Jumat, 04 Juli 2014

I'm a Five Days Worker [Keluarga Bungsu]

Selama PL ini gue tinggal di rumah tante gue. Tante gue ini merupakan adik bungsu dari Ibu yang 6 bersaudara. Suami dari tante gue juga merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Tante gue memiliki 2 orang anak, anak pertamanya laki-laki (naik) kelas 3 SMA dan anak terakhirnya perempuan (naik) kelas 3 SMP. Jadi sesungguhnya di rumah tante gue itu terdapat 3 orang anak bungsu, haha. Anak sulungnya cuma sepupu gue yang laki-laki doang.

Sepupu gue itu biasa dipanggil 'Kakak' dan 'Adek'. Dengan adanya gue, panggilan 'Kakak' jadi bertambah. Akan tetapi panggilan untuk gue akan ada embel-embelnya menjadi 'Kakak Dila'.

Karena masih liburan, selama gue PL dalam 2 minggu ini nyaris selalu diantar-jemput oleh Kakak. Kalau Kakak berhalangan mengantar-jemput, tenaaang, banyak supir yang akan mengantar gue ke factory. Supir angkot maksudnya. Setelah masuk sekolah minggu depan, rencananya gue akan berangkat bareng Adek ke sekolahnya dengan supir (yang kali ini bukan supir angkot) karena selama Adek libur sekolah supirnya juga libur nyupir, hehe.

Supir pribadi yang ganteng bersama teman sekamar selama 8 minggu
Karena sebagian besar personil keluarga tante gue ini adalah anak bungsu, selama ini Kakak selalu jadi minoritas. Setelah ada gue, dia jadi punya temen senasib yang sesama bukan anak bungsu.

Sedikit-banyak, cara berpikir anak bungsu dan anak sulung itu berbeda. Simpelnya, anak bungsu itu memiliki jejak yang dapat dicontoh, kakak-kakaknya. Sedangkan sebagai anak sulung, ya dialah yang harus membuat jejak itu. Sebagai anak bungsu, jika semisalnya mendapati kakaknya tidak sukses, yang dapat dia lakukan adalah cukup dengan tidak mengikuti jalan yang diambil kakaknya tersebut. Tapi kalau anak sulung, dia ga punya acuan untuk melakukan sesuatu dan dia harus memikirkan sendiri mau melakukan apa dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Anak bungsu juga sadar bahwa dia punya kakak yang bisa diandalkan (meskpiun mungkin pas masih kecil kerjanya berantem melulu). Sedangkan anak sulung sadar, dia punya adik yang kalau kenapa-napa bakal minta tolong apa-apa ke dia. Mungkin itu sebabnya mengapa sebagian (besar) anak sulung itu perfeksionis, bossy, ambisius, dan terlalu banyak memikirkan SWOT kalau mau melakukan sesuatu.

Kalau kata Ibu mah, anak bungsu itu, mau udah segede apa juga, mau udah punya anak 2 sekalipun, tetep aja judulnya anak bungsu. Haha. Hal ini didasari ketika gue diantar Ibu ke tempat tante gue untuk menyerahkan proposal PL ke kantor pusatnya di Jakarta, tante gue telah menunggu di lobby kantornya ketika mobil Ibu tiba, lalu tante gue lari-lari kecil ke arah mobil sambil memanggil-manggil manja,
"Ni Yayaaang.. Ni Yayaaang" *lengkap dengan muka unyu*
'Ni' itu maksudnya Uni (kakak perempuan dalam bahasa Minang) dan 'Yayang' itu panggilan sayang Ibu.
Ibu hanya bergeleng-geleng tak paham.

Begitulah. Kalau sedang pada ngebocah, sepupu gue yang perempuan, tante gue, dan om gue bisa ngebocah bertiga. Gue dan sepupu gue yang laki-laki cuma bisa menatap penuh tanya.

Berbeda dengan Kakak. Kalau di rumah gue, biasanya adek gue yang jadi minoritas karena dia anak bungsu sendiri. Gue anak sulung, Ayah anak kedua (tapi anak laki-laki pertama), dan Ibu anak ke-4 (tapi dari kecil dapet tanggung jawab khusus untuk mengasuh 2 adiknya). Adek gue selalu senang tiap main ke rumah tante gue ini, mungkin karena sebagian besar frekuensinya sama, sama-sama anak bungsu.

Gue jadi inget dengan salah satu kejadian ketika gue masih SMP. Suatu hari gue menginap di rumah tante gue ini. Hari sudah malam dan semua akan beranjak tidur, lalu tante gue berkata,
"Kak, cek semua gorden, jendela, sama pintu dulu ya sebelum tidur"
Sepupu gue yang ketika itu masih kecil, masih SD, bertanya balik,
"Kok aku siiih? Kenapa bukan Ayah?"
Dan tante gue dengan jahilnya menjawab,
"Kan Kakak anak pertama. Nih ya, Ibu, Ayah, sama Adek kan anak terakhir. Kak Dila juga anak pertama, tapi kan Kak Dila perempuan."
Akhirnya sepupu gue itu mengecek semua gorden, pintu, dan jendela meskipun meminta gue untuk menemani. Gue ngakak lah itu..

Om-tante gue (khususnya dua orang adik-nya Ibu beserta pacarnya yang kini jadi suami/istrinya) adalah termasuk yang mengurus gue bangetbanget ketika gue masih bayi, secara gue cucu kedua dari pihak keluarga Ibu yang cuma 3 bulan lebih muda dari sepupu gue yang cucu pertama. Jadi gue adalah the one and only yang bisa dimain-mainin ketika masih bayi dulu.

Kalau gue denger cerita-ceritanya, first salary om-tante gue yang dua orang adiknya Ibu itu diserahkan ke kakek-nenek gue, lalu second and the next-nya dipakai untuk membeli peralatan bayi. Untuk gue. Unyunyunyunyuuuuu :3

Karena anak bungsu, tante gue itu memang unyu sekali. Dengan sok-sok cadel, kadang memanggil gue 'Kakak Tila'. Dan beberapa hari lalu gue dibully dengan rusuh di grup wassap keluarga.
Terbully (part 1)

Terbully (part 2 dan sebenarnya masih berlanjut)

Kutapi syalala dan onde-onde itu apa?
Yaaya dan nenek awa itu apa?
Itu adalah sebagian kelucuan kelakukan gue ketika kecil dahulu.

Aib Masa lalu gue ketika bayi memang sudah menjadi konsumsi keluarga besar secara luas.
-_____-"
Ibu bahkan pernah berkata bahwa dengan senang hati beliau akan menceritakan segala kelakuan gue ketika masih kecil ke suami gue kelak.
 
Ya begitulah, 8 minggu ini akan menjadi 8 minggu tersendiri yang menyenangkan untuk gue. Terlebih karena Ibu akan menjadi luar biasa unyu dan kangen-kangen gitu padahal baru 3 atau 4 hari ga ketemu. Juga karena tante gue akan menge-share di grup wassap keluarga kalau gue sedang melakukan hal-hal aneh seperti mainin kucing atau nonton film kartun Disney (padahal film kartun Disney mah memang terlalu sayang untuk dilewatkan) sehingga intensitas berkomunikasi dengan keluarga besar menjadi luar biasa sering.

Hal yang paling menyenangkannya adalah di rumah tante gue ini ada buku seabrek-abrek yang menunggu untuk dihabiskan dalam 8 minggu ini. Kalau kata dua orang berbeda di dua kali ulang tahun yang berbeda mah, intinya, jangan lupa baca buku.
:)

Tidak ada komentar: