Kamis, 11 Desember 2014

Terapi

Sejak kecil gue sangat sering batuk di musim hujan. Sekalinya sudah batuk, beeeeuh, jangan ditanya, bisa lamaaaaaaaaaaaa sekali. Lama dalam durasi tiap batuknya, juga lama sembuhnya.

Penyakit batuk gue juga gejalanya tak kunjung berubah. Sampai gue hapal. Awalnya biasanya radang hingga badan demam, lalu berubah menjadi batuk kering. Jika ketika dalam fase batuk kering ini sudah dapat sembuh, syukurlah. Akan tetapi, ketika tak kunjung sembuh, silakan tunggu dalam hitungan hari sebelum berubah jadi batuk berdahak yang luar biasa tak enak.

Orang serumah sudah hapal, ketika gue sedang batuk parah maka jangan diajak ngobrol. Jika gue sedikit 'nakal' dan berbicara sekalimat, maka batuknya dapat mencapai setengah menit. Jika gue makan gorengan, jangan ditanya, efek sampingnya akan terasa dalam waktu kurang dari dua menit. Saking parahnya batuk gue, seringkali gue semalaman sulit tidur dan berulang kali terbangun karena batuk.

Akhirnya Ayah berteori agar gue melakukan sesuatu yang membutuhkan pengaturan pernafasan secara sadar sehingga batuk gue dapat mereda. Kelas 2 SD gue diikutkan les bela diri yang ada latihan pernafasan-pernafasan gitu. And it works.

Berhubung gue sejak kecil sudah terlalu petakilan, Ibu akhirnya menghentikan les bela diri gue. Dan gue kembali dilanda batuk di musim hujan berikutnya. Berkali-kali disuruh mencoba menerapkan ilmu pernafasan yang sudah pernah didapatkan ketika les bela diri lalu, tapi sudah keburu lupa, haha.

Kelas 4 SD, Ibu menemukan les lain yang mengatur agar gue bernafas secara sadar. Tentu saja lebih anggun ketimbang bela diri, les renang, and it works.

Satu hal yang menyebalkan adalah ketika sedang berenang dan tetiba ada hasrat ingin batuk *karena hasrat ingin batuk ini tidak dapat hilang secara total* *orang yang pernah batuk pasti paham, terkadang kita ingin batuk tanpa alasan yang jelas*. Hal yang paling sering terjadi dengan gue adalah tersedak air kolam. Les renang ini hanya bertahan kurang dari setengah tahun sebelum akhirnya berhenti.

Musim hujan berikutnya, ketika kelas 5 SD, gue kembali batuk-batuk dengan heboh dan orang tua gue sudah habis akal mengenai bagaimana caranya agar batuk gue berhenti *yakali masa tiap batuk gue disuruh berenang --"*. Lalu gue disuruh ikut les vokal. And it works. It really works.

Ketika bernyanyi maka gue akan bernafas secara sadar. Sadar mengenai kapan gue menghirup nafas dan sadar untuk membuangnya perlahan. Lagu favorit gue juga hampir selalu lagu dengan tempo lambat agar pernafasan gue teratur. Selama sekitar 10 tahun terakhir, itulah terapi yang paling efektif untuk batuk gue.

Pada dasarnya seluruh kesembuhan adalah anugerah Allah, tapi Allah tak akan mengubah suatu kaum apabila kaum tersebut tidak mengubahnya.
Am I right?

Kasus batuk terakhir?
Pekan terakhir November lalu, hari Minggu gue demam, Senin dan Selasa gue batuk kering. Hari Rabu sudah bermetamorfosis menjadi batuk berdahak yang luar biasa melelahkan hingga bahkan gue hanya senyum-senyum najong saja selama menjadi asisten praktikum. Hari Rabu itu pula ada tawaran untuk latihan vokal grup tampil di closing Together hari Jumat. Kamis dan Jumat gue batuk-batuk hebat sepanjang hari. Kamis dan Jumat juga gue latihan nyanyi nyaris tanpa ada batuk selama sesi latihan. Sabtu sembuh.
:)
Alhamdulillah

Lain kali ketika menemukan gue sedang batuk-batuk hebat, silakan putar lagu yang easy listening dengan tempo lambat dan biarkan gue bernyanyi.
:D

Terkadang gue merasa bahwa batuk ini adalah salah satu cara agar gue sedikit lebih 'sadar' dalam melakukan sesuatu, simpelnya saja seperti bernafas dengan sadar. Setelah gue pernah membaca buku milik Ibu, ternyata melakukan sesuatu tanpa sadar (seperti refleks dan di alam bawah sadar) itu melemahkan fungsi otak karena impuls bergerak tidak melewati otak melainkan ke sumsum tulang belakang.

Pernah suatu hari gue sempat hampir menyerempet angkot dan diteriaki oleh supir angkotnya,
"Woy, Mbak, ga pake otak ya lu!!"
Dan gue menjawab dengan teriak yang tak kalah kencangnya,
"Iya!! Gue pake sumsum tulang belakang!!"

Juga mungkin bernafas secara sadar ini merupakan cara untuk lebih 'sadar', agar berfikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Jangan asal.

Terkadang semua hal itu memang tergantung bagaimana cara memaknainya.
:)

Tidak ada komentar: