjijikkan itu. Geli banget gue tiap inget. Itu dilakukan ketika sedang makan siang di Korfat, sepulang SG, pakai baju batik karena sedang musim Hagatri.

Mungkin juga salah satu alasan kenapa mbak Puri ada di bis 2 ketika fieldtrip adalah karena di bis 2 ada beberapa panitia yang pernah cukup berempong ria dengan Mbak Puri.

Ada hal kocak selama masa persiapan, yakni logo fieldtrip. Setelah beberapa kali berkorespondensi gue baru sadar bahwa ga ada stempel apapun di surat fieldtrip karena departemen ga punya stempel. Biasanya kalo bikin surat himpro setelah dari departemen akan ke dekanat sehingga akan ada stempel dekanat, tapi fieldtrip ini bukan proker himpro dan ga lewat dekanat jadinya surat ke industri itu polos banget ga ada stempel apapun, lembar pengesahan proposal juga sama polosnya.

Akhirnya diutuslah Harba untuk bikin desain dan mencetak stempel. Setelah stempelnya jadi, Harba menyerahkannya ke gue di akhir praktikum TBP, kebetulan jadwalnya bareng dan lab-nya sebelahan.
Harba : Nih, Dil, capnya.
Gue : Okesip makasih, Ba :D
Harba : Sama-sama, Dil :D
Shinta : Wah, itu cap fieldtrip? Lucuuuu :3
Delmar : Itu gambar apaan, Dil?
Gue : Itu tampak belakang bis, Mar.
Delmar : Lah, gue kira tivi --"
Shinta : Lah, gue kira juga tivi, Dil..
*Pukpuk Harba atas mis-interpretasi karyanya
Tampak belakang bis yang katanya kayak tivi

Ini penampakan desain stempelnya. Tapi ketika dijadikan stempel, warnanya cuma warna merah doang, jadi mungkin terlihat agak sedikit mirip dengan tivi.

Ada hal seru yang berhubungan dengan travel Lainuba, yaitu tentang teknis pembayaran. Mulai bulan Oktober hingga Desember panitia harus menyetorkan uang sebagai upaya pelunasan biaya. Hal serunya adalah karena jumlah yang disetorkan itu lumayan banyak, sampai-sampai tiap kali menyetor panitia yang cowok pada ikutan untuk mengawal Ria, heboh banget. Ditambah adanya Bagas dan Hanif yang kerjanya berlagak kayak snipper dan berjalan berputar-putar mengelilingi gue dan Ria di depan mesin ATM.

Hal lain yang ga kalah seru adalah Yudhis yang pernah debat sama Bu Nastiti pake bahasa Inggris. Suatu hari Rabu, Yudhis berniat meminta tanda tangan Bu Nastiti untuk proposal yang revisi kesekian kalinya.
Yudhis : Tadi gue ke ruangan Bu Nastiti, Dil. Trus gue basa-basi dan minta tanda tangan. Trus Bu Nastiti nanya pake bahasa Inggris, gue jawab pake bahasa Indonesia. Trus Bu Nastiti ngingetin gue bahwa hari ini hari Rabu, no english no service day. Mati sudaaaaah. Akhirnya gue debat tentang industri sama Bu Nastiti pake bahasa Inggris.
Okesip, pukpuk Yudhis.

Ada keribetan lainnya selama masa persiapan, yaitu tentang bis. Ampun lah gue udah males banget ngurusinnya sampai-sampai outsourcing panitia yaitu Muhai dan Ari untuk ngurusin bis beserta segala kerempongannya.

Kembali ke kerempongan yang berhubungan dengan fieldtrip. Setelah menghubungi perusahaan dan perusahaannya setuju, ga segampang itu langsung deal. Rata-rata perusahaan pada kaget begitu tau peserta fieldtrip sampai 110 orang. Kembali bermunculan perusahaan yang menolak karena ga sanggup menampung. Kembali mencari alternatif perusahaan. Kembali bikin surat. Kembali minta tanda tangan Bu Nastiti. Kembali debat kenapa harus ke perusahaan itu.

Sampai pada titik di mana perusahaan yang dikunjungi dinilai terlalu sedikit, tapi ga bisa nambah hari lagi karena travel udah menganggarkannya segitu, bisa nambah lagi biayanya sampai 150 ribu per orang kalau mau nambah hari. Susah payah akhirnya harus debat lagi dengan Bu Nastiti, dengan memilih bukan hari Rabu biar ga perlu pake bahasa Inggris, dengan menurunkan orang-orang yang dianggap mampu untuk debat yang urusan kayak gini *love you dah Irsan, Hanif, dan Nechan*, dengan manuver ngeles yang luar biasa, akhirnya disetujui bahwa akan ada 7 perusahaan yang akan dikunjungi dan 1 UKM terpilih karena semangat wirausaha dari pendirinya (udah maksa banget itu nyari alasannya kenapa kita harus ke UKM itu, kalau sampai ga disetujui, kata Bu Nastiti ga usah ke Bali sekalian karena cuma 1 industri doang).

Di minggu kedua UAS, Lainuba mengadakan test drive untuk memberitahu bis seperti apa yang akan dinaiki nantinya. Hal absurd yang terjadi adalah di bis test drive itu ada kecap di dalam cooling box-nya. Gue juga ga paham kenapa bisa ada kecap.

Ada teman-teman yang mudah mabuk perjalanan ikut test drive, tujuannya untuk mengetes sejauh mana dia mabok dan sebagainya. Alhasil, baru sampai Budi Agung udah ada yang mabok.
Haduuuh --"
Antara kasian dan pengen ketawa, atuh itu masih deket banget.

Di test drive itu gue pertama kalinya bertemu Mbak Puri :)

Hingga mendekati hari keberangkatan, akhirnya turunlah nama dari Departemen mengenai siapa dosen pendamping yang akan ikut, yaitu Pak Yoga dan Pak Arif. Beliau berdua meminta panitia untuk presentasi di Khayangan (sebutan utuk ruang dosen TIN karena terletak di lantai atas) ketika sedang minggu ujian. Satu hal, gue baru tau Khayangan punya ruang presentasi yang kece, haha.

Akhirnya, setelah keribetan seru yang menyertainya, fieldtrip Tinformers rencananya akan berlangsung dari 21-28 Januari 2014. Tanggal 21 ke industri plastik Titra Marta di Tangerang, tanggal 22 ke Sidomuncul di Semarang dan Dua Kelinci di Pati, tanggal 23 ke Kelola Mina Laut di Gresik dan Nestle di Pasuruan. Tanggal 24-26 weekend di Bali, tanggal 24 ke Sosro, tanggal 25 ke UKM Dewata, tanggal 26 siap-siap pulang karena tanggal 27 ada industri gula Madubaru (dulu namanya Madukismo) di Yogya, dan tanggal 28 sampai Bogor.

Hingga sesaat sebelum berangkat, ada beberapa hal yang selalu menjadi harapan dan doa panitia, semoga fieldtrip ini menambah wawasan, menjadi sarana refreshing, menjadi sarana bareng-bareng seangkatan (karena ga ada lagi momennya), dan berjalan sesuai rencana.

Aamiin :)

Tidak ada komentar: