Minggu, 26 April 2015

Galur Murni

Galur murni sebenarnya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keturunan dengan induk yang memiliki genotipe homozigot. Kalau di biologi SMP itu kita biasa mengerjakan contoh soal mengenai buncis hijau berbulir besar-besar yang disilangkan dengan buncis kuning berbiji kisut lalu dicari bagaimana perbandingan hasil generasi keduanya melalui Hukum Mendel.
#cmiiw

Kalau di Smansa, galur murni adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana (alumni) Smansa menikah dengan sesama (alumni) Smansa. Padahal kalau di wikipedia, disebutkan bahwa galur murni adalah istilah yang umum digunakan untuk tanaman. Apakah kini anak Smansa sudah pada memiliki dinding sel dan pindah kingdom jadi plantae? Entahlah..

Ketika masih SMA dahulu, gue mengakui bahwa gue menganggap aa-teteh yang galur murni itu keren. Kenapa topik galur murni ini bisa ngehitz banget ya? Heummmm, mungkin karena kultur Smansa yang gitu. Mungkin Smansaisme itu ada, berupa rasa sayang dan bangga yang berlebih terhadap Smansa. Tenang aja, gue juga terjangkit paham itu kok.

Gimana sih rasanya punya teman untuk mengarungi kehidupan dan menyempurnakan setengah agama yang sevisi dan sepandangan dalam menghadapi dan memaknai hidup? Nah mungkin itu alasannya mengapa galur murni selalu jadi berita yang ngehitz binggow.
*Lama ga ngeblog, gaya menulis menjadi alay*

Tidak memungkiri bahwa ketika SMA dulu gue juga pernah ingin galur murni suatu hari nanti. Tapi setelah lulus, setelah kuliah, setelah bertemu dengan lingkaran-lingkaran baru, setelah bertemu dengan banyak orang baru yang non-Smansa, ternyata orang keren di dunia ini ada banyak coy. Serius gue.

Bukan tidak mungkin aa-teteh yang galur murni memilih untuk menjadi galur murni karena memang tidak menemukan orang lain yang keren. Atau tidak merasa menemukan. Atau bisa jadi karena memang tidak berusaha menemukan. Bisa jadi karena menggunakan kaca mata kuda dan menganggap yang Smansa itu keren padahal ada banyak orang di luar Smansa yang juga keren.

Untuk yang masih mengharapkan galur murni lintas angkatan, padahal orang yang bersangkutan entahlah keadaan hatinya seperti apa, percayalah bahwa dunia tidak selesai jika tidak galur murni.
Huehehuehehe
*Orang yang bersangkutan pasti mengerti bahwa paragraf ini ditulis untuk dia*

Ngomong-ngomong tentang galur murni, beberapa waktu setelah beredar broadcast menikahnya Teh Arum dan Kang Fahmi di liburan kenaikan tingkat tahun lalu, ada seorang yang meng-sms gue dengan sapaan,
Dilayangpengengalurmurni
Hahahahahahasem
-___-"

Dibalik gue yang sudah tidak tertarik-tertarik amat dengan galur murni, sepertinya ada faktor lain yang menyebabkannya yakni lingkungan tempat di mana kita masuk. Kondisi gue yang dahulu memang dicemplungkan untuk ke kampus menjadikan gue bertemu dengan sangat banyak orang keren yang mampu membuat galur murni menjadi tidak lagi terasa terlalu menarik.

Inti besar dari tulisan tak jelas kali ini adalah,
Perbaiki niat. Jangan menutup mata (dan) hati. Jadilah orang baik, selalu memperbaiki diri, bergaullah dengan orang baik juga, Insya Allah referensi kita mengenai 'orang baik' akan menjadi baik. Juga jadilah orang keren, berusaha untuk menjadi keren di suatu bidang terlepas dari apapun definisi keren itu sendiri.

Kalau kata Kurniawan Gunadi mah (gue yakin redaksinya bukan begini tapi intinya kurang-lebih sama, toh mengutip kan tidak harus menjiplak persis kata-kata yang ada),
Orang-orang dengan tujuan yang sama memiliki probabilitas bertemu di perjalanan.

Kalau kata seorang adik gue di PSDM BEM KM mah,
Berterimakasihlah pada ia yang pernah kamu kagumi, karenanya kamu pernah berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik.
.Silmi Nurul 'Adilah.

Salam piss, love, and gahul
Tertanda,
Mantan PGM (Pengharap Galur Murni)
:*

Tidak ada komentar: