Rabu, 03 Agustus 2016

#MatahariAkar [3776 MDPL Part 1]

3776 MDPL itu apa?
3776 MDPL adalah tingginya Gunung Fuji (for short, let's call Gunung Fuji as Fujisan). Fujisan adalah gunung tertinggi di Jepang.

Kenapa part 1?
Karena sedang membuat rencana untuk mendaki Fujisan lagi di pertengahan bulan Agustus. Mohon doa semoga turun izin dari orang tua, aamiin *bisaan emang, sekalian minta didoain*. For short, let's call 'mendaki Fuji' as 'Fujinobori'; Nobori, noboru (登る) artinya mendaki.

Ceritanya, pada 15-16 Juli 2016 lalu gue Fujinobori bersama Kak Fima dan seorang teman kantornya. Beberapa hari setelahnya mereka berdua akan pulang ke negara masing-masing, sehingga yang paling memungkinkan adalah tanggal 15-16 Juli itu.

Kak Fima ceritanya sangat ingin Fujinobori. Ya cetakan WL lah ya, nurun ke gue. Kak Fima baru ke Jepang September lalu sedangkan Fujisan dibuka untuk dinaiki hanya di bulan Juli dan Agustus. Mungkin Fujisan hanya dibuka dua bulan per tahun dengan alasan keamanan pendaki. Suhu summer di gunung ketika malam hari aja ga beda jauh dengan winter Tokyo di malam hari. Kalau Fujinobori di musim dingin, idih, ngebayangin dinginnya aja gue ogah. Akhir pekan pertama di bulan Juli masih Ramadhan, adapun weekend keduanya gue udah ada agenda nonton kembang api, maka dari itulah akhirnya baru naik di tanggal 15 dan 16 Juli.

Sebelum naik, banyak instruksi yang diberikan Kak Fima ke gue via chat messanger, ya instruksi biar olah raga lah, nyari barang ini-itu lah untuk pendakian, diskusi waktu dan tempat ketemuan lah, dan banyak lainnya. Sebelum naik, kami sempet ketemuan lagi untuk nyari headlamp untuk kami dan sepatu outdoor untuk Kak Fima. Ujung-ujungnya gue malah naksir carrier ukuran imut, hanya 28 liter. Warna biru, cantik, suka banget sama birunya. Pas-pasan tas ransel biru gue baru putus talinya ketika Ramadhan. Huffft, perempuan mah emang suka gitu. Niat ga belanja, ujung-ujungnya belanja paling heboh. Haha..

Perlengkapan naik; Pooh dan beruang tidak termasuk

Kalau dengar-dengar cerita dan baca blog orang tentang Fujinobori, katanya ga sesulit naik gunung di Indonesia, maka dari itulah carrier imut itu gue beli. Tujuan pertama adalah untuk Fujinobori. Tujuan keduanya untuk bawa barang pas pulang ke Indonesia, tujuan ketiganya adalah untuk piknik dan jalan-jalan yang cuma sehari-dua-hari saja.

Winter coat gue sudah dibawa pulang oleh Ibu ketika Mei lalu sempat main ke Tokyo, alhasil gue meminjam winter coat Mbak Indri untuk naik ini. Jas hujan juga minjem seorang senpai lain. Headlamp dibeliin. Sepatu running udah beli beberapa bulan lalu. Carrier baru beli 4 hari sebelum naik.
Kelakuan banget kan..
-______-

Gula merah yang ga abis-abis karena cuma sekali-kalinya bikin bubur kacang hijau, dibuang sayang, mau dipakai masak tapi skill masaknya cupu, akhirnya gue bawa naik gunung untuk asupan energi sederhana yang mudah dicerna. Bawa juga madu hasil shopping di toko 100円. Pengalaman naik Gede tahun lalu bawa air 3 liter, sehingga Fujinobori ini gue juga bawa air 3 liter.

Tanggal 15 Juli lalu, gue langsung ngacir setelah pulang kuliah jam 14,30 JST. Sambil ngebut naik sepeda dari Koganei ke Fuchu, gue beli onigiri 8 biji (buat makan malam dan besok paginya), dan langsung mandi setelah sampai kamar. Setelahnya langsung ngacir lagi ke stasiun untuk naik kereta ke tempat ketemuan dengan Kak Fima, Stasiun Gotemba. Jauh bro, sekitar 85 km, 2 jam lebih naik kereta. Akhirnya gue berhasil sampai Gotemba jam 17.55 dan jadwal keberangkatan bis ke Fujisan adalah jam 18.10. Kalau kata gmaps, dari kamar ke Gotemba rutenya seperti ini..

Mayan uga~

Di Fujisan ada 10 pos, dengan pos 1 di bawah dan pos 10 adalah di puncak. Kendaraan dapat naik hingga pos 5. Setelah pos 5, silakan berjalan kaki sampai atas. Bis yang kami naiki itu adalah bis menuju pos 5. Kalau naiknya paket wisata Fujisan, maka bis akan menjelajah dari pos 1 hingga pos 5.

Menurut cerita mbak-mbak pemandu paket wisata (inipun gue diceritain senpai yang pernah ikutan paket wisata), pos 1 hingga 10 posisinya ditentukan dari kebutuhan lentera selama pendakian. Ketika lentera pertama habis, maka di situlah posisi pos 1. Lalu ganti lentera, ketika lentera kedua habis maka di situlah pos 2, dan begitu seterusnya.

Kami bertiga mulai naik lewat dari jam 7an malam dengan headlamp menyala. Selangkah demi selangkah. Beberapa kali gue dan DJ (temannya Kak Fima) mendapati Kak Fima tertinggal jauh di belakang. Padahal saat itu belum juga sampai pos 6. Setelah beberapa kali fase menunggu-ketemu-ketinggalan lagi-nunggu lagi-dst, akhirnya kami dapati cahaya lampu di kejauhan, tak lama kemudian muncul Kak Fima.

Pada ketertinggalan yang kesekian kali itu, dengan muka pucat Kak Fima bilang bahwa dia ga kuat. Sudah lama ga latihan fisik dengan keras, efek terlalu lama duduk di balik meja kerja. Nungguin dirinya hanya akan bikin langkah kami jadi luar biasa terhambat. The most surprising thing is Kak Fima bilang bahwa kami ga perlu nungguin dia. Kak Fima ga akan sampai puncak, mungkin akan berhenti di pos terdekat, pos 6. Kalau kuat akan lanjut ke pos 7 besok paginya. Nanti setelah pagi kami akan kontak-kontakan kembali untuk ketemuan pulang.

Di situ gue diem.
Ga percaya aja..
Seorang kakak kelas yang gue tau banget deh 10 tahun lalu beliau keadaan fisiknya kayak apa, bisa jalan kaki 4 jam nyaris tanpa berenti, sekarang bahkan belum sampai 2 jam berjalan dengan trek agak terjal sudah ga kuat.

Setelahnya ada prosesi yang agak panjang dan cukup drama. Kak Fima personally menitipkan gue ke DJ dan minta maaf ke gue karena ga bisa ikutan sampai atas.
"She's supposed to be my responsibility. Could you please take her care for me?"

Gue susah buat percaya dengan orang lain. Tapi di WL gue menemukan beberapa alumni yang bisa gue percaya sepenuhnya dan Kak Fima termasuk di dalamnya. Bahkan saking percayanya sehingga gue berani diajak naik gunung paling tinggi di negara orang sekalipun. Adapun di Pandawa, gue hanya menemukan seorang Purna yang bisa gue percaya sepenuhnya.

Setelah pernyataan bahwa Kak Fima ga bisa ikut ke puncak Fuji, ga berarti rasa percaya gue hilang. Bahkan sama sekali ga berkurang. Berhentinya Kak Fima di tengah jalan membuat gue kembali belajar mengenai quote legendaris Smansa,
Jangan batasi diri, tapi tau batasan diri
Bentuk nyatanya ternyata benar-benar sangat banyak jenisnya.

Kami (gue dan DJ) akhirnya tiba di puncak setelah matahari terbit. Kurang lebih 12 jam waktu yang kami butuhkan untuk naik. Seharusnya ga selama itu, tapi kami sempat tidur di beberapa pos karena capek. Persis sebelum naik, kami punya aktivitas masing-masing dan memang belum ada yang sempat boci.

Kalau baca di blog orang-orang, rata-rata hanya membutuhkan 6-8 jam aja untuk naik dari pos 5 sampai puncak. Salah satu hal yang menghambat langkah gue (DJ selalu di depan gue dan kayaknya dia ga capek-capek deh) sepertinya adalah air 3 liter.
((TIGA KILO MEEEEN))

Berhubung ini summer, subuh itu mulai jam 3an dan matahari terbit sekitar jam 5.

Lovely dawn

Matahari terbit ketika kami ada di pos 8. Kata tulisan di sekitar situ sih 3300 MDPL. Hal yang menakjubkan di pos 8 adalah ada wifi.
((3300 MDPL DAN ADA WIFI))
Negara macam apa iniiiii -____-

Matahari terbit di gunung tertinggi di negara matahari terbit

Ketika matahari terbit, untuk pertama kalinya setelah sembilan-setengah-bulan hidup di Jepang, gue melihat orang jepang menyembah matahari terbit. Setelah matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan sampai puncak. Ceritanya, gue lupa foto-foto selama di puncak karena ngantuk, jadi foto-fotonya agak ga jelas apa..

Di dekat kawah di puncak gunung

Monumen yang sepertinya bilang bahwa sudah berada di atas Fujisan

Sempat-sempatnya berpose sebelum turun

Kalau kata teman gue sih ini busa cucian mesin cuci~

Peta puncak Fujisan

Bendera negara penjajah di puncak gunung tertinggi di negaranya

Di tiap pos pemberhentian ada toilet tapi sumfeh ga recommended banget. Ada klosetnya, tapi ga ada air di klosetnya, adanya jerami doang jauh di bawah. Bahkan ketika melongokkan kepala ke atas kloset aja jeraminya keliatan. Jadi semua hasil buangan manusia itu akan jatuh ke atas jerami dan periodically jeraminya akan dibakar.

Katanyamah eco friendly. Tetep aja geleuh --"
Gue yang jarang geleuh aja sampai bisa geleuh --"

Satu hal lagi, toilet di sini bayar, men. Pertama kalinya nemu toilet bayar di Jepang ya di gunung ini. Toilet di seluruh pos bayar 200 yen, kecuali di puncak, 300 yen.

Setelah duduk cantik dan tidur (lagi) di puncak, kami memutuskan untuk turun gunung. Ada rute yang dibuat khusus untuk turun. Medan yang berpasir-kerikil-baru membuat sesi turun gunung menjadi agak sedikit lebih mudah, meskipun sakit di ujung-ujung jari kaki karena digunakan untuk mengerem. Gunung yang sekian lama didaki itu dituruni hanya kurang dari 3 jam.

Rute turunnya hanya serosotan doang di pasir, haha. Seru deh. Tapi tetep aja kalau apes bisa menginjak batu dan kerikil dan jatuh guling-guling. Gue berkali-kali kesandung, telapak tangan udah sempet berdarah, dan mayan juga sih sakitnya setelah nyaris guling-guling.

Akhirnya di pos 5 kembali ketemu dengan Kak Fima, lalu kami bergerak menuju halte bis untuk naik bis yang akan membawa kami menuju Stasiun Gotemba. Dari Stasiun Gotemba, selanjutnya gue pulang menuju rumah.

Muka gosong di stasiun Gotemba, menuju Tokyo >.<

Menurut pemaparan teman yang pernah naik Mahameru, sepertinya medan Fuji ga beda jauh dengan Mahameru. Berpasir, berkerikil, curam. Di bagian nyaris puncak, medannya berbatu-batu besar. Ada saat-saat di mana gue harus memanjat untuk bisa naik, ga kuat kalau hanya mengandalkan kaki saja, tangan juga harus ikutan. Ada juga saat di mana angin bertiup luar biasa kencang sehingga rasanya takut terbang kebawa angin. Jangankan takut terbawa angin, rasanya bergeser sejauh tiga puluh senti  dari tempat kaki berpijak aja udah takut, itu berarti sudah keluar dari rute dan medan curam berpasir bisa bikin kita menggelinding ke bawah dengan mudahnya.

Ada suatu masa di tengah malam itu gue dan DJ tersesat. Seriusan rasanya mau nangis. Di kejauhan melihat lampu dari headlamp yang berbaris rapi, itu rute yang benar. Lalu kami berusaha melewati hamparan pasir dengan kemiringan curam untuk sampai ke tempat yang benar. Saat itu, jalan tegap aja ga bisa, harus setengah merangkak saking curamnya. Setiap melangkah, merosot ke bawah 10-20 cm karena pasir semua dan curam. Jarak 100 meter aja gue tempuh lebih dari 5 menit.
Alhamdulillah terlewati..

Kecuramannya segini, cuy ~


----------


Penutup
Tanggal 13-14 Agustus 2016 mendatang, PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia di Jepang) akan mengadakan Fujinobori dan gue direkrut jadi panitia. Sebenarnya ajakan Fujinobori PMIJ ini udah ada sejak lama. Bahkan ketika Ibu datang di bulan Mei itu gue sudah sempat melempar isu mengenai naik Fuji. Ketika itu responnya positif. Jadi sebenarnya persiapan naik gue ini adalah untuk naik bersama PMIJ, hehe. Makanya ini sedang dalam proses izin lagi, semoga boleh lagi.
Aamiin..

Kesempatan kedua, men. Kesempatan kedua tidak akan menjadi lebih baik kalau kita menjalankan kesempatan tersebut dengan cara yang sama dengan kesempatan pertama. Maka dari itu gue belajar banyak dari kesempatan pertama Fujinobori. Jangan lupa bawa sunblock, karena muka sudah kebakar di penanjakan yang pertama.

Naik di pertengahan Agustus nanti gue ga akan bawa air 3 liter, mungkin hanya akan 1,5 atau 2 liter aja. Ga akan bawa baju ganti sepasang dan baju naik sepasang, gue bawa baju untuk naik aja karena nanti ganti pas pulang akan pakai baju pas berangkat aja (asalkan bajunya cuma dipakai dari kamar ke tempat janjian lalu ke pos 5, jadi masih belum kotor). Berat men.

Semoga kesempatan kedua Fujibonori ini bisa lebih baik, lebih ringan, lebih praktis, lebih gesit, apalagi ditambah tanggung jawab tambahan bawa rombongan naik sekitar 10 orang.
Aamiin.


----------


After Credit
Kalau ada yang nanya mengapa gue mau-maunya naik gunung yang sama untuk kali kedua dalam jangka waktu cuma selisih 4 pekan, gue punya jawabannya.

Naik gunung mengajarkan gue untuk well prepared dalam melakukan sesuatu. Gue juga belajar untuk memilah-milah, mana yang penting serta perlu dibawa, dan mana yang enggak, terbukti dari banyaknya benda di Fujinobori pertama yang akhirnya akan gue tinggalkan ketika naik untuk kedua kalinya.

Naik gunung juga mengajarkan gue untuk menghadapi masalah. Fujisan kalau dilihat dari jauh rasanya tinggi. Pake banget. Tapi ternyata kalau dijalani, selangkah demi selangkah, asalkan ga berhenti, akan ada saatnya berhasil didaki. Masalah dalam hidup juga seperti itu kan? Di awal kelihatan besar dan rumit, tapi setelah diuraikan satu-satu, dikerjakan sedikit-sedikit, akhirnya selesai juga.

Melakukan sesuatu lebih dari sekali (apalagi dalam jangka waktu yang cukup dekat) membuat gue mengukur diri, sebenarnya gue belajar apa sih dari kegiatan yang pertama? Apakah gue melakukan kesalahan yang sama? Kebodohan yang sama? Keteledoran yang sama? Apakah gue melakukannya dengan lebih cerdas? Lebih efisien? Lebih baik? Lebih bertanggung jawab? Lebih ga manja? Lebih ga ngerepotin?

Manusia yang beruntung adalah yang lebih baik daripada masa lalunya kan?
Naiknya gue sampai dua kali ini adalah untuk melihat,
Apakah gue sudah jadi orang yang beruntung?
Semoga sudah
:)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

2 komentar:

Denialization mengatakan...

Keyeennn~ gua aja yg dari 2 tahun lalu pengen bikin tulisan naik fuji belum bikin2 juga wkwk
Btw kalo gua ga salah, mendaki (noboru,nobori) itu 登る kanjinya. Bunyinya sama sih dengan 上がる(noboru, agaru), tapi "nuansa"nya lebih pas 登る hehe
cmiiw imho

Dila.Dila mengatakan...

Sudah diedit deeeeen
Nuhuuuuuun :)