Jumat, 14 Februari 2014

Fieldtrip Tinformers (Part 5 : Hari ke-7-8)

Setelah menghilang dari internet selama hampir 2 minggu, sekarang gue mau melanjutkan sekuel fieldtrip Tinformers yang sempat tertunda.

Hari ke-7
Pagi hari ini di bis 2 dimulai dengan kerusuhan makan pempek dari Tek Kom di malam sebelumnya. Pempeknya habis dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
*Maaf ya Ian lu ga dapet pempeknya, hehe.

Kami diterima oleh pihak Madubaru (dulu bernama Madukismo) jam 8 meskipun pada akhirnya baru tiba jam 9. PT Madubaru ini adalah pabrik gula. Menurut Prof Andi Hakim Nasution dalam buku PIP (Pengantar Ilmu Pertanian) yang gue khatamkan 3 kali ketika TPB dulu, kenapa orang Jawa suka makanan atau minuman manis? Karena di Jawa sono banyak pabrik gula. Kenapa banyak pabrik gula? Karena di sana banyak tanaman tebu. Kenapa banyak tanaman tebu? karena di sana jelas antara musim hujan dan musim kemarau sehingga tebu dapat tumbuh dengan baik, ga kayak di Bogor yang musim kemaraunya saja hujan.

Jadi tanaman tebu tersebut akan dibiarkan tumbuh selama musim hujan, dan akan dipanen ketika musim kemarau karena kandungan gulanya sudah 'terisi' selama musim kemarau *maaf kalau penjelasan abal gue ga memuaskan, nanti gue baca buku PIP lagi deh abis minggu ini*. Pemanenan biasanya berlangsung pada Maret hingga September. Ketika panen, sering ada upacara-upacara adat gitu. Sayangnya kami datang di Januari.
Yaudah, nanti kita semua PL di Madukismo aja biar bisa liat upacara adatnya. Kan lingkungan pasti ada, SDM bisa laaah, supply chain bisa, pengemasan bisa, capstone pasti banyak yang bisa dievaluasi, bioin bikin alkohol juga bisa.
.Bendahara kelas P2, ketika rapat panitia.

Di Madubaru ini ada hal unik, yaitu kereta untuk mengangkut tebu yang kini sudah dialihfungsikan menjadi kereta wisata.
Nechan : Kenapa gue pilih Madubaru, padahal pabrik gula di Jawa itu banyak, karena di Madubaru itu nanti kita bisa naik kereta wisata gitu untuk ke tempat pemrosesannya :3
Seluruh panitia : Horeeeeee *sambil tepuk tangan kayak bocah*
Camel : Tapi per orang bayar lagi 6000
Seluruh panitia : *langsung diem*
Ria : Tenaaaang, fieldtrip kita Insya Allah surplus kok..
Seluruh panitia : Yeeeeeeeeeeeee *tepuk tangan lagi*
Bocah semua emang ini panitianya, bingung gue juga --"
Pabrik gula yang ada kereta wisatanya kayaknya memang sudah melewati tahap analisis pengambilan keputusan yang baik.

Terdapat penjelasan mengenai kereta wisata ini dari pihak Madubaru yang zonk banget.
Pihak Madubaru : ..jadi kereta wisata ini bisa bergerak dengan kecepatan hingga 105 kilometer..
Anak TIN : *muka antusias*
Pihak Madubaru : ..per tahun..
Anak TIN : *antiklimaks*
--"

Dan bener aja ini kereta lambat banget. Diadu sama becak yang ngangkut penumpang banyak aja kalah. Yudhis sampai bisa sok-sok sinetron kayak ketinggalan kereta gitu. Ketika Yudhis lari-lari alay ngejar kereta, Ari meng-sms gue,
Dil, kayaknya Yudhis udah kebanyakan ngurusin fieldtrip deh, sampe gitu dia sekarang.


Yudhis yang sok-sok lari ketinggalan kereta, entah mengapa ditanggepin juga sama Delmar.

Ketika tiba di belokan, tetiba gue ingat One Day With Forkom ke Sukabumi naik kereta beserta games yang rusuh banget. Refleks gue foto ujung keretanya. Nechan aja sampai ketawa ga berhenti.

 Anak Forkom pasti ngerti euforia 'Foto Ujung Kereta' :D
Setiba di ruang penggudangan, ada seseorang yang sedang kambuh penyakitnya sepertinya dan bertanya dengan muka teramat serius ke gue,
Dil, gue mau nanya serius ke lu. Plis, liat gue, Dil. Gue dari dulu pengen nanyain ini ke lu. Sebenernya.. kenapa pabrik gula ga ada semutnya?
.F34110100.


Ternyata sesungguhnya semut tetap ada, tapi hanya di bagian bawah doang. Trus suhu gudang dibikin panas agar semut tidak betah. Begitu..

Seusai dari Madubaru, kami beranjak ke Malioboro, horeeeee.
Berkali-kali gue ke Yogyakarta, Malioboro selalu menyenangkan.
:)

Sebelum ke Malioboro, sempat singgah sejenak ke tempat produksi bakpia. Trus di tempat bakpia itu, gue dan Bela menemukan makanan masa kecil kami dulu, gula kelapa. Itu lho, kelapa dikeringkan, dikasih warna lucu, trus diberi taburan gula. Karena ternyata cukup mahal, akhirnya gue dan Bela beli itu hanya sekotak dan dimakan berdua. Di setiap gigitannya, kami cuma senyum-senyum najong doang berdua. Kalo kami cowok mungkin bisa ada indikasi disangka homo.

Di rumah gue sekarang sedang ada proker besar, yatu redokumentasi jejak-jejak masa lalu. Foto-foto ketika gue kecil di-repro. Klise dicetak dan foto di-scan. Mencari ke sepupu-sepupu dan mencetak 'lost moment' ketika gue dan adik gue SD-SMP. Dan sejenisnya.

Ketika dinas ke Yogya beberapa waktu lalu, Ibu pernah menemukan bingkai lucu di Mirota Batik dan akhirnya meminta gue untuk mencarikan bingkai sejenis. Alhasil gue masuk Mirota Batik dan seperti penyakit gue di tempat oleh-oleh sebelumnya, gue terjebak dan susah keluar.
Udah, Dil, lu istighfar trus ke kasir.
.Kabid 3 OSIS Avion.

Seusai dari Mirota, gue berniat mencari-cari baju atau kain batik karena dari dulu gue seneng sama batik, hehe. Bosan mencari batik, sempat berniat mencari Gedung Arsip dan ga nemu karena salah patokan, akhirnya gue kembali menjelajah toko batik.

Ketika keluar dari salah satu toko batik, gue bertemu dengan geng shaf belakang bis 2, Ari, Delmar, Ihsan, Dedi, dan Salman yang baru usai memutari daaerah keraton dengan delman. Gue ikut bergabung dan tak lama ada June dan Lela yang juga ikut bergabung.

Lumayan juga rasanya jalan bolak-balik di Malioboro. Hingga pada titik di mana June dan Lela terlihat lelah, lalu Ari berujar,
Lela, June, itu ada mall di dalem situ. Ke dalem aja, lumayan ngadem. Kita mau nyari gudeg dulu. Bis kita ada di ujung jalan ini ke arah sono.

Setelah June dan Lela sedikit menjauh, Ari melihat ke arah gue dan berkata sambil nyengir,
Lu ga akan bilang bahwa lu capek kan? Elaaaah, jalan segini cetek kan ya? Lari 30 puteran lapangan Smansa aja pernah kuat kan?
Emang dasar si Ari. Dia sering lupa gue bukan laki-laki. Pas hari Jumat di Bali aja gue disuruh ikut Jumatan sama dia --"

Setelah berusaha mencari gudeg dengan geng shaf belakang bis 2, tapi berakhir mengenaskan karena gudegnya belom dateng. Akhirnya beralih mencari lumpia. Di tukang lumpia bertemu Hanum dan Sendy yang akhirnya jadi ikutan memesan lumpia. Lumpianya enak, tapi harganya aneh. Harga berbeda tergantung isinya. Ada yang isi ayam, isi udang, isi hati *makna denotatif yak, jangan dibikin galau :p*, dan isi-isi lainnya. Ada yang harganya 2400, 2200, 2600, 2300, pokoknya angka ratusannya pecahan banget dah, sampe bingung-bingung deh itu nyari kembalian dan ngitungnya.

Waktu bergulir cepat dan kami harus segera kembali ke bis untuk menuju Bogor. Di perjalanan pulang, entah mengapa bis 2 nonton Paddle Pop Lion mengalahkan Shadow Master. Haduuuh, anak kuliahan filmnya gitu, setidaknya masih lebih baik lah daripada sinetron entah apa. Jadi sesungguhnya ketika di Puja Mandala, Ari membelikan bis 2 mini Conello dan berhadiah video itu, haha.

Ada rumah yang sama yang mengajarkan gue dan Ari bahwa sayang itu harus ditunjukkan, harus dibuktikan. Meski dengan sesederhana senyum, sesimpel peluk, sedekat sebotol 1.5 liter air putih seusai lari dan push up di siang hari bolong untuk 20 orang, semudah sms tausiyah, semudah sms tanya kabar dan memberi semangat, sesimpel memberi hadiah ketika bukan di hari ulang tahun, sesederhana membawa makanan dalam porsi besar agar dapat dimakan bersama, sesimpel menraktir tanpa ada event apapun.

Sederhana?
Karena cinta memang ga pernah ribet
:)

Perjalanan dihabiskan dengan nonton dan tidur. Upaya pem-bully-an tidak berlangsung seintens sebelumnya karena sudah ada beberapa target bully yang turun duluan di Yogya.

Salah satunya yang ditonton adalah film horor. Ampun sudaaaah. Tidur aja deh gue.


Hari ke-8
Aaaaaaaaaah, bakal ketemu Bogooooor :D
Gue udah kangen rumah.

Dari gue kecil, Ibu sering bilang bahwa gue pembawa hujan. Tempat yang gue datangi sering hujan. Pas gue masih kelas 4 SD ke Yogya, eh masa iya trus Yogya hujan deras. Akhir semster 4 lalu ke Surabaya juga hujan. Ke tempat yang jarang hujan aja bisa jadi hujan, haha, makanya Ibu sering bilang begitu.

Hawa-hawa hujan juga mengiringi ketika menuju Bogor. Demi menghindari Cipularang yang macet, kami lewat Cianjur, dan hujan sangat deras. Sampai Bogor selepas adzan dzuhur, hujan berangsur mereda. Gue, Dedi, Salman, dan Ari berniat turun di Laladon dan mencarter angkot 02 atau 03 untuk ke rumah. Tadinya mau sampai kampus, tapi kau mencarter angkot Kampus Dalam ongkosnya bisa jadi sangat lebih mahal karena kami keluar jauh dari trayek angkotnya (ketahuan deh berempat ini anak Bogor yang besar di angkot). Ternyata Bela mau ikut, dia akan turun di stasiun dan membawa seabrek barang gitu naik kereta. Kalau kata Bela sih jam segitu kereta sedang kosong, jadi bisa duduk dan ga ribet juga, gue sih percaya aja.

Emang dasar gue sedang beler, pokoknya ada seplastik oleh-oleh gue yang ga ketemu di bagasi (karena tumpukan kopernya yang masya Allah --") dan ada lagi yang ketinggalan di dalam bis. Akhirnya gue minta tolong amankan ke temen gue yang akan pulang naik kereta di sore harinya.

Di angkot, kebeleran kembali terjadi, as always. Sepanjang jalan kerjanya kami berempat (kecuali Bela) menghirup napas panjang untuk merasakan aroma seusai hujan, dan berkata pelan, "Hmmmmm.. Bogor.." Terus menerus bergantian kayak gitu sampai sebel sendiri mendengarnya, haha.

Setiba di rumah, gue langsung mandi, shalat, makan, dan tidur sampai sore.
Hehe.
Rasanya kasur sendiri itu beda dengan jok bis :P

Alhamdulillah
:)

Ya Allah, makasih ya atas 8 harinya
Makasih ya panitia atas kerja samanya
Makasih ya Tinformers atas hari-harinya yang menyenangkan
Semoga fieldtripnya bermanfaat
:)

Sayang Tinformers selalu,
Karena Allah

Regards,
Orang yang dinobatkan 'Teraktif' seangkatan
:D

Tidak ada komentar: