Sabtu, 21 Juni 2014

Dua Sisi dari Sebuah Kalimat Legendaris

Jangan batasi diri, tapi tahu batasan diri
Bagi yang pernah merasakan MOS Smansa mungkin udah pada hafal di luar kepala lah ya dengan kalimat legendaris itu.

Jangan batasi diri, tapi tahu batasan diri.
Dengan penekanan pada aspek 'Jangan batasi diri..', itu dapat membuat anak Smansa mengerjakan segala hal yang dia inginkan. Dampaknya, bisa jadi yang bersangkutan menjadi luar biasa sibuk. Hal yang kadang sering ga abis pikir adalah bahwa anak Smansa itu malah senang disuruh sibuk. Lebih baik disuruh sibuk daripada disuruh gabut.

Hingga tingkat 2 kemaren, gue masih begitu kok. Masih tidak membatasi diri. Segala-gala kepanitian tingkat fakultas gue kerjain. Dan gue bahagia-bahagia saja.

Padahal seharusnya di samping 'Jangan batasi diri' itu juga diikuti oleh 'tapi tahu batasan diri'.

Nah, di sini yang gue sering lupa.
Atau sering pura-pura lupa.
Atau mungkin, sering lebih memilih untuk lupa.

Jangan batasi diri, tapi tahu batasan diri.
Kini sepertinya gue akan lebih menitikberatkan pada aspek '..tapi tahu batasan diri'.

Simulasi kehidupan di Smansa itu terlalu ideal. Padahal, kenyataan di luar sana, dunia tidaklah seideal itu. Contoh simpelnya adalah ketika merencanakan rundown atau janjian. Smansa yang lokasinya memang setrategis itu, dekat stasiun, hanya sekali naik angkot untuk mencapai terminal, dan berada di tengah kota, menjadikan urusan rundown dan janjian ketika di Smansa itu hal mudah karena friksi seperti macet dapat diasumsikan minimal. Contoh lainnya mungkin finansial. Setengah populasi Smansa merupakan orang-orang yang keluarganya memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas sehingga dalam banyak kasus, ekonomi bukan hambatan yang berat ketika di Smansa.

Dan pada kenyataannya dunia itu jauh dari kondisi seideal itu.

Jangan batasi diri, tapi tahu batasan diri.
Maka dari itu, kini aspek '..tapi tahu batasan diri' menjadi hal yang sangat sering gue pertimbangkan terlebih dahulu.

Mungkin selama kealayan gue ikut segala jenis kepanitiaan itu gue berhasil ga dzolim dengan orang-orang lain yang kerja bareng gue. Akan tetapi tanpa disadari, gue bisa jadi dzolim dengan diri gue sendiri. Ada hak-hak atas diri gue yang harusnya gue penuhi tapi nyatanya terkadang tidak terpenuhi.

Selama periode 2013-2014 ini, jika tiap kali gue menolak 'ditawari' sesuatu itu dikonversi menjadi goceng, maka sekarang gue udah bisa makan Mc Flurry sampai kembung pakai uang gocengan itu tadi.

Sekitar setengah tahun lalu, kalau kata seseorang yang (mungkin) sering main ke blog ini mah,
Lu ga harus mengerjakan semua hal sendirian kok, Dil.
:)

Ketika dia mengatakan hal itu ke gue, itu membuat gue berpikir cukup lama. Berhari-hari. Hampir sebulan bahkan..
Dan pelajaran yang bisa gue ambil dari kalimat itu adalah,
Tentang belajar bilang 'tidak',
Tentang bukan semata-mata 'ya gue mah fine-fine aja kok',
Bukan juga tentang tega,
Tapi tentang lebih memikirkan mengenai prioritas, kapasitas, dan kapabilitas diri jika ingin melakukan sesuatu.

Gue tau bahwa kita mungkin sama-sama sudah khatam teori mengenai prioritas, kapasitas, kapabilitas, profesionalitas, dan lalalala. Tapi perlu sama-sama kita sadari juga bahwa berkata 'maaf' ketika berstatus sebagai anak SMA itu masih lebih mudah dimaafkan daripada berkata 'maaf' ketika sudah berstatus sebagai mahasiswa atau mungkin ketika berstatus pada jenjang yang lebih tinggi lagi di masyarakat.

Pada suatu hari nanti, akan ada pertanyaan apakah seluruh janji yang pernah kita iyakan itu telah tertunaikan dengan sempurna atau tidak. Termasuk mungkin janji kecil seperti membeli styrofoam dan kertas warna.

Jangan batasi diri, tapi tahu batasan diri.
Sehingga kini gue akan berulang kali berfikir untuk memutuskan perihal perkara 'iya' atau 'tidak' ini.

Toh pada nyatanya, fokus mengerjakan satu hal itu memang lebih ramah mental daripada mengerjakan beberapa hal sekaligus, sekalipun gue adalah orang yang mudah bosan dan randomnya minta ampun.

Mungkin tugas kita sekarang adalah sama-sama harus mengimplementasikan teori yang sudah kita khatamkan itu dengan lebih bijak lagi.
Gue juga masih abal kok ini..

And actually, post ini gue dedikasikan untuk kamu.
Iya, kamu :),
Para alumni Sekolah Kehidupan yang kadang suka lupa caranya dan ga enakan untuk berkata 'tidak'.
:)

Tidak ada komentar: