Senin, 08 Agustus 2016

Percaya

Kisah perizinan ke Ibu-Ayah terkait Fujinobori jilid 1 lalu sebenarnya lumayan panjang. Jauh sebelum Kak Fima ngajak, sudah ada teman PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang) yang mengajak Fujinobori. Mei lalu ketika Ibu datang, gue melancarkan misi rahasia untuk izin naik. Mulai nyebut-nyebut tentang Fuji cuma bisa didaki ketika summer lah, naiknya ga serepot naik di Indonesia lah, dan lain sebagainya. Respon saat itu adalah positif.

Ketika diajak Kak Fima sepekan sebelum naik, gue kembali izin ke orang rumah mengenai Fujinobori ini. Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan, ada satu pertanyaan pamungkas yang membuat gue jadi banyak berpikir setelahnya,
"Kakak percaya dengan kakak kelasnya?"
Setelah gue jawab 'Percaya', lalu turunlah izin.

Selanjutnya gue jadi mikir banyak tentang hal 'percaya' ini. Urusan naik gunung yang 'cuma' dua hari aja gue harus percaya dulu dengan orangnya, baru diizinkan. Apalagi urusan separuh agama yang kontraknya langsung dengan Allah, disaksikan malaikat, dan berlaku sepanjang zaman? Bahkan setelah nanti penanggalan udah ga ada sekalipun, kontraknya masih berlaku.

Semoga nanti ketika gue mengajukan suatu nama, jika selanjutnya ada pertanyaan,
"Kakak percaya dengan Si Ehem?"
Setelah gue jawab 'Percaya', lalu turunlah izin.


Keterangan:
Di keluarga besar dari Ibu, para om dan tante gue sering menggoda generasi gue dan sepupu gue dengan menyebut 'Si Ehem' untuk membicarakan mengenai kecengan/pacar/teman-tapi-mesra/dan sejenisnya. 'Si Ehem' sendiri diambil dari bunyi berdehem yang sering dipakau untuk ngeledek-ledekin hal yang berbau sejenis itu.

Tidak ada komentar: