Minggu, 27 Juli 2014

Hisab, Rukyat, dan Perhitungan Penanggalan Hijriyah

Pertama-tama, gue akan mencoba menjelaskan dulu apa itu hisab dan rukyat. Simpelnya, hisab itu metode penentuan menggunakan perhitungan sedangkan rukyat itu melalui pengamatan.

Berikutnya akan gue ceritakan sedikit mengenai fenomena bulan. Bulan itu periode rotasinya sama dengan periode revolusinya mengelilingi bumi. Karena itu bulan tiap harinya akan terlambat muncul sekitar 50 menit karena kejar-kejaran antara rotasi dan revolusi itu tadi (mungkin untuk lebih jelasnya someday akan gue ceritakan di Astrofact, insya Allah).

Bulan dan benda langit lainnya akan terbit dari timur dan tenggelam di barat. Mengacu pada cerita awal gue mengenai bulan tadi, itu mengapa pengamatan di daerah yang lebih barat akan menghasilkan jarak bulan-matahari yang lebih besar dibanding pengamatan di timur.

Penanggalan hijriyah itu berdasarkan pergerakan bulan. Karena bulan baru muncul tiap 29,5 hari maka di penanggalan Hijriyah itu varaisi jumlah hari dalam setahun ada yang 29 dan ada pula yang 30.

Kalau kata Rasul mah,
Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari.
Makanya kalau galau mending 30 hari puasanya, hehe.

Indonesia berada 4 sampai 6 jam lebih awal daripada Saudi Arabia (tergantung dari WIB atau WIT)?
Heummmm, gue jadi kadang ragu.
Atau sebenarnya kita justru telat 18-20 jam?

Actually, fakta bahwa misal di Arab lebaran besok tidak bisa semata-mata dijadikan acuan bahwa kita juga lebaran besok. Kalau secara rukyat dan hilal belum memenuhi, trus kita bisa apa?

Instruksi Rasul adalah 'melihat hilal', itu berarti rukyat. Kenapa rukyat? Karena seeing is believing *ini gue sotoy*. Orang Arab jahiliyah kalau dikasih perhitungan mengenai pergerakan bulan-matahari-bumi setiap awal Ramadhan adanya sih akan malah ogah sepertinya *ini gue lebih sotoy*.

Rukyat kini sering dilakukan astronom (dan stakeholder seperti ulama serta kemeterian agama) menggunakan telesokop dan perangkat astronomi. Upaya rukyat terkadang menjadi seliwer karena bisa jadi kondisi langit tidak memungkinkan untuk pengamatan semisal mendung dan berawan.

Bisa juga karena 2 derajat itu tipis banget bro..
Kalau kata Stellarium (software astronomi) sih keadaan pas matahari terbenam tadi sore itu seperti ini.

Dengan setting tanpa atmosfer
Kalau jarak antargaris horizontal itu 10 derajat (itu ada keterangannya di sebelah kiri), maka jarak bulan-matahari di gambar itu bisa dikira-kira sendiri, udah lebih dari 2 derajat kok.

Pada kenyataannya kita hidup dengan atmosfer bro. Kalau ada atmosfer maka akan ada cahaya yang dibiaskan dan lalala lainnya sehingga akan jadi makin seliwer.

Begini penampakannya kalau ada atmosfer
Ga keliatan kan?
Makanya jangan suka sewot kalau di awal Ramadhan pemerintah belum mengumumkan kapan tarawih meskipun udah lewat dari jam 7 malem atau kalau di akhir Ramadhan pemerintah juga masih belum bisa mengumumkan kapan Idul Fitri.
Hehehe..

Mulai dari 2010, gue juga suka penasaran sendiri tentang hilal dan tiap tahun akhirnya gue cek di Stellarium. Jatohnya mungkin jadi hisab karena software itu (gue yakin) dibikin dengan perhitungan cermat dan lalalala lainnya.
Hehe..

Info lainnya..
Mengapa Muhammadiyah start Ramadhan-nya suka beda dengan pemerintah?
Jadi gini, Muhammadiyah memakai prinsip bahwa yang penting matahari sudah terbenam lebih dahulu daripada bulan.

Sedangkan pemerintah bersama menter-menteri agama lain di Brunei, Malaysia, dan Singapura (Sesama warga ASEAN masa iya lebarannya beda-beda? Makanya ngitungnya barengan, so swit kan :3 *apa lu teh --"*) menambahkan prinsip lain, yaitu..
Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2 derajat
(Wikipedia, 'Hisab dan Rukyat', diakses pada 27 Juli 2014 ba'da maghrib)
Kenapa ada penambahan 2 derajat segala? Eummm, biar lebih pasti aja sepertinya mah.

Ketika matahari sudah terbenam lebih dahulu daripada bulan padahal jaraknya belum 2 derajat, hal itu sudah bisa dikatakan bulan baru oleh Muhammadiyah. Sedangkan oleh pemerintah belum. Makanya start Ramadhan dan Syawal-nya suka beda-beda.

Semoga ga pada bingung lagi tentang hisab dan rukyat ini. Kalau ada yang salah mohon dikoreksi karena gue belum pernah memperoleh pendidikan formal terkait astronomi :)

Akhir kata,

Semoga meraih kemenangan :)

Tidak ada komentar: